Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
OTW Jogja


Faraz keluar dari kamar Alia tanpa mengatakan apapun.


Alia menoleh ke belakang dan hanya sekilas melihat Faraz pergi dari kamarnya.


Alia yang penasaran mengikuti Faraz keluar, Ia pun melihat Faraz naik mobilnya dan meninggalkan rumahnya.


"Nyebelin banget sih," ucap Alia kesal.


Bu Fareeda yang melihat Alia berdiri di depan pintu berjalan mendekatinya.


"Alia...


Sedang apa malam-malam berdiri di depan pintu?"


"Ee... Tidak Ibu, Aku hanya ingin mengunci pintu saja,"


"Lalu dimana Faraz, apa dia sudah tidur?"


"Dia.. Ee..."


"Apa dia pulang ke rumahnya?"


"Entahlah Ibu, Ee... Sudahlah Aku tidak peduli." ucap Alia yang langsung meninggalkan Ibunya dan masuk ke kamar.


Alia mengingat usaha Faraz beberapa hari ini dan merasa kecewa karena malam ini Faraz pergi tanpa mengatakan apapun.


"Aku fikir Dia benar-benar akan berubah, tapi baru segitu sudah menyerah," gumam Alia kesal.


°°°


Faraz sampai di rumahnya.


Shehzad dan Zeenat yang melihat kedatangannya hanya saling memandang dengan heran melihat kelakuan Putranya.


Zeenat segera beranjak dari duduknya untuk mengetahui apa yang akan Putranya lakukan.


"Aku akan lihat apa yang membuatnya terburu-buru sampai Dia tidak melihat Ayah dan Ibunya ada disini," ucap Zeenat.


Shehzad hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.


Faraz mengambil kopernya dan memasukkan pakaian dan keperluan lainnya ke dalamnya.


Ibu yang baru masuk merasa bingung melihat Faraz mengemasi barang-barangnya.


"Faraz, apa yang sedang Kau lakukan, Kau bilang ingin membawa Alia pulang tapi kenapa sekarang kamu yang berkemas?"


"Ibu, Alia masih keras kepala, Dia belum mau memaafkan ku,"


"Jadi maksud mu Kau yang akan tinggal di rumah Alia?"


"Tidak Ibu, Aku akan pergi bersamanya ke Jogja untuk menghadiri pernikahan Saudaranya,"


"Syukurlah, Semoga setelah kepulangan kalian dari Jogja hubungan kalian kembali membaik,"


"Aku janji Ibu," ucap Faraz mengusap pipi ibunya dan memeluknya.


°°°


Dev pulang ke rumah, Ia masuk ke kamar dan melihat Kavita sudah tidur,


Ia pun duduk di samping Kavita dan menatap wajahnya.


pipinya terlihat masih di basahi oleh sisa air matanya, matanya pun terlihat sembab hingga membuat Dev merasakan penyesalan di hatinya.


Kavita yang merasa terusik dengan sentuhan tangan Dev perlahan membuka matanya,


Menatap wajah Dev membuat Kavita kembali menangis mengingat apa yang Dev lakukan kepadanya.


"Maafkan Aku," ucap Dev.


Kavita yang yang mendengarnya langsung memeluk Dev dengan haru.


"Jangan lakukan itu lagi Dev, hiks hiks hiks."


"Kau sudah makan?"


Kavita menggelengkan kepalanya.


"Kau harus makan demi bayi yang ada di perut mu," ucap Dev.


Kavita mengangguk dan mengusap air matanya.


°°°


Keesokan harinya.


Alia dan Ibunya sudah siap berangkat ke Jogja.


Supir taksi pun mulai memasukan satu persatu barang bawaan mereka.


Ibu juga bersiap masuk ke dalam taksi. Namun Alia masih terpaku di tempatnya.


"Alia, Apa Kau menunggunya?" tanya Ibu.


"Ee... Tidak," ucap Alia yang langsung masuk ke dalam taksi.


"Apa cuma karena Kau tidak mau memakai kereta lalu Kau pulang dan melupakan permintaan maaf mu," batin Alia merasa sedih.


"Ayo Pak jalan," ucap Bu Fareeda.


"Tunggu!!!"


Supir taksi yang baru menjalankan mobilnya kembali mengerem mendadak saat melihat seorang Pria menghentikan taksinya.


Ibu dan Alia berusaha melihat apa yang terjadi di depan.


Seketika senyum Alia terukir saat melihat Faraz lah yang menghentikan taksinya.


Faraz langsung masuk ke dalam taksi dan duduk di sebelah supir.


Alia segera menyembunyikan senyumnya, Dan kembali pura-pura jutek padanya.


"Maafkan Aku Ibu, Maafkan Aku Alia, setelah berkemas Aku ketiduran jadi Aku baru datang sekarang," jelas Faraz.


"Aku tidak bertanya," ucap Alia memalingkan wajahnya sembari menahan senyum bahagia di hatinya.


"Baiklah jalan sekarang," ucap Ibu.


Faraz menghelai nafas panjang dan melihat Alia dari kaca spion dalam mobil.


"Tidak lama lagi," batin Faraz.


Sekitar tiga puluh menit Mereka sampai stasiun.


Faraz yang baru pertama kalinya menginjakan kaki di stasiun tercengang melihat suasana stasiun yang begitu ramai hingga membuat orang-orang saling berdesakan.


"Faraz! Apa Kau mau berdiri saja disitu?" tanya Ibu.


"Ee... Tidak Ibu," dengan berat hati Faraz melangkah mengikuti Mereka.


"Alia kenapa Kau memilih kereta api dari pada naik pesawat atau mobil pribadi, Lihatlah ini sangat ramai, Tempatnya pun sangat kotor," keluh Faraz yang terus mencoba menghindari bersenggolan dengan orang-orang.


"Agar Kau bisa belajar menghargai orang yang tidak seberuntung dirimu," ucap Alia dengan jutek.


Faraz terdiam mendengar ucapan Alia.


"Masuklah," ucap Alia yang sudah berdiri di pintu gerbong.


Alia yang melihat wajah cemas Faraz sedikit melunakan hatinya dengan mengulurkan tangan padanya.


Faraz yang melihat uluran tangan Alia terseyum dan langsung meraihnya.


Faraz pun masuk ke gerbong dan mengikuti Alia yang terus menggandeng tangannya.


Bersambung...