
Zia masih bermanja-manja dengan Om Bryan yang memperlakukannya penuh gai'rah cinta dan kasih sayang hingga membuatnya lupa jika hari sudah semakin sore.
Sedangkan semua orang sudah khawatir dan berpencar mencari keberadaannya, Ponselnya yang sejak tadi bergetar juga tidak terdengar oleh Zia yang tengah di mabuk cinta oleh sang duda.
Hingga teriakan seseorang memanggil namanya membuat Zia dan Om Bryan terperanjat kaget.
"Ziaaaa..." suara itu semakin mendekat sehingga membuat Zia dan Om Bryan panik.
"Ziaaa..."
"Bagaimana ini Om?"
Om Bryan memegangi kepalanya dan berfikir apa yang harus Ia lakukan.
Faraz mendekati gubuk di mana Zia dan Om Bryan berada di sana.
Kemudian Faraz melihat ke bagian depan gubuk dan terkejut melihat Zia berada di sana.
"Zia!"
"Zia, Kamu tertidur di sini?" Faraz membangunkan Zia yang pura-pura tidur di dalam gubuk.
"Papa." Zia mengusap-usap mata layaknya orang mengantuk.
"Bisa-bisanya sih tidur di sini, Kalau Papa nggak nemuin gimana?"
"Tadi Zia kecapean Pa, Terus Zia tiduran, Eh malah tidur beneran."
"Ya udah, Pulang yuk dah sore."
Zia menganggukan kepalanya dan melirik ke belakang.
Om Bryan yang bersembunyi di samping gubuk mengacungkan jempol dan menganggukkan kepalanya.
Setelah melihat Zia dan Faraz pergi, Om Bryan duduk bersandar di gubuk. Ia terseyum menggelengkan kepalanya mengingat apa yang Ia dan Zia lakukanlah demi bisa bertemu secara sembunyi-sembunyi.
"Aku tidak pernah menyangka di usia ku sekarang akan berpetualang dalam cinta seperti ini lagi." ucapnya terseyum.
•••
Malam Hari 🌙
Faraz dan keluarga sampai di hotel.
Karena sudah merasa kelelahan Mereka langsung ke kamar masing-masing.
Tak terkecuali Zayn yang masuk ke kamar Zayd.
Hal itu membuat Zayd tidak bisa menemui Alea yang sudah seharian ini Ia tinggalkan.
Zayd mengambil ponselnya dan pergi ke kamar mandi untuk menanyakan kabarnya.
Baru saja pintu kamar mandi tertutup, Pintu kamar Mereka ada yang mengetuknya.
Zayn beranjak dari duduknya dan membuka pintunya. Belum sempat Ia melihat jelas wajahnya, Gadis itu langsung memeluknya.
"Tuan Zayd..."
Zayn merasa bingung mendapat pelukan tiba-tiba dari gadis yang tidak Ia kenal.
"Aku sangat bosan sekali seharian hanya di kamar, Anda bilang..."
"Aleaaa..."
"Zayd, Dia...?" Alea mendekati Zayd mencari jawaban atas kebingungannya.
"Keluarlah, Nanti Aku jelaskan." Zayd mendorong pelan tubuh Alea keluar dari kamarnya.
Zayn terseyum smirk menatap saudara kembarnya yang terlihat salah tingkah.
"Aku bisa jelaskan," ucap Zayd yang merasa takut jika Zayn akan mengadukan pada Papanya.
"Aku tidak perlu penjelasan."
"Zayn..."
"Yang Aku bilang pada Papa benar kan? Kamu tidak jauh beda dengan ku,"
"Kita beda Zayn,"
"Ya, Bedanya Aku terang-terangan kamu kucing-kucingan, Dasar munafik!"
"Zayn! Aku hanya berhubungan dengan satu wanita, sedangkan Kamu tak terhitung berapa banyak wanita yang sudah Kau kencani dan Aku menyembunyikan kekasihku bukan karena Aku munafik, Tapi Aku memiliki alasan untuk itu!"
Zayn melepaskan genggaman tangan Zayd yang mencengkeram kerah pakaiannya kemudian menjauh dengan tatapan penuh kekesalan.
Zayd memejamkan mata sembari menjambak rambutnya dengan kasar, Ia benar-benar merasa cemas jika dalam rasa iri di hati Zayn membuat Zayn mengadukannya kepada Papanya.
•••
Di kamarnya Zia masih melakukan panggilan telepon dengan Om Bryan.
Mereka sepakat untuk tidak bertemu malam ini karena hari ini sudah cukup menguji adrenalin Mereka.
Mereka terus tertawa mengingat saat Faraz menemukan Zia di gubuk itu dengan pura-pura tidur sesuai ide yang Om Bryan berikan.
"Sungguh menegangkan bukan?" tanya Om Bryan tertawa.
"Sangat, Ha-ha-ha, Dasar Om gadun."
"Dasar gadis nakal, Sukanya Om-om."
Mereka kembali tertawa merasakan cinta yang terasa begitu menggebu-gebu di hatinya.
"Zia ku..."
"Iih ngaku-ngaku."
"Memang gak mau di akuin?"
"Ya mau lah."
"Cepat selesaikan sekolah mu, Om sudah tidak sabar menikahi mu."
Zia terseyum bahagia mendengarnya.
Rasanya Zia juga sudah tidak sabar ingin terus bersama Om Bryan tanpa kucing-kucingan dari semua orang.
Bersambung...
📌 Mohon maaf untuk curhatan yang kemarin, Saya bukan tidak menerima kritik, Tapi saya berharap Anda memberi kritik dengan bijak,
Saya manusia biasa dan memiliki mood berubah-ubah, Jadi kalau sudah lelah menghadapi dunia nyata, Lelah berfikir untuk nulis melihat komentar yang begitu kasar membuat hati saya benar-benar merasa sakit. Bahkan saya pernah berhenti nulis hampir 6 bulan karena komentar pedas di tulisan pertama Saya.
Saya pemula dan tidak menguasai cara menulis yang baik dan benar, jadi mohon maaf, Mohon di maklumi jika masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan 🙏