
"Sekarang pergilah dari sini dan Aku harap ini menjadi pertemuan Kita yang terakhir."
Kavita masih terdiam tak percaya melihat Faraz yang benar-benar telah berubah. Hingga Ia di kagetkan oleh tangisan bayinya.
Faraz menurunkan pandangannya pada bayi itu, Ada sedikit rasa kasihan melihat bayi itu, Namun yang di lakukan Ibunya menurutnya itu sangat keterlaluan.
Kavita masih membiarkan bayinya menangis dan terus menatap Faraz dengan penuh harap.
"Kavita pergilah, Jangan gunakan bayi mu untuk meluluhkan hatiku, Kamu tau dari dulu Aku tipe orang yang setia, Jika Aku sudah mencintai satu orang, Aku hanya akan melihat orang yang ku cintai, Aku tidak akan pernah mau apa lagi ingin bermain hati dengan wanita lain."
"Orang bilang cinta pertama sulit di lupakan Dan Aku cinta per..."
"Kamu cinta pertama ku dan Aku sudah melupakannya, Kini cintaku hanya untuk Istriku, Untuk Alia, Yang kini sangat-sangat Aku cintai, Aku bukan hanya ingin menjadikan Dia cinta terakhir ku, Melainkan Aku Ingin sehidup sesurga bersamanya."
Kavita terhenyak mendengar ucapan Faraz.
"Laki-laki seperti ini kah yang dulu Ia sia-siakan, Yang mencintai cukup satu wanita tanpa tergoda wanita lain, Padahal Faraz bisa bergonta-ganti pasangan manapun dengan kekayaan dan ketampanannya." batinnya terus berkecamuk menyesali kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Kavita Aku tidak ingin lagi bicara kasar pada mu, Terlebih di depan bayi mu. Jadi sekarang pergi dan kembali lah bersama suami mu, Apapun keadaan suami mu sekarang, Itu sudah jadi pilihan mu."
Dengan sangat terpaksa, Kavita mulai melangkah keluar.
Dia sampai rela mengesampingkan harga dirinya dan menjalankan usaha terakhirnya untuk kembali bersama Faraz. Namun Ia harus menelan pil pahit dengan penolakan mentah-mentah dari Faraz.
Kini mau tidak mau Ia harus melanjutkan rencana cadangannya, Ya itu dengan sangat terpaksa menerima tawaran kembali bersama Dev.
"Antar Wanita yang menggendong bayi yang baru keluar dari ruanganku." ucap Faraz pada supir perusahaan melalui sambungan telfonnya.
Meskipun Faraz marah pada Kavita, Namun Ia tidak tega melihat Bayinya yang harus menaiki kendaraan umum di bawah teriknya matahari.
•••
Malam Hari.
Faraz yang baru pulang langsung memeluk Alia yang tengah menyajikan makanan di meja makan.
"Hey!" Alia terkejut dan menoleh ke samping sesaat.
Faraz membenamkan wajahnya di ceruk leher Alia dan menghirup aroma tubuh Alia yang begitu sangat memabukkan dirinya.
"Mas... Mandi dulu sana." protes Alia sambil melepaskan tangan Faraz dari perutnya.
"Mandinya nanti sekalian, Kamu sudah gak flu kan?"
"Memangnya kalau gak flu mau apa, Lagian Kita belum makan?"
"Aku tidak ingin makan apapun, Aku ingin segera memakan mu." Faraz menarik panggul Alia merapat ke tubuhnya dengan nafas yang sudah menderu.
"Sayang apa yang membuatmu tidak sabar?" Alia kembali berusaha melepaskan diri namun Faraz tidak membiarkannya. Faraz langsung membopong tubuh Alia dan membawanya ke atas.
Faraz membaringkan tubuh Alia dan langsung membuka jas dan jugga kemejanya. Di ikuti oleh sabuk dan celana panjangnya.
Alia yang duduk di tepi ranjang hanya bisamenatap Faraz tanpa bisa memprotesnya.
"Aku sudah lama berpuasa, Sekarang Aku tidak bisa menunda meskipun hanya satu menit saja." dengan bertumpu pada kedua lututnya, Faraz mengungkung tubuh Alia dan langsung melu*mat bibirnya dengan penuh gair*ah yang telah memuncak.
"Eummm... Eumcchh..." Faraz mengangkat ceruk leher Alia untuk memperdalam ciumannya.
"Ahhh.... Ssshh... Maaasss..." des*ah Alia yang begitu menikmati setiap sapuan bibir dan lidah Faraz.
Kini tangan Faraz telah masuk ke dalam kaos oblong yang Alia kenakan, Alia yang memang tidak pernah mengenakan bra saat malam hari memudahkan Faraz mencengkram kedua buah itu tanpa halang-halang apapun.
"Sssstttt Ahhh...." desa*ah Alia yang merasakan cengkraman tangan Faraz begitu kuat pada dadanya.
Sambil terus menelusuri leher jenjang Alia, Faraz terus mencengkeram buah itu dan menurunkan sapuan bibirnya ke ujung dada dan langsung melahap put*ing yang terlihat menantang dirinya.
"Ahhh... Maaasss..." Alia terus meliuk-liuk mengikuti tangan Faraz yang terus aktif merayapi setiap inci tubuhnya.
Faraz melucuti semua pakaian yang masih melekat di tubuh Mereka dan memiringkan tubuh Alia agar menghadapnya. Kemudian Faraz merapatkan tubuhnya dan mengakat sebelah kakinya.
"Masss..." Alia langsung menyembunyikan wajahnya di dada Faraz saat Faraz mulai menghujamkan miliknya.
"Arrrgghhhh..." erang keduanya saat miliknya menyatu sempurna.
Alia menggigit bibir bawahnya merasakan milik Faraz memenuhi miliknya. Sementara Faraz mendiamkan sejenak menikmati pijitan hangat dari dalam sana.
"Cuphhh.." Faraz mengecup bibir Alia sekilas dan mulai menghentakan miliknya secara perlahan.
"Ssshhh... Ahhh..." keduanya mulai mende*sah bersautan.
posisi yang sedikit menyulitkan namun memberikan sensasi yang luar biasa di setiap hentakannya. Membuat permainan Mereka semakin terasa begitu nikmat setelah sekian lama Mereka harus menahan karena pemulihan Alia.
"Haghhh.... Hhhgghhh... Kau menyukainya?" tanya Faraz yang terus mempercepat hentakannya.
"Ahhh... Ahhh... Sssshhh..." Alia menggelengkan kepalanya sambil terus memejamkan mata menikmati setiap hentakan yang Faraz berikan.
Dengan mempererat cengkramannya pada paha Alia Faraz mulai menegang. Begitupun dengan Alia yang mencengkeram kedua pundak Faraz saat tubuhnya terasa ingin meledak.
"Arrrgghhhh... Ssshhh.. Aghhh..." erang Faraz seiring ledakkan benih-benih kehidupan di dalam rahim Alia.
"Ahhh.. Ahhh..." Alia terkulai lemas menyembunyikan wajahnya di dada Faraz yang telah basah di penuhi keringat.
"Ughhhhh..." Faraz mencengkeram bok*ong Alia saat merasakan denyutan milik Alia yang masih mengesap miliknya dengan kuat.
"Oughhh Sayang... Ahhh..." Faraz mencabut miliknya dan terkulai di samping Alia.
"Ahhh... hhhhh..." Alia masih mengatur nafasnya sembari memejamkan matanya.
Faraz bangkit kembali dan mengusap perut Alia.
Kemudian mendekatkan bibirnya dan membaca Do'a agar segera memiliki keturunan.
“Allahummarzuqni waladan liusammihi bismi nabiyyika muhammad shollallohu alaihi wa alaihi”
Artinya: "Ya Allah karuniakan keturunanku agar aku dapat menemaninya dengan nama Nabi Muhammad SAW."
Faraz mengecup dan mengusap perut Alia dengan penuh kasih sayang.
Alia terseyum dan mengusap rambut Faraz.
Bersambung...
MAAF BARU UP, SELAIN HARI INI SIBUK, AUTHOR JUGA KEHABISAN KUOTA, JADI DI TUNGGU SAWERANNYA, IKUT NGOS-NGOSAN NIH NGETIKNYA WKWKWK 🤣