
Dengan berpegangan dinding Faraz keluar dari kamar mandi.
Alia yang mendengar pintu terbuka langsung berlari membantunya.
Alia meletakkan tangan Faraz di pundaknya dan memapahnya ke tempat tidur.
"Sekarang duduklah Aku akan kembali memasang perban mu." ucap Alia.
Faraz hanya mengangguk dan menatap Alia yang dengan telaten mengurusnya.
Setelah selesai memasang perban, Alia mengambilkan baju untuk Faraz.
"Kau pakai baju mu sementara itu Aku akan mengambilkan sarapan untukmu." ucap Alia bergegas keluar.
Seperti Anak kecil yang penurut Faraz pun hanya mengangguk menuruti semua yang Alia katakan.
"Kenapa sekarang Dia terlihat biasa-biasa saja, sedangkan Aku? Aku menjadi sulit bicara jika di depannya,
Aaahhh!!! Rasanya Aku lebih baik merasa kesal agar bisa bicara apa saja dengannya," ucap Faraz sambil memakai bajunya.
Faraz pun berusaha berdiri dan memakai celananya,
Baru saja celananya sebatas lutut, Faraz Terkejut melihat Alia masuk.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa....." Jerit keduanya.
Alia langsung membalikan badan dan menutup matanya,
"Aaawwhhhhhh...... Faraz yang belum bisa berdiri dengan sempurna terjatuh ke lantai.
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk?" ucap Faraz meringis kesakitan.
"Maafkan Aku, Aku fikir kamu sudah selesai memakai pakaianmu." ucap Alia yang masih membelakangi Faraz.
Faraz terlihat kesal sambil meneruskan memakai celananya.
"Apa Kamu sudah selesai memakai celanamu?" tanya Alia.
"Ya... Sekarang bantu Aku untuk bangun." ucap Faraz cemberut.
Alia pun berbalik badan dan berjalan mendekati Faraz.
Kemudian Alia meletakkan makanannya di meja dan membantu Faraz berdiri.
Karena kurangnya keseimbangan mereka berdua kembali jatuh bersama.
"Awwwhhhh... Pinggang ku," ringis Faraz memegang pinggangnya.
"Ee... Mm... Maafkan Aku..."
"Kau ini mau membantuku apa mau membuatku semakin tidak bisa berjalan!" ucap Faraz kesal.
"Aku belum siap.. badanmu terlalu berat." ucap Alia.
"Jadi menurutmu Aku gendut?"
"Aku tidak mengatakan itu, Aku hanya mengatakan badamu berat."
"Aaah... Itu sama saja," ucap Faraz kesal.
"Hah!" Alia baru tersadar jika Ia jatuh di atas tubuh Faraz.
Alia berdiri dan kembali mengulurkan tangannya.
"Aah tidak perlu, Kau hanya menambah rasa sakitku saja," ucap Faraz dan mencoba bangun sendiri.
Perlahan Faraz bangun dengan memegang tepian Ranjangnya.
Faraz berhasil bangun dan duduk di ranjangnya.
"Maafkan Aku," ucap Alia dengan wajah penyesalan.
Faraz hanya melirik Alia den mencoba meredam kekesalannya.
"Sekarang makanlah."
Faraz membuka mulutnya dan kembali merasa canggung saat Alia duduk di depannya.
Faraz terus menatap Alia yang fokus menyuapinya.
"Apa Kau ingin nambah lagi?" tanya Alia yang melihat Faraz masih membuka mulutnya.
"Hahh!" Faraz kaget melihat piringnya yang sudah kosong.
"Apa Kau mau lagi?" Alia mengulangi pertanyaannya.
"Eee.... Tidak... Aku... Sudah kenyang," ucap Faraz mengalihkan pandangannya.
Tiba-tiba Alia menarik wajah Faraz agar kembali menatap dirinya.
Faraz merasa gugup memikirkan apa yang akan Alia lakukan padanya.
"Kau... Kau mau ngapain?" tanya Faraz yang semakin merasa gugup.
Tanpa menjawab, Alia mengusap bibir Faraz menggunakan Ibu jarinya.
Faraz memejamkan mata dan menelan salivanya.
"Oke sekarang sudah bersih." ucap Alia mengagetkan Faraz.
Faraz membuka matanya dan merasa bingung dengan apa yang Ia fikirkan.
"Aku akan segera kembali," ucap Alia keluar dari kamarnya.
"Oh Tuhan apa yang Aku fikirkan." Faraz memukul kepalanya sendiri.
Faraz terdiam melihat pintu yang sudah tertutup, Ia meletakkan tangannya di dada.
Deg Deg Deg Deg...
"Jantungku berdegup dengan sangat kencang?
Aku tidak percaya ini, Gadis Cupu itu bisa membuat jantungku berdebar sangat kencang seperti saat Aku jatuh cinta pertama kali."
Bersambung....