
Faraz Keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Gerakan tangannya terhenti saat melihat Alia yang tengah memijat dadanya dengan menggigit bibir bawahnya seperti menahan rasa sakit.
Faraz pun melempar handuknya dan mendekati Alia.
"Sayang... Kenapa?"
"Sakittt banget." ringis Alia sambil terus memijat dengan gerakan memutar.
"Apa ini karena Kamu tidak menyu'sui?"
"Iya, Mas sih nyuruh buru-buru jadi Aku lupa masukin pompa Asi nya."
Tanpa bertanya Faraz langsung memegang dada Alia.
"Awwhhh Sakittt..." Alia menepis tangan Faraz yang menekan dadanya.
"Aku akan membantumu, Berbaringlah?"
"Bagaimana caranya, Emang bisa?"
"Serahkan pada ku."
Tanpa bertanya lagi Alia membaringkan tubuhnya di ranjang.
Faraz yang memang hanya mengenakan boxer merangkak naik di atas tubuh Alia. Kemudian Faraz memberikan pijatan memutar di dada Alia secara perlahan.
Alia memejamkan mata sembari menggigit bibir bawahnya menahan sakit akibat pijitan yang Faraz lakukan.
"Ini keras sekali." ucap Faraz.
"Iya, Makanya sakit banget."
"Tunggu sebentar." Faraz beranjak dari ranjang dan pergi ke kamar mandi.
Lima menit kemudian Faraz kembali dengan membawa wadah berisi air hangat dan handuk kecil.
"Bukalah."
"Hagh!"
"Buka, Aku akan mengompresnya."
Alia pun membuka seluruhnya hingga dadanya menyembul seluruhnya.
Faraz menelan salivanya melihat payu'dara Alia yang tampak begitu membengkak di sertai kemerahan.
"Cepet, Kenapa Mas diam." ucap Alia membuat Faraz tersentak.
"E-e Ya." Faraz duduk di depan Alia dan mulai mengompresnya. Namun baru sedikit Faraz menyentuh Alia kembali meringis kesakitan.
"Aowwh, Ini sakit sekali."
Faraz kembali meletakkan handuk kecil ke dalam wadah dan meraba lembut dada Alia. Kemudian mendekatkan wajahnya dan melu'mat bibir Alia sambil terus memijit.
"Kamu akan merasa lebih baik." ucap Faraz di sela ciumannya.
Alia memejamkan mata untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Namun setelah beberapa menit bercumbu, Tidak mengurangi rasa sakit yang Alia rasakan.
"Baiklah sepertinya Aku harus menggantikan Zayn dan Zayd." ucap Faraz yang langsung melahap puncak bukit yang tengah menjulang tinggi itu.
Esapan kuat yang Faraz berikan berhasil mengosongkan Asi yang sejak tadi tersumbat sehingga terjadi pembengkakan.
"Kamu merasa lebih baik?"
Alia hanya mengangguk kecil karena esapan yang Faraz berikan membuat dirinya terang'sang.
Faraz terseyum lebar melihat mimik wajah Alia. Faraz tau betul jika sang istri menginginkannya. Dengan penuh semangat Faraz pun memberikan nafkah batinnya pada Alia.
Pagi hari sambil sarapan, Alia yang mengingat perilaku Malvin saat Mereka bertemu di depan lift. Alia berfikir untuk memberitahukan ketidak nyamanannya pada Faraz. Dengan menarik nafas dalam-dalam Alia mulai membuka pembicaraan.
"Mas, Ada sesuatu yang menggangu fikiranku."
"Apa?"
Alia pun menceritakan bagaimana perkataan dan sikap Malvin padanya. Namun hal ini malah di tanggapi dengan tertawa oleh Faraz.
"Kok Mas malah tertawa?"
"Karena Kamu memang cantik Sayang, Masa Mas harus marah sama orang lain mengatakan Istri Mas cantik?"
"Tapi cara bicara Tuan Malvin itu beda Mas, Tatapan matanya juga seperti... Seperti tersirat sesuatu."
"Sayang, Tuan Malvin akan melakukan kerjasama dengan perusahaan Kita, Dia tidak mengungkin berbuat macam-macam padamu. Jika Dia berani melakukannya, Dia akan kehilangan kesempatan untuk bekerjasama dengan perusahaan Kita.
"Tapi Mas..."
"Sudahlah Sayang, Jangan di fikirkan, Tuan Malvin masih muda, Kaya, Belum menikah, Jadi terkadang keisengan seperti itu bisa terjadi, Jangan terlalu di tanggapi."
Alia pun terdiam mengalihkan pandangannya, Ia benar-benar tidak puas dengan jawaban Faraz yang tidak menanggapi serius akan kerisauan hatinya.
Kemudian Faraz beranjak dari duduknya dan mengecup pucuk kepala Alia.
"Mas harus menemuinya sekarang, Jika Kamu bosan, Lakukan panggilan Video pada jagoan Kita."
Alia hanya terdiam melihat kepergian Faraz.
Baru sepuluh menit Faraz keluar, Pintu kembali di buka. Alia yang masih merasa jengkel mengabaikan langkah kaki yang terdengar mulai mendekatinya. Kemudian Alia beranjak dari duduknya. Namun langkahnya terhenti ketika Ia di peluk dari belakang.
Alia yang berusaha mengurai tangan yang melingkar di perutnya tersentak karena menyadari jika tangan kekar itu bukanlah tangan Faraz.
"Oughhh..." lenguh orang itu sembari menghirup tengkuk leher Alia dengan nafas yang gemuruh.
Alia menoleh ke samping mencoba melihat wajah orang tersebut. Namun Alia tak bisa melihatnya. Alia juga berusaha keras melepaskan tangan yang melingkar erat di perutnya. Namun tangan lembutnya tidak mampu mengurai tangan yang penuh otot kekar itu.
"Lepasin!" Alia memukul-mukul tangan itu dengan seluruh kekuatannya. Namun pukulan itu sepertinya tidak terasa baginya. Dengan nafsu birahinya Dia terus menelusuri leher Alia yang aromanya begitu memabukkan dirinya.
"Toloooooonggg..."
Teriakan Alia membuatnya tersentak dan langsung melepaskan Alia.
Alia menjauh darinya dengan gerakan memutar ke belakang dan betapa terkejutnya yang melecehkannya adalah Tuan Malvin.
Sedangkan Faraz yang di beritahu Silvi jika Tuan Handoko tidak menyetujui pertemuannya di hotel dimana Mereka menginap, Pertemuan pun di pindahkan ke Cafe.
Faraz yang baru sampe di cafe tersebut. Tiba-tiba hatinya merasa resah. Seperti merasakan hal buruk yang tengah terjadi pada Alia.
Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, Kakinya seakan memintanya untuk kembali ke hotel dan tidak melanjutkan pertemuan.
"Ada apa Tuan?" tanya Silvi yang menyambut kedatangan Faraz.
"Tidak, Ayo masuk." Faraz mengajak Silvi masuk dan tidak melihat Malvin maupun Tuan Handoko dan rekan lainnya.
"Mereka belum datang?"
"Sebentar lagi Tuan, Kita tunggu saja."
Meskipun hatinya begitu resah, Tapi Faraz berusaha profesional dan menunggu yang lainnya datang.
🤍🤍🤍🤍🤍
NOTE : Para ulama memperbolehkan suami meminum Asi istri dengan sengaja apa bila di butuhkan semacam untuk berobat.
Misalnya : Bila sang istri mengalami mastitis [ Mastitis adalah infeksi yang menyebabkan peradangan atau pembengkakan payu'dara pada Ibu menyusui ]
Sebab hisapan orang dewasa lebih kuat di bandingkan bayi sehingga suami seringkali lebih berhasil membersihkan penyumbatan yang terjadi di payu'dara istri. Namun bila tidak ada kebutuhan, Ulama di kalangan madzhab Hanafi berselisih pendapat. Ada yang mengatakan boleh dan ada yang me-makruh-kan hal itu.