Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Melahirkan


Faraz dan Alia tiba di rumah dan melihat Ibu Fareeda, Ibu Zeenat serta Ayah Shehzad yang tengah berkumpul bersama Si Kembar.


Semua orang mengalihkan pandangannya kepada Alia dan Faraz yang baru datang dengan ekspresi wajah yang berbeda dari keduanya.


"Alia, Ada apa?" tanya Ibu Fareeda mendekati Alia.


"Biar Aku yang menjawab." saut Faraz bersemangat.


"Apa yang membuatmu bahagia Faraz, Sedangkan istrimu terlihat bingung?" tanya Ayah Shehzad.


"Alia hanya merasa shock saja Ayah, Karena sebentar lagi Alia akan kembali memberikan kalian cucu."


"Apa!" ucap semua orang yang begitu terkejut mendengarnya.


"Jadi bener kamu hamil?" tanya Bu Fareeda memastikan.


"Iya Ibu,"


"Tu kan bener, Ibu juga bilang Kamu gemuknya lain." dengan bahagia Bu Fareeda memeluk Alia.


"Berapa bulan Sayang?" tanya Bu Zeenat.


"33 Minggu."


"Hagh!" semua orang kembali tercengang.


"33 Minggu? Artinya sudah lebih dari delapan bulan dong?" tanya Bu Zeenat.


Alia menganggukkan kepalanya dengan memaksakan senyumnya.


"Oh ya ampun... Aku tidak percaya ini, Hanya tinggal menunggu beberapa minggu lagi Kita akan kembali menimang cucu." ucap Bu Zeenat bahagia.


"Lalu kenapa Kamu terlihat sedih Alia?" tanya Bu Zeenat.


"Aku hanya tidak menyangka saja Ibu, Ini terlalu cepat untuk ku, Lagi pula Zayn dan Zayd juga masih terlalu kecil, Bahkan Mereka belum bisa jalan."


"Kamu tenang saja Sayang, Jika Ibu tidak sibuk, Ibu skan sering kemari," ucap Ibu Zeenat.


"Ibu juga akan sering mengunjungi mu Sayang." saut Ibu Fareeda.


"Bukankah ada Ratna dan Nindi?" sambung Ayah Shehzad.


Alia menganggukkan kepalanya.


"Lalu apa salahnya, Jika besok Kamu merasa kelelahan, Kita ambil Baby Sitter lagi untuk membantumu." lanjut Ayah Shehzad.


"Kamu dengar itu Sayang, Kamu hanya cukup mengandung dan melahirkan Anak ku." ucap Faraz tertawa hingga membuat yang lainnya ikut tertawa.


•••


Faraz dan keluarga besarnya baru saja selesai mengadakan syukuran satu tahun Si Kembar dengan mengundang Anak-anak yatim dan tetangga terdekat. Di usianya yang kini menginjak satu tahun Zayn telah bisa berjalan dengan lancar sementara Zayd juga sudah bisa melangkah meskipun belum selancar Zayn.


Setelah acara yang begitu melelahkan, Seluruh Keluarga kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Sedangkan Faraz yang tidak mau mengulangi kesalahan, Kini Faraz menjadi suami siaga menjelang persalinan Alia dengan tidak pergi kemanapun selain ke kantor.


Seperti sepanjang hari ini, Faraz terus mendampingi Alia yang sudah mengeluh sakit sejak pukul 09.00 WIB hingga kemanapun Alia pergi, Faraz selalu mendampingi meskipun hanya sekedar ke kamar mandi.


Faraz tidak mau kejadian buruk kembali menimpa Alia.


"Kita ke Dokter ya, Sudah dari pagi loh." bujuk Faraz yang melihat Alia semakin susah berjalan.


"Besok saja, Sudah malam," ucap Alia yang kembali naik ke ranjangnya setelah dari kamar mandi untuk ke sekian kalinya.


"Kamu yakin?"


Alia mengangguk dan menyandarkan tubuhnya sembari mengelus-elus perutnya. Faraz ikut mengelus perutnya kemudian memijat kakinya yang terlihat begitu membengkak. Setelah melihat Alia tertidur, Faraz keluar untuk mengambil makan karena sejak acara ulang tahun Si Kembar, Faraz belum sempat makan karena sibuk dengan para tamu dan Alia yang terus mondar-mandir ke kamar mandi.


Setelah sepuluh menit, Faraz kembali dengan membawa piring makanan dan memakannya di samping Alia. Baru suapan ke-dua, Faraz reflek melemparkan piringnya begitu Alia tiba-tiba menjerit mengagetkannya.


PRAAAANNNNNNKKKKKKK...!!!


"Aaaaaaaaaaaaaaa....." Alia memegangi perutnya merasakan bayinya yang akan segera keluar.


"Sayang.." Faraz segera ingin menggendong Alia. Namun Alia menghentikannya.


"Rasanya sudah seperti di ujung Mas, Bagaimana kalau tidak keburu dan lahir di mobil?"


Faraz yang bingung hanya melangkah kesana kemari tidak tau apa yang harus Ia lakukan.


"E-e Ya, Baiklah." Faraz berlari dan menginjak pecahan piring.


"Aowwh..." ringis Faraz yang langsung mencabut pecahan piring dari sendal yang menembus telapak kakinya. Kemudian Faraz kembali berlari keluar.


"Aaaaaaaaahhhhhhhh..." pekik Alia menahan kontraksi hebat dalam rahimnya.


"Semuanyaaaa.... Bangun... Bangun...."


Bhrukkk... Bhrukkk... Bhrukkk...!!!


Faraz menggedor semua pintu kamar tanpa terkecuali kamar Si Kembar hingga membangunkan keduanya. Tangis keduanya dan orang-orang yang berlarian keluar dari kamar masing-masing membuat suasana rumah kian gaduh dengan jeritan Alia yang terdengar hingga ke luar.


"Ada apa Faraz?" tanya Bu Fareeda.


"Kenapa membangunkan semua orang?" sambung Ayah.


"Bahkan Kamu juga menggedor kamar Si Kembar." lanjut Bu Zeenat.


"Berhentilah bertanya, Alia akan segera melahirkan."


"Apa! ini kan baru 37 Minggu?" tanya Bu Fareeda.


"Itu usia yang cukup untuk di lahirkan." saut Zeenat.


"Berhentilah menghitung cukup atau tidak cukup, Sekarang bantu Alia Dia sangat kesakitan."


"Lalu kenapa Kamu tidak membawanya ke rumah sakit dan malah membangunkan semua orang Faraz?"


"Itu Dia Ibu, Alia bilang bayinya akan segera keluar, Bisa-bisa Dia melahirkan di jalan."


"Kalau begitu cepat Kita bantu," ucap Bu Fareeda yang langsung berlari ke kamar Alia dan di susul oleh Bu Zeenat.


"Ayah akan menelfon Dokter."


Faraz mengangguk dan kembali ke kamar.


Di ikuti oleh Nindi dan Ratna membawa Si Kembar yang masih menangis.


"Untuk apa Kalian ikut kesini, Pergilah diamkan Mereka, Aku tidak sengaja membangunkannya." ucap Faraz mengusap-usap kasar telinganya yang terasa penuh dengan tangisan kedua Putranya.


Nindi dan Ratna pun kembali ke kamar Si Kembar.


Faraz masuk ke kamar dan melihat Ibu dan Ibu mertuanya yang tengah membantu Alia melahirkan dengan pengalamannya masing-masing.


"Ibuuuu... Aaaaaaaaa..."


"Ayo Sayang, Posisikan dagu di atas dada dan tarik kedua kaki ke arah dada, Ini Akan membantu semua otot-otot bekerja dengan baik." ucap Bu Zeenat.


Alia menuruti perintah Ibu mertuanya dan mulai mengambil napas dalam-dalam.


"Kencangkan otot perut dan mulai mengejan sampai hitungan ke-10 Okey?"


Aliam mengangguk dan mulai mengejan di hitungan ke-10.


"Aaaaaaaaaaaaaaa...." tidak sampai 10 menit, Tangis bayi pun memenuhi ruangan.


"Oweee... Oweee... Oweee...." tepat pada pukul 23.45 WIB bayi perempuan lahir dengan selamat.


Semua orang menatap sang Bayi dengan rasa haru setelah melalui kegaduhan di malam hari.


Ibu Zeenat meletakkan sang Bayi ke perut Alia untuk mempererat ikatan batin antara Ibu dan Anak.


Faraz mendekati Alia dan mengecup keningnya sembari mengusap bayi mungilnya.


"Mas Adzani dulu." ucap Faraz dengan suara lembutnya.


Alia mengangguk dan menatap Faraz yang mulai mengadzani Bayinya.


Tidak lama kemudian Dokter dan beberapa perawat datang dan langsung menangani Alia. Kemudian Faraz memberikan bayinya pada perawat untuk di bersihkan.


Faraz menghelai nafas panjang akhirnya telah melewati peristiwa yang menegangkan baginya.


Bersambung..


GAK LAMA LAGI TAMAT YA, TIAP HARI MAKIN SEPI, MAU BIKIN NOVEL BARU AJA 😁