
"Itu tidak mungkin Pa," ucap Zayd membela sang Kakak
"Apanya yang tidak, Ini juga berlaku untuk mu jika Kamu melakukan hal yang sama sepertinya." tegas Faraz sembari menunjuk wajah Zayn.
"Pa, Tidak ada sejarahnya keluarga Kita di pesantren, Papa juga tidak pernah di Pesantren" saut Zayn.
"Papa kalian memang tidak berlatar belakang pendidikan di pesantren, Tapi Dia belajar dengan benar apa yang guru agama ajarkan.
Dan senakal-nakalnya Papa kalian, Dia hanya lari ke minuman, Tidak melakukan apa yang kamu lakukan Zayn!!!" tegas Opa Zhehzad.
"Zayn Kamu anak tertua, Kamu memiliki Adik perempuan, Susah payah Mama melahirkan mu, Tidak sepantasnya Kamu mempermainkan Mereka." sambung Alia.
"Aku tidak mempermainkan Mereka, Mereka sendiri yang datang dengan suka rela dan menggoda ku."
"Zayn!" triak Faraz.
"Meskipun Mereka yang mengejarmu atau menggoda mu, Tidak sepantasnya Kamu mengambil keuntungan!" Faraz menjeda ucapanya.
"Kau adalah Putra ku, Bagaimana bisa Kau menjadi Pria yang tidak bisa mencintai satu wanita?"
"Bahkan Aku tidak tau apa itu cinta." ucap Zayn.
"Baguslah, Kalau begitu keputusan yang tepat untuk memasukan mu ke pesantren, Sekarang masuk ke kamar mu, Jangan pergi kemanapun sampai Papa menemukan pesantren yang tepat untuk mu."
Zayn beranjak pergi namun kembali di hentikan oleh Papa nya.
"Tunggu!"
Zayn menatap Papa nya.
"Berikan ponsel mu." dengan tegas Faraz menadahkan tangannya.
"Pa! Bahkan Aku belum di pesantren tapi Papa sudah menghukum ku."
"Jangan membantah!"
Dengan kesal Zayn memberikan ponselnya.
"Ponselmu juga Zayd!"
"Kok Zayd juga Pa!" protes Zayd.
"Karena Papa tidak ingin Zayn memanfaatkan kelemahan mu!"
Zayn yang mendengarnya langsung pergi ke kamarnya. Kemudian Zayd menyerahkan ponselnya dan mengikuti sang Kakak berjalan di belakangnya.
Mereka melewati Zia yang dari tadi berdiri di dekat tangga mendengar keributan Mereka.
Zayn melewatinya begitu saja, Sementara Zayd mengusap kepalanya sekilas dan berlalu pergi.
Faraz dan Alia kembali duduk, Begitu pun dengan Ayah.
"Ayah mendukung apa pun keputusan mu dan pesantren adalah cara terbaik untuk mengurungnya dan membuatnya kembali ke jalan yang benar, Zayn masih sangat muda, Dia seperti masih mencari jati dirinya, Semoga dengan ini Zayn akan jauh lebih baik dari yang kita harapkan."
Faraz menganggukkan kepalanya, Ia merasa kecewa dengan Zayn tapi Ia juga tidak bisa menyalahkan Zayn sepenuhnya karena kesibukan masing-masing, Mereka jarang berkumpul bersama hingga membuat Putranya merasa bebas di luar sana.
•••
PLAAKKKKK...!!!
"Jadi Kau gagal lagi?" triak Malvin pada Putri angkatnya.
Carissa memegangi pipinya yang terasa begitu perih karena tamparan Papah Angkatnya.
"Kau benar-benar tidak berguna Carissa, Susah payah Aku memgurus mu, Bertahun-tahun menunggu saat ini, Tapi saat waktunya tiba, Kau selalu menggagalkan rencana yang telah ku susun rapi."
"Maafkan Carissa Pah, Ini di luar kemampuan Carissa, Setiap rencana yang Akan Carissa jalankan selalu saja ada yang menyelamatkan Zayn." tangis Carissa.
"Bagaimana kalau rencana Kita di alihkan pada Zayd? Bukankah Dia lebih bodoh dari Zayn?"
"Tidak Pah, Itu akan lebih sulit, Zayd tidak mudah tergoda dengan Wanita."
"Lalu apa yang harus Kita lakukan!" triak Malvin penuh kemarahan.
Carissa hanya menundukkan kepala dengan Isak tangisnya.
Malvin berdiri membelakangi Carissa dan kembali mengingat betapa sakitnya saat Faraz menghajar dirinya secara membabi buta.
"Kau dan Istrimu harus membayar atas apa yang telah Kau lakukan padaku bagaimanapun caranya." batin Malvin.
Malam Hari 🌙
Zayd membawakan makanan untuk Zayn ke kamarnya.
Zayn yang melihatnya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Tanpa mempedulikan sikap Kakanya, Zayd duduk di sebelah Zayn.
"Makanlah."
"Sekarang Aku harus belajar menahan lapar," ucap Zayn yang masih menahan kekesalannya.
"Jangan katakan itu Zayn, Meskipun nanti Kamu di pesantren Papa tidak akan mungkin membiarkan mu dalam kekurangan."
"Tetap saja Zayd, Semua pergerakan ku akan di batasi, Akan banyak aturan, Kehidupan ku akan terkekang seperti di penjara."
"Kita bisa bertukar tempat jika Kamu merasa bosan."
Zayn terhenyak mendengar ucapan saudara kembarnya.
Bersambung...