
Setelah mencapai kesepakatan. Barry mengajak Faraz dan keluarganya makan siang.
Meskipun suasana masih nampak canggung. Namun kedua keluarga itu mencoba untuk saling melempar senyum satu sama lain.
Kemudian Barry mengajak Faraz dan keluarganya kembali keruang tamu membicarakan kapan tanggal pernikahan Anak-anak mereka akan di langsungkan.
Sedangkan Zayd dan Alea berada di taman untuk saling mengungkapkan kebahagiaannya satu sama lain setelah mendapat lampu hijau dari kedua orang tuanya.
Tak bisa di gambarkan bagaimana Zayd begitu bahagia menatap Alea yang kini akan segera menjadi istrinya.
Awal kisah yang cukup rumit karena permusuhan kedua orang tua hingga mereka harus berpacaran secara diam-diam ternyata tidak sesulit yang mereka bayangkan untuk menyatukan ikatan dalam sucinya pernikahan.
Alea terseyum menepis wajah Zayd yang terus menatapnya.
Zayd terseyum dan meraih kedua tangan Alea dan membuat tubuhnya merapat.
"Tidak lama lagi," ucap Zayd.
"Apa kamu sudah tidak sabar?"
"Aku rasa kamu yang tidak sabar." saut Zayd mengingatkan Alea saat menyuruhnya melanjutkan permainannya.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana orang sekaku dirimu bisa melakukannya."
"Jadi kamu menyepelekan ku?"
"Kamu masih harus banyak belajar." Alea terseyum smirk dan terus menggoda Zayd yang memang sejauh ini masih di anggapnya amatir, Dengan hanya memberikan ciuman begitu-begitu saja.
Zayd hanya bisa melihat kepergian Alea yang masuk ke rumahnya dengan senyum mengejeknya.
•••
"Jadi menurut mu waktu seminggu cukup untuk mempersiapkan pernikahan Mereka?" tanya Faraz.
"Kenapa tidak, Jaman sekarang asal ada uang, Jangankan seminggu, sehari pun kita bisa lakukan dengan mudah."
"Ya, Kamu benar! Baiklah kalau begitu mulailah persiapannya. Kami akan kembali tiga hari sebelum pernikahan."
"Baiklah."
Setelah menemui tanggal yang pas untuk pernikahan mereka, Faraz meminta izin untuk kembali ke Jakarta dan akan kembali lagi tiga hari sebelum pernikahan.
Zayd memeluk Alea sejenak dan menyusul Papanya yang sudah terlebih dulu masuk ke mobil.
Barry dan Alea melambaikan tangan melepas kepergian mereka.
Kemudian Barry memeluk sang putri yang sudah lama tidak Ia temui.
•••
Satu Minggu Kemudian 🍁
Zayd tengah bersiap di depan cermin mengenakan stelan jas hitamnya.
Sedangkan Zayn yang meminta izin untuk mendampingi saudara kembarnya menikah, Tengah memandang saudar kembarnya dari pantulan cermin.
"Suit... Suiiitt..."
Zayn bangkit dari ranjangnya dan mendekati Zayd.
"Kamu terlihat sangat tampan."
"Aku adalah cerminan mu, Jika Aku tampan maka kamu juga."
Zayn terseyum smirk dan memprotes saudara kembarnya tersebut.
"Wajah kita memang sama, Tapi sifat kita, Selera kita, Hobi kita semua jauh berbeda."
"Itu lebih baik kan, Daripada selera kita sama, Nanti yang ada kita akan berebut wanita yang sama."
Zayn terseyum sembari menepuk-nepuk pundak Zayd.
"Ya, Syukurlah, Jika kamu sampai menyukai gadis pujaan ku entah ap yang akan ku lakukan kepada mu."
"Oh ya, ngomong-ngomong soal gadis pujaan mu, Bagaimana, Apa kamu sudah berhasil menaklukan hati Pak Kiai?"
"Belum, Tapi tidak lama lagi." ucapnya yakin.
"Baiklah, Semoga usahamu berhasil."
"Terimakasih." Zayn dan Zayd saling berpelukan memberi dukungan satu sama lain.
Sedangkan di kamar sebelah Faraz tengah menatap sang istri yang tengah merias diri dengan mengenakan kebaya putih yang telah membalut tubuhnya.
Meskipun usianya tidak lagi muda, Namun tubuhnya masih terlihat kencang dan membentuk sempurna, Hal itu yang membuat Faraz tidak bisa melepaskan pandangannya pada sang istri yang telah menemaninya lebih dari 20th.
Setelah melihat sang istri berdiri meninggalkan cermin, Faraz melangkah mendekatinya dan melingkarkan tangannya di pinggang rampingnya.
"Kamu terlihat seperti mempelai wanita."
"Dan Mas terlihat seperti mempelai Pria."
Keduanya tertawa.
"Waktu terasa begitu cepat berlalu sampai tak terasa kita akan menikahkan anak kita."
"Ya, Padahal Aku masih ingat dengan jelas bagaimana Aku melahirkan Zayn dan Zayd yang penuh drama dan air mata."
Faraz terseyum mengingat itu.
"Dan yang menyebabkan drama itu adalah calon besan kita sendiri."
saut Faraz yang kembali mengingat kejahatan Barry.
"Tapi sudahlah, Itu sudah berlalu, Yang terpenting putra kita mendapat kebahagiaannya." lanjut Faraz.
"Ya Mas benar."
Faraz memeluk sang istri dan mengecup keningnya.
Bersambung...