Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Peringatan Untuk David


Setelah Mengantar Zayn ke Pesantren, Malam harinya Faraz langsung kembali ke Jakarta, Begitu sampai di ibu kota sekitar pukul 06.30 wib, Sebelum pulang ke rumah Faraz mampir ke sekolahan David untuk memberinya peringatan karena telah melecehkan putri kesayangannya.


Karena hari yang masih pagi, Sekolah masih nampak sepi, Hanya beberapa siswa yang sudah datang.


Faraz menurunkan jok mobilnya untuk sedikit membaringkan tubuhnya yang terasa begitu pegal setelah semalaman perjalanan jauh.


Setelah menunggu waktu sekitar dua puluh menit Faraz melihat mobil yang begitu menarik perhatiannya. Faraz langsung bangkit dan mengamati mobil tersebut. dan benar saja David keluar dari mobil tersebut. Faraz bergegas turun dari mobil dan berlari ke arahnya.


"David!" Faraz menarik tangan David dengan sedikit kasar.


David terkejut melihat Faraz yang menarik tangannya dengan wajah yang terlihat begitu serius.


"Om Faraz."


Faraz masih diam, Faraz ingin mendengar kata-kata apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Om, Apa kabar Om, Om sudah lihat pesan yang ku kirim kan? Sekarang Om tau kan siapa yang pantas untuk Zia?"


"Ya, Om sudah tau, Makanya Om telah merestui hubungan Zia dan Bryan!"


"Apa! Bagaimana bisa Om malah merestui hubungan mereka setelah Om melihat bukti-bukti yang telah ku kirimkan?"


"Karena Om belum melihat bukti yang sebenarnya."


"Maksud Om?"


Faraz langsung menarik kerah seragam sekolah David hingga menyisakan beberapa senti mereka saling berhadapan.


Melihat wajah David dari dekat bukan hanya membuatnya merasa begitu marah karena perbuatannya pada putri kesayangannya. Lebih dari itu, Melihat David maka terbersit wajah dan kelakuan Dev dan Kavita semasa dulu padanya.


"Om..."


Faraz tersentak dari lamunannya. Ia segera melepaskan cengkeraman tangannya dan memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin jadi pengecut dengan menyerang anak kecil apalagi di kawasan sekolah.


"David, Om tidak ingin berbasa-basi lagi, Om kesini hanya ingin memberimu peringatan agar jangan pernah lagi mendekati apalagi menganggu putriku!"


"Maksud Om?"


"Om sudah tau apa yang kamu lakukan pada Zia dan Om memaafkan mu untuk kali ini karena Bryan telah menghajar mu, Jika Kau berani lagi menyentuh putriku, Maka Aku akan mematahkan tangan mu!"


David hanya diam mematung mendengar ancaman Faraz. Hingga Faraz meninggalkannya, David masih melihatnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


•••


Malam harinya Zayd yang baru pulang dari kantor melihat Papa dan mamanya yang tengah bersantai di ruang TV, Tak terkecuali Zia yang tengah berbaring di pangkuan Papa yang begitu memanjakannya.


"Hey Zayd, Kamu baru pulang?"


"Iya Pa, Ada pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini juga." Zayd membuka jasnya dan duduk di tengah-tengah mereka.


"Semua punya bakat dan minatnya masing-masing Pa, Jangankan Zayd dan Papa, Zayd dan Zayn juga beda."


"Ya kamu benar."


"Oh ya Pa, Kapan Papa berencana untuk menemui Om Barry?"


Faraz terdiam sejenak mengingat permusuhannya di masa lalu. Namun mengingat kata-kata Zayn, Faraz berusaha keras untuk menerima hubungan Zayd dan putry musuhnya.


"Pa...?"


"E... Besok. Bersiaplah katakan pada gadis pujaan mu jika orang tuamu akan datang menemui orang tuanya."


"Terimakasih Pa." dengan Bahagia Zayd memeluk Papahnya.


"Terus kapan Papa resmiin hubungan Zia dan Om Bryan?" tanya Zia menyela pelukan hangat antara Papa dan kakaknya.


"Kamu paling kecil, Tunggu Kedua kakak mu menikah terlebih dahulu." saut Faraz.


"Tapi Pa..."


"Selesaikan dulu sekolah mu baru mikirin nikah," ucap Zayd mengacak-acak rambut Zia


"Iiih ngeselin." saut Zia sembari merapikan rambutnya.


"Oh ya Mas, Ngomong-ngomong, Zayn gimana? Jadi bicara sama Pak Kiai?"


"Terlambat Ma, Kita kesana sudah ada yang datang melamar."


"Apa! Jadi gimana dengan pernikahan ku Pa?"


"Kamu jangan khawatir, Zayn bilang kalau kamu mau nikah terlebih dahulu, Dia tidak masalah."


Zayd terdiam, Meskipun Ia sangat mencintai Alea. Namun mendengar saudara kembarnya tidak mendapatkan gadis pujaannya membuat hatinya sedih.


"Zayd, Kalian hanya lahir beda beberapa menit, Jadi tidak masalah siapa duluan yang mau menikah, Kamu tidak perlu merasa sedih, Kamu tau Zayn kan, Dia penakluk wanita dan Dia tidak akan menyerah begitu saja." Faraz menepuk punggung Zayd dengan bangga mengingat putra sulungnya.


"Baiklah, Terserah Papa saja."


Setelah perbincangan berakhir, Mereka kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Sebelum memejamkan mata, Zayd menelfon Alea untuk memintanya bersiap karena besok pagi keluarganya akan mengajaknya terbang ke Surabaya untuk menemui Ayahnya.


Bersambung...


Maaf hanya sedikit, Author lagi kurang fit, Doakan Author sehat terus biar bisa kirim BAB semua Novel yang tengah Ongoing 🙏