
Faraz yang tidak melihat siapapun kembali masuk ke kamarnya.
Di kamar sebelah, Zia masih terkejut menatap Om Bryan yang mengikutinya begitu jauh seperti harapan awalnya. Namun dengan ancaman David, Membuat Zia mengurungkan niatnya untuk memberitahu Om Bryan tentang liburannya.
"Zia kenapa Kamu diam saja?"
Zia tersentak dari lamunannya.
"Om, Bagaimana jika Papa tau, Kenapa Om begitu nekat?"
"Lalu Om harus bagaimana Zia, Kamu tidak bisa di hubungi, Kamu juga bersikap aneh pada Om, Om tidak bisa di giniin Zia,"
"Om, Zia..."
"Katakan apa masalah mu, Om akan mengatasi semuanya?"
Zia menangis memeluk Om Bryan.
Dengan penuh kelembutan Om Bryan mengusap-usap punggung Zia.
"Om, David memintaku meninggalkan Om, Jika Aku menolak, Maka Dia akan memberitahu Papa jika Aku pernah tidur di rumah Om."
"Apa! Apa David pria yang sama dengan yang mencoba memperk'osa mu?"
Zia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Berrraninya Dia mengancam mu," Bryan mengepalkan tangannya dengan kekesalan di hatinya.
"Zia harus bagaimana Om, Zia takut kehilangan Om."
"Tenanglah sayang, Om akan bicara pada Papa Faraz, Dengan itu Kamu tidak perlu lagi menanggapi ancamannya."
"Tapi bagaimana jika Papa tidak setuju, Bagaimana jika Papa masukin Zia ke pesantren seperti yang Papa lakukan pada Kak Zayn?"
"Kita coba dulu, Kita akan menghadapi resikonya bersama-sama, Hem?" Bryan sedikit membungkukkan badannya menatap wajah Zia yang menunduk sedih.
"Zia Sayang, Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali, Om tidak mau terus kucing-kucingan seperti ini sama Papa mu, Om harus menunjukan keseriusan Om pada Papa mu,"
"Om..." Zia kembali mempererat pelukannya.
"Jangan bersikap seperti ini lagi pada Om, Om akan mati dalam keresahan jika Kamu melakukannya lagi."
Zia mengurai pelukannya dan mengusap air matanya.
Om Bryan membantunya mengeringkan pipinya.
"Ini sudah hampir pagi, Om pergilah sebelum ada yang datang."
"Apa menurut Zia Om akan pergi begitu saja?"
"Maksud Om?"
Tanpa menjawab pertanyaan, Om Bryan mendaratkan bibirnya dengan langkah mendorong tubuh Zia hingga terjatuh ke ranjangnya.
Dengan penuh gai'rah membara, Bryan terus melu'mat bibir Zia dalam posisi menindih tubuh mungilnya.
"Oughhh... Om..." Zia yang masih penasaran bagaimana nikmatnya bercum'bu terus menikmati pagutan dan esapan kuat yang Om Bryan berikan.
"Ziaaaa... Hohhh..." Om Bryan mulai merambah ke bukit kenyal Zia dari luar pakaiannya.
"Ssshhh... Om..." Zia memejamkan mata serasa melayang jauh dalam kenikmatan.
Om Bryan menghentikan aksinya menatap kekasih kecilnya yang sudah terbawa permainannya, Tidak mau lebih merusak putri dari sahabatnya, Bryan tidak mau melakukan lebih dari itu sebelum menikahinya.
"Sabar ya," Bryan mengecup Zia dengan lembut dan mendekap erat tubuhnya.
Sedangkan di kamar sebelah Faraz dan Alia juga sedang menikmati pagi yang dingin dengan bergumul memberi kehangatan satu sama lain.
"Ssshh Ahhhh... Ahhhh..." erangan kenikmatan saling bersautan mengakhiri permainan singkat Mereka.
"Masih ada waktu, Bedok Kita lanjutkan," ucap Faraz dengan nafas terengah-engah.
Alia hanya tertawa dengan nafas yang naik turun.
Kemudian Mereka memejamkan mata dengan tubuh polosnya.
Zayd juga tidak membuang waktu untuk menemui kekasih simpanannya yang berada tak jauh dari kamarnya.
"Alea..." Zayd langsung memeluk Alea dan melu'mat bibirnya dengan agresif. Alea benar-benar membuat Zayd kecanduan ingin terus menikmati kekenyalan bibirnya.
"Anda sudah pintar dalam bercum'bu." ucap Alea di sela-sela ciu'man nya.
"Kamu mengejek ku?" Zayd menurunkan ciu'man nya ke lehernya hingga Alea harus mendongakkan kepalanya ke atas.
"Tidak, Aku sedang memuji," ucap Alea tertawa.
"Terus saja tertawa, Aku akan membuktikannya nanti setelah kita menikah."
Alea terhenyak mendengar ucapan Zayd.
"Kenapa, Kenapa Kamu diam Alea,?"
"Mungkinkah Kita menikah?"
"Kenapa tidak?"
Alea terdiam sedih.
"Jangan khawatir Alea, Aku akan berusaha membujuk Papa menerima mu sebagai menantunya, Ayah mu boleh saja jahat, Tapi Aku percaya Kamu adalah gadis yang baik."
Dengan haru, Alea memeluk Zayd.
"Terimakasih telah mempercayai ku, Aku tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan mu."
Zayd mendekap Alea dan mengecup pucuk kepalanya.
🍃 Pagi Hari 🌻
Zia masih tidur dalam dekapan erat Om Bryan.
Keduanya mulai terusik saat sayup-sayup mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Mereka mulai merenggangkan pelukannya dan perlahan membuka matanya, Suara ketukan pintu semakin jelas terdengar di telinga Mereka hingga membuat keduanya tersadar dari tidurnya.
Tok... Tok... Tok...
"Ziaaaa..."
Om Bryan dan Zia saling menatap panik karena asik melepas rindu hingga membuat keduanya ketiduran.
Bersambung...
📌 SUPORT JUGA "SUAMI YANG KU BELI DAN BERSAING CINTA DENGAN USTADZ SERTA NOVEL AUTHOR LAINNYA 🤗❤️