
BHRUKKK.... BHRUKKK... BHRUKKK....!!!
"Keluarlah pengecut!" pekik Faraz yang mendatangi rumah Barry.
"Tuan, Sepertinya Tuan Faraz mengetahui kejahatan Anda."
"Kau mengatakan ku jahat?" Barry mencengkeram kerah kemeja anak buahnya.
"M-m-maaf Tuan, Maksud Saya, Bagaimana jika Tuan Faraz mengetahui rencana Anda?"
"Kita akan lihat." Barry dan Anak buahnya bergegas keluar membukakan pintu.
Faraz langsung menarik kerah kemeja Barry dengan amarahnya.
"Berrraninya Kau mengusik keluargaku!"
"Apa-apaan ini!" Barry melepaskan tangan Faraz dan menghempasnya dengan kasar.
"Aku bisa diam saat Kau mencoba menjebakku dengan Wanita lain, Tapi Aku tidak akan tinggal diam jika Kau berrrani mengusik Anak dan istriku."
"Kau menuduhku tanpa bukti Faraz."
"Pengakuan Nindi dan dan Pelaku penculikan sudah jadi bukti kejahatan mu."
"Semua orang bisa biscara tanpa bukti, Apa polisi akan percaya begitu saja dengan pengakuan Mereka?"
"Brengsek Kau Barry! Jika Kau ingin bersaing dengan ku, Bersainglah secara sehat, Gunakan otakmu, Bukan menggunakan cara-cara kotor mu."
"Berhentilah membuat keributan di rumahku atau Aku akan memanggil polisi untuk menangkap mu karena telah berbuat gaduh."
"Kali ini Aku melepaskan mu, Tapi bersiaplah tidak lama lagi Aku akan membuktikan kejahatan mu." dengan kesal Faraz meninggalkan rumah Barry tanpa bukti apapun.
Barry terseyum smirk merasa dirinya menang dari Faraz.
•••
Dengan tubuh dan fikiran yang terasa sangat lelah Faraz sampai di rumah. Faraz langsung menuju kamarnya dan melihat pengawal pribadi berjaga di luar kamar Mereka.
Faraz menganggukkan kepalanya ke Mereka dan masuk ke kamarnya.
Faraz melihat si kembar telah tidur di box masing-masing.
sedangkan Alia tertidur di kursi antara Box Zayn dan Zayd.
Faraz melesapkan jas dan membuka sepatutnya. Kemudian membopong tubuh Alia untuk memindahkannya ke ranjang.
Belum juga sampai ranjang Alia membuka matanya.
"Mas sudah pulang?" lirihnya dengan mata yang masih mengantuk.
"Ya," Faraz membaringkan tubuh Alia ke ranjang.
Faraz beranjak dari duduknya namun Alia kembali menariknya.
"Mas baik-baik saja?" tanya Alia yang melihat Faraz diam tak seperti biasanya.
"Mas baik-baik saja, Mas hanya merasa lelah."
"Biar Aku pijitin."
"Dan Mas juga pasti capek kan seharian bekerja dan mengurus masalah lainnya?" Alia berdiri dengan kedua lututnya di belakang tubuh Faraz. Kemudian memijat pundaknya lalu naik memijat kepalanya.
Faraz mulai merasa nyaman dan rasa lelahnya seketika hilang.
Faraz terseyum dan meraih tangan Alia, Kemudian mengecupnya.
"Cup... Lama sekali Mas tidak merasakan belaian tanganmu." ucap Faraz mengecup tangan Alia.
Alia terseyum dan mencondongkan tubuhnya ke depan hingga kepala menukik ke bawah menatap wajah Faraz.
Faraz terseyum dan meraih tubuh Alia ke pangkuannya hingga wajah Alia sedikit lebih tinggi dari wajahnya, Keduanya saling berhadapan dan memancarkan kerinduan dari sorotan matanya.
Sejak Alia melahirkan dan menghadapi banyaknya masalah membuat keduanya tidak bisa menghabiskan waktu bersama secara intens.
"Aku sangat merindukanmu." Faraz mendekap Alia dengan membenamkan wajahnya di atas dadanya.
"Aku juga sangat merindukan Mas," Alia menengadahkan kepala Faraz agar menatapnya. Kemudian dengan lembut Alia mengecup keningnya. Faraz memejamkan matanya menikmati lembutnya kecupan Alia kemudian meraih bibirnya.
Faraz mengecupnya perlahan tanpa melu'matnya.
kecupan-kecupan lembut dan hangat Faraz berikan untuk sedikit mengurai kerinduannya yang teramat dalam. Faraz menahan gai'rah nya karena takut saat gai'rahnya memuncak kedua putranya akan menggagalkannya, Maka dari itu Faraz hanya bermain halus dengan Alia.
"Kapan Kita bisa menikmati waktu berdua tanpa takut di ganggu oleh si kembar?" tanya Faraz menjeda kecupannya.
Alia hanya tertawa mendengarnya.
"Aku ingin sedikit melupakan masalah yang tengah kita hadapi dan menghabiskan waktu bersama mu." ucap Faraz mengangkat tubuh Alia dan membaringkan kembali di ranjangnya.
"Mas bisa melakukannya sekarang, Sepertinya Si Kembar tidurnya anteng."
"Kamu sudah bersih?"
"Sudah."
Faraz terseyum lebar dan langsung menelusuri ceruk leher Alia yang jadi area favoritnya.
Alia menengadahkan kepalanya ke atas hingga lehernya terlihat semakin jenjang dan memudahkan Faraz mengesap dan meninggalkan banyak jejak di sana.
"Ssshhh... Ahhh... Hhhhh..." Alia menjambak rambut Faraz untuk menjauhkan Faraz terus mengesap lehernya.
Keduanya terdiam sesaat kemudian melanjutkan dengan tautan bibirnya. Saling mengesap dan melitkan lidahnya. Kenikmatan yang sudah lama tidak mereka rasakan membuat keduanya ingin berlama-lama saling memagut menikmati kenyalnya bibir masing-masing. sedangkan tangannya saling membuka pakaian satu sama lain dengan tidak melepaskan pagutannya.
"Eummm... Eummm.... Ahhh..." Faraz melepaskan pagutannya dan bersiap melesapkan miliknya. Namun belum sempat Faraz berhasil melesakkan miliknya, Terdengar salah satu bayinya menangis.
"Oweee... Oweeee.. Oweee..."
"Oh Astaga! Hahhhh..." Faraz merasakan sakit di bagian inti nya yang telah menegang sempurna.
"Maafkan Aku Sayang," ucap Alia yang langsung memunguti pakaiannya dan segera melihat bayinya.
Dengan memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, Faraz langsung pergi ke kamar mandi.
Bersambung...
INTIP JUGA PESONA MAJIKAN'KU YANG TENGAH MENIKMATI MALPERNYA 🤪🔥