
Faraz terus menggenggam tangan Alia hingga ke kamarnya.
Kemudian melepasnya dan melangkah membelakanginya untuk membuka jas nya.
Alia mendekati Faraz dan membantu melepaskan jas hitamnya.
Faraz menoleh ke belakang sekejap dan melanjutkan memebuka dua kancing kemejanya.
"Seharusnya Kau tidak perlu mengatakan seperti itu," ucap Alia dengan suara lembut.
"Seperti apa Alia?!" tanya Faraz meninggikan suaranya.
"Kenapa Kau begitu terpengaruh, Apa kau belum sepenuhnya melupakannya?" tanya Alia yang sedikit menaikan nada bicaranya.
"Alia! Dia telah menyakitiku berkali-kali, Aku tidak bisa melupakan itu sepenuhnya dari hati dan pikiranku!"
"Dia menyakitimu berkali-kali karena Kau yang memaksanya agar terus bersama mu." ucap Alia sedikit meninggikan suaranya.
Faraz tercengang mendengar ucapan Alia, Ia benar-benar tidak menyangka Alia malah menyalahkan dirinya.
"Faraz, Cinta tidak bisa di paksakan, Jika Kau memaksakan kehendak mu, Hanya ada rasa sakit yang akan Kau rasakan, Seharusnya Kau tau itu." ucap Alia melunakkan suaranya.
"Apa Kau sedang membelanya?" tanya Faraz dengan tatapan yang tak percaya.
"Aku tidak membelanya Faraz, Aku hanya mengatakan kenyataannya, Coba saat Dia mengatakan tidak mencintaimu lagi Kau langsung melepaskannya, Tentu Kau tidak akan merasakan sakit berkali-kali."
"Tidak semudah itu Alia, Kau tidak tau bagaimana perasaan ku,"
"Ituah yang ingin ku katakan, Kau sangat mencintainya, sedangkan Dia tidak lagi mencintaimu, tapi Kau terus saja memaksanya agar terus bersamamu, Seharusnya Kau menyadari Jika hal itu hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Kau lah yang telah memberi kesempatan padanya untuk terus menyakiti mu Faraz."
Faraz terdiam menatap Alia.
"Faraz... Aku ingin Kau melupakan rasa sakitmu sepenuhnya,
Karena selama Kau masih hidup dengan kebencian, Kau tidak akan pernah merasakan ketenangan di dalam hatimu," ucap Alia menjeda ucapanya.
"Dia sedang hamil Faraz, Dan Kau bilang Suaminya jalan dengan Gadis lain, Tanpa Kau mengatakan hal seperti itu padanya, Dia juga pasti sudah sangat menyesal menyia-nyiakan Pria sebaik dirimu," ucap Alia mengusap lembut pipi Faraz.
"Alia.. Kau terlalu baik," ucap Faraz Faraz memegang tangan Alia yang ada di pipinya.
"Tidak Faraz, Aku hanya kasian melihat kondisinya yang tengah hamil, Bagaimana jika Aku ada diposis...."
Faraz langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Alia untuk menghentikan ucapannya.
"Itu tidak akan terjadi, Karena Aku akan selalu bersamamu," ucap Faraz memeluk Alia.
Alia memejamkan matanya menikmati degupan jantung Faraz yang terdengar seperti irama musik di telinganya, Ia benar-benar merasa lega karena telah mengutarakan pendapatnya, Karena sejak menikah baru kali ini Mereka membahas hubungan Faraz dan Mantan istrinya.
"Entah kenapa mendengar semua perkataannya membuat hatiku menjadi sangat tenang, Yang Alia katakan memang benar, Jika saja Aku tidak memaksanya dan berkali-kali memaafkannya, Tentu rasa sakit ku tidak akan sedalam sekarang." batin Faraz.
°°°
"Kavita, Sudah seminggu Kau di sini, Apa suami mu tidak ingin menemui mu? Atau setidaknya menelfon mu? Ibu perhatikan Kau tidak pernah menerima telepon darinya," ucap Ibu.
"Dia menelfon, Tapi Aku tidak mengangkatnya," ucap Kavita.
"Kenapa Kau tidak mengangkatnya? Apa Kau ingin Dia pergi selamanya dan mencari wanita lain?"
"Dia akan datang jika Dia benar-benar menyesal, Jika Dia tidak datang berarti Dia tidak menyesal dengan apa yang Ia lakukan!" ucap Kavita meninggikan suaranya.
"Kau tidak perlu mempertahankan ego mu dengan menunggunya datang, Kau bisa terlebih dahulu datang atau menelfonnya untuk minta maaf," ucap ibu menjeda ucapanya.
"Untuk apa Aku minta maaf, Dia dan keluarganya yang menyakitiku." tegas Kavita.
"Ibu, Aku tengah hamil besar, Tidak akan ada yang menerimaku bekerja, Tapi Aku sudah berniat setelah melahirkan Aku akan mencari pekerjaan, Dan untuk masalah biyaya, Tabunganku masih cukup untuk biyaya melahirkan dan keperluan Kita sampai beberapa bulan kedepan." ucap Kavita yang langsung meninggalkan Ibunya.
Ibu menghelai nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.
Sedangkan Dev yang bergegas meninggalkan rumahnya di hentikan oleh Ibunya.
"Mau kemana Dev?"
"Aku keluar sebentar,"
"Mau kemana malam-malam begini?" sambung Ayah.
"Ada urusan sebentar."
"Apa Kau tidak belajar dari pengalaman mu pada Kavita, Selalu keluyuran, pulang dini hari, Tau-tau hamilin anak Orang!" ucap Ayah kesal.
"Apa yang Ayah katakan, Aku ingin menemui Kavita."
"Untuk apa Kau menemuinya, Jika Dia menyesal, Dia Akan Datang kemari dan meminta maaf pada Kita," ucap Ibu.
"Dia tidak bersalah Ibu, Aku yang memukulnya, Ibu yang tidak mau memenuhi keinginannya."ucap Dev.
"Ibu melakukan itu agar para tetangga tidak tau jika kini Kavita tengah hamil melebihi bulan pernikahannya," tegas Ibu.
"Itu tetap tidak akan bisa di tutupi Ibu, Meskipun sekarang bisa, Nanti disaat bayiku lahir orang-orang juga akan tau," ucap Dev.
"Ya Kita tinggal bilang saja jika bayinya lahir prematur, Jadi orang-orang tidak akan tau jika Kavita hamil sebelum menikah."
"Cck." Dev berdecak dan menggelengkan kepalanya.
Bersambung...