Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Kemarahan Faraz


Alia masih merasa bingung kenapa Ibu tersenyum seperti itu padanya.


Faraz pun menggaruk-garuk kepalanya melihat Ibu yang terus tersenyum penuh arti.


"Sebenarnya apa yang ibu fikirkan," gumam Faraz.


"Baiklah Alia... Faraz... Ibu kesini ingin mengajak kalian sarapan bersama,


Ibu juga ingin memberitahu padamu mu, jika adat disini sehari setelah menikah, pengantin wanita boleh berkunjung kerumah Ibu nya," ucap Ibu tersenyum.


"Benarkah?" Alia tersenyum bahagia.


"Baguslah jika si Cupu pulang ke rumahnya," gumam Faraz dalam hati.


"Faraz kamu juga harus menyiapkan pakaian mu, karena kamu juga harus ikut menginap di rumah Alia," tegas Ibu.


"Apa! Kenapa Aku harus ikut dengannya?" Faraz melangkah mendekati Ibunya.


"Apa maksudmu Faraz, kamu suaminya, tentu kamu juga harus pergi bersamanya ini adalah tradisi," jelas Ibu.


"Tradisi apa, sebelumnya Ibu tidak pernah mengatakan ini?"


"Bagaimana ibu akan mengatakannya, pernikahan mu yang sebelumnya kan penuh dengan drama," ucap Ibu yang menjadi kesal.


"Tapi Ibu... Aku tidak akan bisa tidur disana, rumahnya sangat kecil apa lagi kamarnya lebih kecil dari...."


"Faraz apa kamu lupa jika kamu sudah pernah tidur dirumah Alia?" tanya ibu memotong ucapan Faraz.


"Ee... Ituuu... Itu karena Aku sedang tidak sadarkan diri, jika Aku sedang sadar Aku tidak mungkin bisa tidur, pasti rumahnya banyak nyamuk, tikus, kecoa dan..."


"Faraz... Jaga ucapan mu," ucap ibu melirik Alia.


Faraz pun terdiam kesal.


"Sekarang bersiaplah, Ibu menunggu kalian di bawah," ucap Ibu lalu meninggalkan kamar Faraz.


Alia dan Faraz saling melihat dengan sinis.


"Apa liat-liat?" ketus Faraz lalu pergi ke kamar mandi.


"Selalu saja marah-marah." gumam Alia.


°°°


"Kavita apa kamu masih marah padaku?" tanya Dev melalui ponselnya


"Tidak." jawab kavita singkat.


"Kalau begitu kita bisa bertemu sekarang?"


Kavita terdiam mendengar pertanyaan Dev.


"Kini Faraz telah menikah, Aku tidak mungkin mengharapkan Faraz kembali untuk saat ini, apa lagi Aku tengah mengandung." batin Kavita.


"Kavita kenapa kamu diam?" tanya Dev lagi.


"Kini hanya Dev yang mau bertanggung jawab atas kehamilan ku, jika Aku menolaknya maka bayiku akan lahir tanpa memiliki Ayah," batin Kavita lagi.


"Kavitaaaaa... Kenapa tidak menjawab ku?"


"Eee.... Ya... Kitaaa bertemu sekarang,"


"Baiklah Kavita apa Aku harus menjemput mu?"


"Ee... tidak, Kita ketemu di tempat biasa."


Dev pun setuju, dan menutup ponselnya.


"Apa yang kamu masih pertimbangan kan Kavita? Apa Kau mulai merasa menyesal karena telah meninggalkan Faraz?" tanya Ibu dengan sinis.


Kavita hanya terdiam mendengarnya.


"Semuanya sudah terlambat, Faraz telah menikah dengan orang lain, sedangkan kamu sudah hamil di luar nikah, jadi Kau tidak memiliki pilihan kecuali menerima solusi dari keluarga Dev," tegas Ibu.


"Cepatlah terima tawaran mereka, sebelum Dev dan keluarganya berubah fikiran dan membiarkan bayi mu lahir tanpa seorang Ayah." sambung Ibu.


"Apa yang ibu katakan?"


"Jangan kamu kira Ibu tidak tau apa yang sedang kamu fikirkan, dulu kamu menikah dengan Faraz, kamu memikirkan Dev, dan sekarang saat Dev ingin menikahi mu kamu memikirkan Faraz, Sebenarnya apa yang kamu cari Kavita?"


"Aku hanya tidak ingin salah mengambil keputusan lagi."


Kavita terdiam kesal.


"Kenapa kamu sulit sekali di atur Kavita? Kamu selalu saja mengikuti hawa ***** mu dari pada akal sehatmu!" lanjut Ibu.


"Ibu Aku harus pergi sekarang." Kavita langsung meninggalkan ibunya.


"Kavitaaaaa.... Ibu belum selesai bicara!"


Kavita tak lagi mendengarkan Ibunya dan langsung keluar rumah.


°°°


"Baiklah kalian hati-hati," ucap Bu Zeenat pada Alia dan Faraz yang akan segera berangkat.


"Baik Ibu kami pergi dulu," ucap Alia memeluk mertuanya.


"Faraaaz... Jangan terlalu bersemangat atau Ibu Mertua mu akan melihat bekasnya di salah satu tubuh Alia yang lain," ucap Ibu tersenyum.


Alia dan Faraz saling menatap bingung.


"Sebenarnya apa maksud Ibu, kenapa Ibu sejak datang ke kamar ku senyum-senyum seperti itu?" tanya Faraz bingung.


"Sudahlah cepat kalian pergi jangan sampai kesiangan." ucap ibu masih menahan tawanya.


Faraz dan Alia berjalan dan menoleh kebelakang melihat Ibu masih menahan tawanya.


"Sebenarnya apa yang Ibu fikirkan," gumam Faraz.


Tanpa sengaja Faraz melihat lengan Alia yang memerah karena cengkramannya.


Faraz mulai mencerna kata-kata ibunya.


Kemudian Faraz mengingat saat ia mencengkram lengan Alia dan menindihnya dengan kasar.


"Jadi ibu mengira Aku dan cupu...?" ucap Faraz dalam hati lalu kembali melihat Alia.


"Sebenarnya apa maksud perkataan Ibu?" batin Alia yang juga menatap Faraz.


Lamunan Faraz buyar saat melihat Kavita lewat di depan rumahnya.


Kavita juga melihat Faraz dan Alia yang akan masuk ke mobil.


Faraz mengalihkan pandangannya, dan menyuruh Alia masuk.


"Masuklah..." ucap Faraz sembari membukakan pintu untuk nya.


Alia masuk tanpa melihat Kavita.


Faraz hanya melirik kavita dan langsung berjalan ke sisi pintu mobilnya.


"Faraaaaz..." Kavita menghentikan langkah Faraz.


Faraz hanya berdiri diam tanpa menoleh ke belakang.


"Bisakah kita bicara sebentar," ucap kavita yang berdiri di belakang Faraz


"Apa lagi yang akan kamu bicarakan Kavita?" Faraz berbalik badan menatap Kavita.


Kavita terdiam menundukkan kepalanya mendengar jawaban sinis Faraz.


"Katakan! Apa lagi yang ingin kamu bicarakan? Berapa kali kamu akan menyakiti ku? Berapakali kamu akan memberikan harapan palsu padaku?"


"Faraz.....A... Akuuu..." Kavita merasa takut karena untuk pertama kalinya Faraz bicara kasar padanya.


"Hegh... Aku memang bodoh, Berkali-kali kamu terus menyakitiku, tapi Aku terus mencintaimu, Aku tidak bisa membencimu, Bahkan setelah tiga tahun kita berpisah perasaanku masih sama padamu, Bahkan setelah Aku mengetahui kamu hamil dari Pria lain... Aku masih tetap mencintaimu.. dan saat kamu menangis ingin kembali padaku, Aku fikir kamu benar-benar telah menyesal... Aku fikir kamu ingin Aku benar-benar kembali padamu, sampai Aku ingin membatalkan pernikahan ku, tapi apa yang kamu lakukan kavita? Kamu kembali menyakiti ku dengan memeluk Pria itu."


Kavita hanya bisa meneteskan air matanya.


"Sudahlah Kavita, simpan air matamu, Aku tidak akan luluh lagi melihatnya, Hatiku sudah terlalu sakit dengan apa yang Kau lakukan selama ini pada ku, Sekarang tidak lagi!" tegas Faraz melangkah meninggalkan Kavita.


"Faraaaaz... Faraaazzz... dengarkan Aku..." tangis Kavita.


Di dalam mobil Alia hanya bisa melihat tanpa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Faraz terus mengabaikan Kavita dan masuk mobil dengan kekesalan di hatinya.


Bersambung...