Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Murka


"Tuan Malvin? Bukankah seharusnya Anda melakukan meeting?"


tanya Alia sembari melangkah mundur.


"Ya, Tapi Aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini." ucap Malvin melangkah maju.


"Apa maksud Anda? dan apa yang akan Anda lakukan?" Alia terus melangkah mundur hingga menabrak ranjangnya.


Malvin menyeringai lebar melihat Alia sudah berdiri tepat di depan ranjangnya.


"Ini sudah lebih dari 15 menit, Tapi tidak ada satupun yang datang, Kemana Tuan Malvin?" tanya Faraz yang semakin merasakan kegelisahan dalam hatinya.


"Ada berkas yang tertinggal, Jadi Tuan Malvin pergi mengambilnya."


"Kenapa tidak Anda yang mengambil, Anda kan sekertarisnya, Jika begini Kalian membuang banyak waktuku," ucap Faraz sedikit kesal.


Perasaannya benar-benar cemas, Perasaan yang sebelumnya tidak pernah rasakan, Perasaan yang Ia sendiri tidak tau alasannya.


"Saya ingin mengambilnya, Tapi Tuan Malvin bilang, Beliau yang ingin mengambilnya sendiri."


"Lalu dimana Tuan Handoko?"


"Akan Saya telfon."


"Jangan mendekat!" ucap Alia mengarahkan ke-lima jarinya pada Malvin. Namun Malvin tidak peduli dan terus mendekati Alia.


Alia yang melihat ranjang di belakangnya berusaha lari menjauh dari sana. Namun Malvin langsung menangkapnya dan melempar ke ranjang dengan kasar.


Faraz yang merasakan getaran ponselnya, Mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat panggilan dari nomer Alia.


"Sayang..." sapa Faraz.


"lepaskan-lepaskan!" Faraz begitu tersentak mendengar suara Alia yang terdengar begitu ketakutan, Faraz kembali mengingat Keluhan Alia tenang Malvin tadi pagi sebelum Ia berangkat.


Tanpa berpikir lagi Faraz langsung berlari meninggalkan cafe.


"Tuan Faraz... Tuan Faraz..." pekik Silvi yang di abaikan oleh Faraz.


Dengan stengah berbaring Alia bertumpu pada kedua sikunya yang tanpa Ia sadari telah menekan ponsel hingga menghubungi nomor Faraz. Dengan rasa takut yang teramat sangat, Alia terus beringsut mundur saat Malvin mulai merangkak ke atas ranjang dan siap menerkamnya.


"Sayang... Maafkan Aku, Seharusnya Aku tidak menganggap remeh kecurigaan mu," ucap Faraz dalam perjalanan menuju hotel dengan kecepatan tinggi.


"Berhentilah menghindar Sayang, Aku tidak akan menyakitimu jika Kamu tidak melawanku," ucap Malvin yang semakin merapat ke tubuh Alia.


"Aku akan memberi kenikmatan jauh melebihi yang Suami mu berikan,"


Malvin tepat berada di depan kedua kaki Alia yang terlipat."


"Brengsek Kau Malvin!" pekik Faraz yang mendengar apa yang terjadi di kamar hotelnya.


Baru saja Malvin ingin menyibak kedua kaki Alia, Dengan cepat Alia menendang Malvin tepat di wajahnya.


"Aooowwhhh..." Malvin terduduk sembari memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah.


Kesempatan ini di ambil oleh Alia dengan berlari ke arah pintu. Namun baru saja Alia membuka pintu, Malvin kembali menangkap tubuh Alia.


"Lepasin-lepasin!" sekuat tenaga Alia mencengkeram tangan Malvin yang berada di perutnya hingga menancapkan kukunya yang membuat Malvin melepaskannya.


"Aowwhhh..." Malvin mengusap-usap tangannya yang terasa begitu perih karena cengkraman kuku Alia. Belum sempat Malvin bergerak dari posisinya, Alia kembali melempar vas bunga ke arahnya.


"PRAAAANNNNNNKKKKKKK...!!!" Malvin berhasil menghindar hingga tidak terkena pecahan Vas bunga tersebut. Namun hal ini membuat Malvin naik pitam dan tidak lagi bersikap lembut pada Alia.


Sedangkan Alia terus melemparnya dengan apapun yang bisa Ia jangkau.


"CUKUP... PLAAKKKKK!!!" Dengan sangat kuat Malvin menampar Alia hingga Alia tersungkur dan kepalanya terbentur ujung meja.


Bukannya merasa iba, Malvin berjongkok di sebelah Alia dan menarik rambut bagian belakangnya dengan kasar.


"Aku sudah mengatakan padamu, Aku tidak akan menyakitimu jika Kau tidak melawanku, Tapi Kau..!!!" Malvin tidak meneruskan ucapannya.


Dengan kesal Malvin membopong tubuh Alia dan kembali melempar ke ranjangnya dengan kasar.


Alia yang sudah merasa sangat lemah hanya bisa melihat Malvin yang terlihat menyeringai sambil membuka sabuk celananya.


Alia memejamkan mata menjatuhkan buliran bening hingga memasuki telinganya.


Malvin merangkak naik di atas tubuh Alia, Dengan tatapan ib'lis nya Ia mulai menyingkap dress yang Alia kenakan. Namun belum sempat Ia melihat apa yang menjadi tujuannya. Faraz menarik lehernya dengan sabuk milik Malvin yang Malvin lempar ke lantai.


"Berrraninya Kau menyentuh istriku?" Faraz menarik mundur Malvin sembari memperkuat lilitan sabuknya pada lehernya hingga Malvin membelalakkan matanya.


Dengan kesadaran yang hampir hilang, Alia menatap sayu Faraz yang tengah menghajar Malvin tanpa ampun.


"Apa Kau tidak menyayangi hidupmu sampai berrrani menyentuh istriku?!" Faraz menendang Malvin dan memecutnya secara membabi buta, Kemarahan yang luar biasa dari Faraz tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Malvin untuk melawannya. Bahkan Faraz memecut alat vitalnya yang tidak lagi mengenakan underware.


"Kau tidak akan bisa lagi menyalurkan hasrat bintangmu!"


"Ampun Tuan Faraz, Ampun!" Malvin yang menahan sakit teramat sangat bersimpuh memohon pengampunan pada Faraz.


Tapi sedikitpun Faraz tidak merasa iba padanya.


Melihat istrinya yang sudah lemah tak berdaya membuatnya kembali menghajarnya.


"Aku akan memberimu pelajaran hingga Kau tidak akan berrrani lagi menatap wanita manapun di Dunia ini!" Faraz menyeret kerah baju Malvin ke luar.


"Tuan Faraz, Ampun Aku Tuan, Aku akan melakukan apapun tapi jangan lakukan ini padaku." ucap Malvin mengiba.


"Kenapa? Apa Kau masih memiliki rasa malu?" Faraz kembali menyeretnya. Namun begitu sampai di pintu. Polisi telah tiba di sana.


Malvin yang sudah babak belur bersimbah darah di wajahnya hanya bisa menunduk dan menutupi bagian vitalnya menggunakan kedua tangannya.


"Biarkan Kami yang menangani." ucap salah seorang polisi.


"Biarkan Aku mengaraknya terlebih dahulu, Dia harus menyesali perbuatannya karena telah berani menyentuh Istri Faraz Shehzad Shaikh."


"Mohon maaf Tuan, Tapi Anda sudah cukup menghajarnya, Jika Anda mengaraknya juga, Saya rasa bukan hanya tersangka saja yang malu, Tapi orang-orang yang melihatnya akan mencari tau siapa korbannya, Bukankah ini berdampak buruk buat istri Anda?"


Faraz yang mendengarnya melepaskan Malvin.


Kemudian masuk kedalam dan melemparkan celana Malvin ke wajahnya.


"Jebloskan Dia ke penjara!" tegas Faraz.


"Siap Tuan."


Faraz menghelai nafas panjang sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


Bersambung...


APAKAH KALIAN MERASA TEGANG SEPERTI AUTHOR YANG BEGITU TEGANG SEPANJANG MENGETIK BAB INI?