Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Duda Meresahkan


Zayd sedang memandangi Alea yang tengah mengemasi pakaiannya untuk mengikuti Zayd sesuai perintahnya.


"Untuk apa mengajak ku secara senyap? Bagaimana kalau Kita tidak bisa bertemu?"


"Tenanglah Sayang, Kita pasti bertemu, Papa dan Mama tidak akan mengawasi ku 24 jam, Mereka pasti juga ingin menghabiskan waktu berdua." ucap Zayd tertawa.


"Tapi sampai kapan Kita sembunyi-sembunyi seperti ini?"


Zayd bangkit dan memeluk Alea dari belakang.


"Sabarlah Sayang, Biarkan Aku menikmati kebersamaan Kita terlebih dahulu, Aku belum siap menghadapi kemungkinan terburuknya."


"Jadi sementara ini Aku harus jadi simpanan mu?"


"Terdengar menggoda," ucap Zayd menarik pinggang Alea merapat padanya.


"Lakukan tugas mu sebagai simpanan ku?"


"Hagh!" Alea tercengang sembari menahan dada mereka agar tidak menyatu.


Keduanya menjadi hening dan menatap satu sama lain.


Kemudian Mereka sama-sama memajukan wajahnya dan menyatukan bibirnya.


Kini Zayd yang sudah terbiasa dengan itu bisa mengimbangi permainan Alea yang memang lebih agresif tanpa malu-malu. Keduanya saling berbalas pagutan dan esapan satu sama lain tanpa menyentuh area terlarangnya.


•••


Malam Hari 🌙


Bryan yang seharian tidak mendapat kabar dari Zia mendatangi rumahnya Kemudian menelfon Zia dari dalam mobilnya. Namun Zia mengabaikan panggilan Om Bryan karena Zia kembali mendapat pesan dari David untuk tidak berhubungan dengan Om Bryan kalau tidak ingin foto-fotonya di kirim ke Papanya.


Zia yang merasa bingung hanya memandangi layar ponselnya. Hingga Faraz memanggilnya.


"Sayang Kamu sudah siap?"


"Ya Pa."


"Cepatlah Papa tunggu di luar."


Dengan berat hati Zia mematikan ponsel dan keluar dari kamarnya.


Di kamar lain Zayd menghubungi supir yang telah Ia sewa untuk mengantar Alea selama perjalanannya ke Kebumen.


"Apa kalian sudah siap?" tanya Zayd pada Alea.


"Zayd cepatlah, Papa sudah menunggu," ucap Alia yang masuk tanpa mengetuk pintu hingga membuat Zayd panik.


"Ada apa Zayd kenapa Kamu terlihat tegang seperti itu?"


"Tidak papa Ma, Hanya kaget saja Mama datang tanpa mengetuk pintu."


"Oh, Maafin Mama, Mama buru-buru, Cepetan Papa sudah menunggu kita."


Zayd menganggukkan kepalanya dan mengikuti Mamanya keluar.


•••


Bryan yang melihat Faraz dan Zia keluar merasa panik dan terus mengawasinya.


Terlihat Faraz dan Zia memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobilnya.


"Mau kemana Mereka?" batin Bryan yang kembali terkejut melihat Alia dan Zayd keluar dengan menarik kopernya.


"Apakah Mereka akan liburan, Tapi kemana, Kenapa Zia tidak memberitahu ku sama sekali?" batinnya.


"Om Bryan, Zia akan sangat merindukan Om," batin Zia yang memang belum sempat memberitahu Bryan karena keburu di hentikan oleh David.


"Sayang Masuklah." titah Faraz.


Zia masuk ke kursi belakang bersama Mama dan Papanya, Sedangkan Zayd duduk di depan samping Supir.


"Zia, Kenapa Zia tidak memberi kabar pada Om sama sekali." batin Bryan yang semakin gundah melihat mobil Faraz meninggikan rumah.


Saat Ia akan membuntuti, Mobil lain mendahuluinya.


Bryan yang sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya tanpa berfikir panjang mengikut mobil Mereka.


"Sebenarnya mau kemana Mereka, Apakah Mereka akan keluar kota?"


Karena merasa sudah kepalang tanggung, Bryan terus mengikutinya dari kota ke kota lainnya.


Setelah separuh perjalanan tepatnya di kota Cirebon Faraz dan sekeluarga menghentikan mobilnya di sebuah restoran untuk mengisi perut yang terasa lapar.


"Zia mau ke toilet dulu gak?" tanya Alia.


"Gak Ma."


"Masih lama loh Sayang, Ntar kebelet di jalan repot." sambung Faraz.


"Ya udah Papa sama Mama duluan, Ntar Zia nyusul,"


"Baiklah, Kalau udah, Langsung ke restoran cari Mama Papa ya?"


Zia menganggukkan kepalanya dan membiarkan kedua orang tuanya pergi.


Zayd yang juga melihat orang tuanya pergi langsung berlari ke mobil yang Ia sewa untuk mengantar Alea.


Zia yang merasa sendirian turun dari mobil dengan malas-malasan.


Kesempatan ini di ambil oleh Bryan yang langsung membungkam mulutnya dan menyeretnya.


"Mmmm... Mmmm..." Zia mencoba memberontak kerena tidak tau Om Bryan yang membekapnya.


Bryan langsung membopong tubuh Zia dan memasukannya ke kursi belakang mobilnya.


Setelah pintu mobil di tutup, Zia terkejut melihat Om Bryan yang ada di depannya.


"Om Bryan?" ucap Zia tak percaya.


"Sayang..." Bryan mencoba menyentuh wajah Zia namun di hentikan olehnya.


"Sedang apa Om di sini?"


"Seharian Kamu tidak menghubungi Om, Kamu juga mengingkari janji untuk menemui Om, Ada apa dengan mu Sayang?"


"Zia sibuk Om," Zia beranjak dan mencoba untuk keluar. Namun Bryan kembali membuat Zia duduk.


"Zia! Ada apa dengan mu, Kenapa Zia bersikap seperti ini pada Om, Apa kesalahan Om?"


"Om, Setelah Zia pikir-pikir, Om terlalu tua untuk Zia, Om benar, Seharusnya Zia mencari yang seumuran dengan Zia."


"Zia! Itu masa lalu, Bukankah Sekarang Kita saling mencintai?" tanya Bryan sedih.


"Tidak Om, Zia hanya..."


Tanpa membiarkan Zia selesai bicara, Bryan langsung mendorong tubuh Zia dan melu'mat bibirnya.


"Kamu tidak bisa mempermainkan Om Zia," ucap Bryan yang semakin ganas melu'mat bibir Zia karena perasaan kaget dan sakitnya Zia mengatakan itu padanya.


"Kamu tidak bisa melakukan ini, Om benar-benar sangat mencintaimu,"


ucapnya di sela-sela luma'tan nya.


Zia yang terus mendapat kenikmatan dari Bryan melupakan rasa takutnya pada David.


"Om... Akhhhhh." lirihnya.


Bryan yang mendengar lenguhan Zia terdiam menatap kekasih kecilnya telah kembali berga'irah dan tidak dingin seperti sebelumnya.


Zia menjadi sedih dan memeluk Om Bryan.


"Ada apa Sayang, Ceritakan pada Om?"


Zia yang ingin menceritakan mengurungkan niatnya melihat Papanya yang keluar dari restoran seperti sedang mencari-cari seseorang.


"Om, Kayaknya Papa nyariin Zia."


"Tapi Sayang.."


Tanpa mempedulikan Om Bryan, Zia langsung turun dan menyelinap kembali ke mobilnya.


Bersambung...


📌 NGANTUK-NGANTUK TAK LAKONI DEMI KALIAN 🥱😴