Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Terciduk


Mendengar ejekan Alea Zayd berlari mengejar dan menarik tangan Alea kembali ke sisinya. Dengan mencengkeram lengan Alea kuat-kuat Zayd menatap tajam Alea yang juga menatap dirinya.


"Seharusnya Kau merasa bangga karena menjadi gadis pertama yang mendapat ciu'man pertamaku." dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat Zayd menggandeng tangan Alea meninggalkan pulau itu.


Alea mengernyitkan dahi menatap Zayd yang terus menarik tangannya tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Masuklah," ucap Zayd membukakan pintu mobil untuknya.


"Tapi bajuku basah Tuan."


"Lalu apa Kita harus menunggu baju kering dulu baru pulang?"


Alea menggeleng pelan dan masuk ke mobil.


•••


Setelah pulang sekolah Zia kembali ke kantor Om Bryan.


Tidak seperti kemarin, Kali ini Satpam langsung mengizinkan Zia masuk ke dalam.


Dengan langkah riang Zia langsung ke ruangan Om Bryan.


"Om..." lirih Zia sembari membuka pintu secara perlahan.


"Zia, Kau..." Bryan yang baru menutup ponselnya merasa panik melihat Zia yang sudah ada di ruangannya.


Bryan langsung beranjak dari duduknya dan mendekati Zia.


"Zia kenapa tidak bilang dulu kalau mau kemari?"


"Kemarin Zia sudah bilang kan sama Om?"


"Iya, Tapi seharusnya Zia bilang lagi, Om akan ada Meeting dengan Papa mu."


"Apa!"


Bryan menganggukkan kepalanya.


"Sama Papa?"


"Iya sama yang lain juga."


"Jadi Om mau pergi ke kantor Papa?"


"Papa mu yang mau ke sini."


"Apa!"


"Ya, Sekarang jangan banyak tanya, Kamu pulang dulu ya, Lain kali Kita bertemu lagi."


"Tapi Om..."


"Zia ingin bertemu dengan Om lagi kan?"


Zia menganggukkan kepalanya seperti anak yang penurut.


"Kalau begitu sekarang Zia pulang, Om antar keluar ya."


Tidak membantah lagi, Zia menuruti perintah Bryan dengan berjalan di depannya.


Begitu sampai di lantai dasar tiba-tiba Bryan mendorong tubuh Zia merapat ke dinding.


"Om ad.."


"Husssttt...." Bryan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri sembari melihat-lihat ke arah pintu masuk.


"Ada apa Om?"


"Diam lah Zia, Papa mu sudah datang." lirih Bryan.


"Hagh!"


Tidak memperdulikan kepanikan Bryan, Zia terus menatap Om Duda pujaan hati yang jaraknya kurang dari satu jengkal.


Melihat Bryan dari samping membuat Zia semakin terhipnotis dengan hidung mancung yang Bryan miliki.



"Dia begitu tampan dari sisi manapun." batin Zia yang langsung di kagetkan oleh Bryan yang semakin menyembunyikan tubuh kecilnya di balik tubuh kekarnya.


Kini wajah Zia tepat berada di dadanya, Bahkan detak jantung Bryan bisa dapat Zia rasakan.


Faraz melewati Mereka tanpa melihat Bryan yang membelakanginya dengan menyembunyikan Putrinya di balik tubuh tingginya.


Bryan menoleh ke kiri dan melihat punggung Faraz yang semakin jauh dari pandangannya.


"Hhhhuuuuuffff..." Bryan menghelai nafas lega dan melepaskan Zia dari dekapannya.


"Untung saja Om mengantar mu, Jika tidak, Papa Faraz pasti melihat mu ada di kantor Om."


Zia masih terdiam menatap Bryan.


"Sekarang Zia pulang lah, Nanti Papa Faraz nyariin Om."


Zia menganggukkan kepalanya dan melangkah keluar.


"Dengar Zia, Lain kali kalau mau kesini, Kabari Om terlebih dahulu."


Zia menganggukkan kepalanya dan kembali melangkah.


•••


Carissa memesan hotel untuk menjalankan rencananya.


Zayn mengenakan masker dan kaca mata hitam untuk menghindari seseorang mengenalinya. Namun Ketika Ia melangkahkan kakinya beriringan dengan Carissa, Tanpa sengaja Zayn menabrak seseorang Pria tua yang tak lain adalah Opanya.


"Zayn..."


Zayn menjadi panik karena Opa Zhehzad masih dapat mengenalinya meskipun Ia sudah menyembunyikan wajahnya.


"Maaf Anda salah orang," ucap Carissa yang langsung menarik tangan Zayn.


"Tunggu!" tegas Opa Zhehzad.


Zayn merasa tegang saat mendengar langkah Opa Zhehzad yang terdengar semakin mendekat.


"Dia adalah cucu ku, Putra dari Faraz Shehzad Shaikh dan Jaket yang di kenakan ini adalah pemberianku saat ulang tahunnya kemarin. Jadi Aku tidak mungkin salah orang." tegas Opa Zhehzad yang langsung membuka kacamata hitam dan maskernya.


Zayn menunduk malu karena Opa Zhehzad memergoki dirinya disaat niatnya yang kurang baik.


"Tidak tau malu!" tegas Shehzad menatap cucu dan gadis di sebelahnya.


"Sekarang pulang, Papa mu harus tau bagaimana kelakuan Putranya."


Dengan Marah Zhehzad menyeret Zayn keluar dari hotel tersebut.


"Zayn..." lirih Carissa yang merasa takut membayangkan apa yang akan Ayah angkatnya lakukan jika mengetahui rencananya kembali gagal.


"Opa, Zayn mohon, Jangan kasih tau Papa, Zayn belum ngapa-ngapain."


"Apa Opa harus menunggu Kamu ngapa-ngapain baru Opa bertindak?!"


Zayn menggelengkan kepalanya.


"Sekarang masuk, Biar Ke-dua orang tuamu yang memutuskan hukuman apa yang pantas untuk mu!"


Tanpa bisa membantah lagi, Zayn hanya bisa menuruti perintah Opa Zhehzad.


Bersambung...


📌 KARYA INI SUDAH BERADA DI RANGKING 4 NOVEL TAMAT, YUK AKH ANTAR MAS BUCIN NANGKRING DI NO.1 😍🔥