Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
LAST CHAPTER


Karena kondisi Alia yang cukup baik, Alia hanya di rawat di rumah tanpa harus pergi ke rumah sakit. Sang Bayi pun langsung bisa tidur di samping Alia tanpa harus berada di inkubator.


"Hhhhuuuuuffff... Kamu membuatku takut Sayang." ucap Faraz mengusap kepala Alia dan mengecupnya.


"Putri mu tidak sabaran." ucap Alia terseyum mengusap kepala Bayinya.


Faraz terseyum dan mencium Putri kecilnya.


"Apakah kamu tau, Jika sejak kelahiran si kembar Mas sudah menyiapkan nama untuk bayi perempuan?"


"Benarkah?"


Faraz menganggukkan kepalanya.


"Nama apa yang ingin Mas berikan?"


"Zia"


"Zia?"


"Ya"


"Zia dalam bahasa Arab memiliki arti bersinar, Selain itu Zia juga melambangkan penyatuan nama Kita. Z dari nama Mas, IA dari nama mu."


Alia begitu terharu mendengarnya.


"Aku saja tidak kepikiran kesitu Mas, Kok Mas bisa kepikiran ke situ sih?"


"Iya Dong, Karena Mas ingin nama Kita terukir pada Putri Kita sebagai lambang cinta Kita yang abadi."


"Mas...." Alia memeluk Faraz dengan air mata haru. Alia benar-benar masih tidak percaya jika Faraz begitu mencintainya.


"Mungkin sejak Kita menikah, Mas selalu membuat banyak kesalahan kepada mu, Tapi sejak Mas jatuh cinta kepada mu, Sedikit pun cinta Mas tidak berkurang, Malah semakin hari semakin tumbuh subur kepadamu."


"Aku juga minta maaf jika Aku belum bisa menjadi istri yang sempurna untuk mu."


Faraz mengurai pelukannya.


"Kamu sudah menjadi istri yang begitu sempurna untuk ku, Ini luar biasa bukan? Tahun depan Kita akan merayakan ulang tahun ketiga anak kita secara bersamaan." ucap Faraz terseyum.


Alia terseyum menganggukkan kepalanya.


"Ya, Untung saja putri Kita lahir 15 menit sebelum pergantian tanggal, Jika tidak, Kita akan merayakan ulang tahun mereka dua hari berturut-turut."


Faraz terseyum dan kembali memeluknya sejenak.


"Sekarang beristirahatlah, Kamu pasti lelah."


Alia mengangguk dan membaringkan tubuhnya.


•••


Setelah tujuh hari, Faraz mengadakan selamatan aqiqah untuk pemberian nama bayi perempuan nya secara resmi.


Pak Kiyai mengumumkan Nama Bayi perempuan Mereka yang di beri Nama "Zia Nafiza Faraz Shaikh" Zia artinya bersinar dan Nafiza artinya Permata yang sangat berharga.


Seperti aqiqah pada si kembar, Aqiqah kali ini juga di lanjutkan dengan bacaan Al-barzanji yang di lantunkan oleh peserta kenduri dan para santri yang turut di undang.


Sementara di kamar, Alia di temani oleh Ibu dan Ibu mertuanya bersama Si Kembar dan adik perempuannya.


Alia benar-benar kewalahan menghadapi aktifnya Zayn yang tidak henti-hentinya berjalan kesana-kemari di atas tempat tidur sampai-sampai beberapa kali akan menginjak kepala adik perempuannya.


Sedangkan Zayd lebih senang menciumi adik perempuannya hingga air liurnya membasahi pipi merahnya terkadang ingin mencolek mata yang belum sepenuhnya terbuka.


"Oh Tidak! Lihatlah kedua Putra mu Mas." pekik Alia yang melihat Faraz datang.


Ibu Zeenat dan Bu Fareeda tertawa melihat tingkah laku cucunya yang membuat Alia pusing.


Zayd pun menjauh dari adik kecilnya dan berlari ke Oma nya.


"Dan Kamu Zayn kemari sama Papa." tegas Faraz pada Zayn yang masih berlarian di atas kepala adik perempuannya.


"Kamu mau bermain-main dengan Papa? Lihat saja bagaimana Papa akan menangkap mu." Faraz ikut naik ke ranjang besarnya dan berlari menangkap Zayn.


Karena kegaduhan itu Zia kembali terbangun dan menangis dengan kuatnya.


"Oweee... Oweee... Oweee..."


"Maaasss!!! Malah ikut-ikutan lari di situ sih." pekik Alia dengan kesalnya.


Faraz yang sudah berhasil menankap Zayn segera turun dan membawa Zayn bersamanya.


"Gara-gara Kamu sih, Jadi di marahi Mama kan?" lirih Faraz pada Zayn.


Zayn hanya menggeliat dan minta di lepaskan.


"Sini sama Mbah Uti." ucap Bu Fareeda mengambil Zayn dari gendongan Faraz.


Bu Fareeda dan Bu Zeenat pun keluar membawa di kembar.


Faraz menghelai nafas dan mendekati Alia yang tengah menyu'sui Zia.


Kemudian mengecup pucuk kepalanya.


"Capek ya?"


"Mereka lagi aktif-aktifnya, Tapi jika tidak di bawa kemari, Dia akan lebih sering sama Nindi dan Ratna." keluh Alia.


"Untuk sementara tidak papa lah Mereka sama Ibu atau suster, Nanti kalau Zia sudah agak besar, Kita kan bisa sering-sering bersama Mereka."


Alia menganggukkan kepalanya dengan lelah.


Faraz terdiam melihat Zia yang tengah asik menyesap ASI yang menggoda matanya. Tanpa mengatakan apapun Faraz mengusap buah itu yang langsung di tepis oleh Alia.


"Mas..."


"Pegang doang."


"Tetap saja tidak boleh."


Faraz terseyum dan mencium kening Alia yang telah menyempurnakan kebahagiaannya dengan memberinya dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.


Kebahagiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.


Kebahagiaan yang sempat Ia tolak di saat awal pernikahannya.


Faraz kembali mengingat bagaimana Ia mencintai Kavita dan membenci Alia. Wanita yang begitu Ia cintai yang tidak bisa Ia miliki dan di Ganti dengan Wanita yang sama sekali tidak Ia cintai, Ternyata Wanita yang tidak Ia cintailah yang memberinya kebahagiaan yang begitu sempurna dalam hidupnya.


Allah memang lebih mengetahui mana yang lebih baik untuk hidup kita dari pada Kita sendiri. Karena Allah memberikan apa yang Kita butuhkan bukan apa yang Kita inginkan.


Apa yang menurut Kita baik belum tentu baik menurut Allah tapi jika apa yang menurut Allah baik, Sudah pasti baik untuk Kita.


SEMOGA DAPAT MEMETIK PELAJARAN YANG BISA DI AMBIL DALAM NOVEL INI, ITU PUN KALAU ADA, KALAU GAK ADA YA UNTUK HIBURAN SAJA. HAHAHAHA 🤣


🤍🤍🤍


TERIMAKASIH BUAT YANG SUDAH SUPORT DARI AWAL SAMPAI AKHIR, MOHON MAAF JIKA ADA SALAH-SALAH KATA DAN TYPO YANG TAK TERDUGA. TERUS DUKUNG KARYA AUTOR YANG TAK KALAH SERUNYA SEPERTI "PESONA MAJIKAN'KU" DAN NOVEL YANG BARU AUTHOR RILIS DENGAN JUDUL "SUAMI YANG KU BELI"


YANG PASTINYA MENGANDUNG KEUWUAN ALA AUTHOR LAH YA 🥰


📌 NOTE : JIKA SETELAH TAMAT MAS BUCIN GRAGAS MELEJIT, KITA LANJUT SEASON 2, DENGAN KISAH KESERUAN 3Z BERSAUDARA, JIKA TIDAK YA SAMPAI SINI SAJA 🤣