Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Si Bucin & Si Cupu


Bu Fareeda memalingkan wajahnya dan terlihat masih sangat marah.


"Fareeda bisa kita duduk bersama dan menyelesaikan masalah ini?" tanya Zeenat.


"Fareeda... Kita berikan kesempatan pada anak-anak kita untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi,"


Fareeda pun duduk tanpa berbicara apapun.


"Faraz..." Ibu memberi kode pada Faraz agar menjelaskan pada Bu Fareeda.


"Ee.. bibi.. sebenarnya Aku dan A... Anak bibi tidak ada hubungan apapun, baik hati maupun fisik kita tidak punya hubungan, bahkan sebelumnya kami tidak mengenal sama sekali,"


"Ya itu benar Ibu, Aku hanya bertemu dengan nya tiga kali dan itu pun tidak sengaja." sambung Alia.


"Ya, bahkan pertemuan yang ke tiga terjadi setelah tiga tahun Aku di Malaysia, dan karena saat itu Aku... Aa... Aku... Mm... Ma.. buk.... Jadi Alia membawa ku kesini,


Setelah itu Aku tidak ingat apapun." ucap Faraz menutup pembicaraan.


"Alia apa penjelasan mu? Apa yang terjadi setelah Faraz tidak sadarkan diri?" tanya Zeenat.


"Ee..bibi..." Alia mengingat saat Alia terjatuh di tubuh Faraz saat membaringkan tubuhnya.


Alia juga mengingat saat Faraz terus menggenggam tangannya dan memintanya jangan pergi.


Faraz, Bu Zeenat dan Bu Fareeda menatap Alia menunggu jawabannya.


"Apa telah terjadi setelah itu, Apa terjadi sesuatu di antara kita?" bisik Faraz menggagetkan Alia.


"Haaghh!" Alia menatap Faraz bingung.


"Apa kamu yang melakukan sesuatu pada ku?" lirihnya lagi.


"Apa Kau sudah gila?" ucap Alia kesal.


"Ya siapa tau, Aku kan tampan, mungkin saja kamu mengambil kesempatan saat Aku tidak sadarkan diri," lirih Faraz lagi.


"Apa Kau fikir kamu Shah Rukh Khan sampai semua gadis ingin mengambil kesempatan saat ia tidak sadar?" ucap Alia semakin kesal.


"Aku memang bukan Shah Rukh Khan, tapi mata ku lebih indah darinya dan pesona ku tidak kalah darinya." ucap Faraz sambil merapikan rambutnya penuh percaya diri.


"Percuma saja kamu tampan kalau tidak bisa Move On dari mantan," ejek Alia.


"Kau..." Faraz yang merasa kesal mencengkram lengan Alia hingga wajah mereka menjadi begitu dekat.


"Apa kamu lihat itu Zeenat, Mereka tidak bisa dipercaya, kita menunggu penjelasan, tapi mereka sibuk berbisik-bisik, entah kebohongan apa lagi yang sedang mereka susun," ucap Fareeda.


"Faraz... Alia... apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Kami menunggu penjelasan dari kalian!" tegas Bu Zeenat.


Faraz segera melepaskan lengan Alia dan kembali menatap ibunya.


"Ee... Ibu... Nyonya... Tidak terjadi apapun diantara kami, begitu Faraz tidur Aku juga ikut tidur,"


ucap Alia.


"Apa kalian tidak bersama, satu ranjang?" tanya Zeenat memastikan.


"Tidak nyonya, Faraz tidur di ranjang sedangkan Aku di bawah menggunakan kasur lantai," jelas Alia.


"Lalu kenapa kamu memanggilnya Sayang dan menyuruh Alia mengatakan yang sebenarnya?" tanya Bu Fareeda.


"Ee... Aku hanya bercanda bibi... Aku hanya ingin menjahilinya saja," ucap Faraz.


"Percayalah pada kami Ibu, kami tidak melakukan apapun," sambung Alia


Bu Fareeda dan Zeenat saling melihat mendengar penjelasan Faraz dan Alia.


"Ya baiklah, kali ini Ibu percaya pada kalian, tapi jika kalian ketahuan berbohong ibu tidak akan memaafkan kalian," ucap bu Fareeda


Alia dan Faraz menganggukan kepalanya.


"Faraz kamu juga harus minta maaf pada Alia." ucap Zeenat.


"Apa! kenapa Aku harus minta maaf padanya?" ujar Faraz.


"Jelas kamu harus minta maaf, kamu sudah di tolong oleh Alia tapi kamu malah bicara yang membuat Alia dimarahi oleh ibunya."


"Ya baiklah maaf." ucap Faraz tanpa melihat Alia.


"Maaf apa, dengan siapa kamu minta maaf, Katakan dengan benar?" tegas Zeenat.


"Ee... Cupuuu.." semua orang tercengang menatap Faraz.


"Ee maksudku Alia, Alia Maafkan Aku," ucap Faraz melihat Alia sekilas.


"Dasar Bucin," gumam Alia.


"Apa kamu bilang?"


"Apa Kau mendengar sesuatu?"


"Ya... Aku mendengar kamu mengatakan sesuatu, tapi Aku tidak begitu jelas mendengar nya,"


"Apa pendengaran mu sudah bermasalah?" ledek Alia.


"Kau ini...."


"Faraaaaz! Kenapa Ibu perhatikan kalian selalu saja bertengkar?" tanya Zeenat.


"Bukan Aku Ibu tapi gadis cupu ini, Aku minta maaf tapi Dia malah mengatakan sesuatu pada ku," ucap Faraz kesal.


"Kamu yang mulai duluan dengan memanggil ku cupu,"


"Memang itu kenyataannya,"


"Dan Aku juga bilang kenyataannya,"


"Memang apa yang tadi Kau katakan?"


"Dasar Bucin."


"Apa! Jadi kamu tadi bilang Aku bucin?"


"Faraaaaz cukup!" Zeenat menghentikan pertengkaran mereka.


"Maafkan Putra ku Fareeda terkadang sikapnya memang masih ke kanak-kanakan.


Bu Fareeda mengangguk dan melihat Faraz.


"Kalau begitu kami pulang dulu," ucap Zeenat beranjak dari duduknya.


"Ya baiklah, Terimakasih," ucap Fareeda.


"Faraz Ayo..."


"Masalah kita belum selesai." ucap Faraz menunjuk dengan dua jarinya dari mata ke mata.


Alia cemberut kesal melihat Faraz.


°°°°


Bersambung....