
"Alia.... Faraz... Kalian sudah datang, Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Bu Fareeda yang baru keluar kamar setelah mendengar pertengkaran mereka.
"Kami menghindari kerumunan orang-orang Ibu, jadi kami masuk tanpa mengetuk pintu, maafkan kami," ucap Alia.
"Lalu kenapa dengan kening mu?" tanya Ibu yang melihat kening Alia sedikit memar.
"Oh ini tebentur mobil, Ibu jangan khawatir ini hanya hal kecil,"
Faraz melihat memar di kening Alia.
"Baiklah apa kalian ingin makan sekarang?"
"Tidak Bibi... Eee... Maksudku... Ibu, Aku tidak ingin apapun Aku hanya ingin segera membersihkan diri," ucap Faraz.
"Baiklah, Alia antar suami mu ke kamar, Ibu akan keluar sebentar."
"Baiklah Ibu,"
Alia pun mengajak Faraz ke kamarnya.
Faraz melihat seisi kamar Alia dan melihat tempat tidurnya.
"Apa ini yang di sebut kamar? Bahkan kamar pembantu ku lebih besar dari ini," ejek Faraz.
"Kalau begitu tidurlah di kamar pembantu mu," jawab Alia kesal.
"Kenapa kamu tersinggung, Aku kan bicara kenyataan."
"Jika kamu bermasalah dengan kamar ku malam ini kamu jangan tidur di kamar ku!"
Faraz terdiam mendengar nya.
"Sekarang pergilah mandi karena Aku tidak ingin berdebat dengan mu." Alia memberikan handuk pada Faraz.
"Aku tidak butuh ini, Aku sudah bawa sendiri."
"Ya baguslah," ucap Alia kesal.
"Dimana kamar mandinya," Faras melihat semua sisi kamar Alia.
"Di dekat dapur."
"Apa! Apa kamu serius?"
"Apa Aku terlihat bercanda?"
"Bukan begitu, Maksudku... memangnya di kamarmu tidak ada?"
"Apa kamu melihat di kamarku ada kamar mandi?"
"Tidak Ada, Tapi kenapa harus diluar?"
"Karena kamar mandinya di pakai bersama."
"Apa! Di pake bersama? Tidak bisakah kalian membuat kamar mandi sendiri di kamar masing-masing?"
Alia menahan kekesalannya.
"Bahkan pembantu ku memiliki kamar mandi masing-masing di kamarnya,"
"Apa kamu begitu mencintai pembantu mu sampai kamu terus bicara tentangnya?"
"Apa kamu bilang?" ucap Faraz kesal
"Sudahlah Bucin... Jika kamu tidak mau mandi di kamar mandiku, pulanglah dulu ke rumah mu setelah itu kembali lagi kesini,"
Faraz meninggalkan Alia dengan kesal.
Faraz berjalan sembarang arah mencari di mana letak kamar mandinya,
Setelah melewati semua ruangan, akhirnya Faraz menemukan kamar mandi nya.
Ia kembali merasa bingung melihat isi dalam kamar mandi.
"Cupuuu...." tiak Faraz.
"Ada apa lagi si Bucin itu..." gumam Alia keluar dari kamarnya.
"Cupu kenapa di kamar mandi mu hanya ada gayung dan ember ini?" ucap Faraz sambil menenteng ember dan gayung di tangannya.
"Bukan itu maksud ku, kenapa kamar mandinya tidak ada Shower, Water Heater maupun Bathub?"
"Apa menurutmu kamar mandi sekecil itu muat jika di taruh Bathub?"
"Jika tidak ada Bathub setidaknya ada Shower Cupuuu..."
"Kenapa kamu selalu meributkan hal hal kecil? Mandi itu yang penting kan ada Air, bukan shower maupun Bathub."
"Oh ya Ampun... Sehari saja Aku disini bisa gila," dengan kesal Faraz kembali masuk ke kamar mandi.
Alia menggelengkan kepalanya dan melangkah pergi.
Baru dua langkah Alia meninggalkan kamar mandi, Faraz kembali berteriak.
"Aaawwwwhhh... Sssstttt...."
"Kenapa lagi dengannya," ucap Alia geram.
Alia pun membuka pintu kamar mandi yang kebetulan belum di kunci.
"Ada apa lagi sekarang?"
"Apa kamu tidak melihatku jatuh seperti ini?" tanya Faraz yang terjatuh di lantai kamar mandi.
"Apa kamu tidak pernah membersihkan kamar mandi ini? Kamar mandinya licin sekali." gerutu Faraz.
"Mungkin setelah banyak orang kemarin, Ibu ku belum sempat membersihkan nya dan Aku kan ikut kerumahmu bagaimana Aku membersihkannya?" ucap Alia yang masih santai bersandar di pintu.
Faraz berusaha bangun namun kembali terpleset.
"Awwhhh... Cupu... Jika kulit ku lecet sedikit saja, Aku akan membalas mu," ucap Faraz kesal.
"Kemarilah." Alia mengulurkan tangannya.
"Aku tidak butuh bantuan mu," Faraz kembali berusaha bangun.
"Aaahhh...." Faraz jatuh kembali.
Alia yang melihatnya menahan tawanya.
"Apa kamu akan terus tertawa dan tidak akan membantu ku?!"
"Tadi bilang tidak butuh bantuan ku," gumam Alia.
"Apa kamu mengatakan sesuatu?" tanya Faraz yang tidak begitu mendengar apa yang Alia katakan.
"E-e... Tidak, Kemarilah Aku akan membantumu," Alia Kembali mengulurkan tangannya.
Dengan wajah kesalnya Faraz menarik tangan Alia.
"Aaawwwwhhh...." Alia yang tak siap dengan tarikan tangan Faraz yang begitu kuat malah ikut terjatuh di atas tubuh Faraz.
"Aawwhhh... Kepala ku," rintih Faraz memegangi kepalanya.
"Cupu Kauuu...." Faraz terdiam melihat Wajah Alia yang begitu dekat dengan wajahnya.
Keduanya menjadi hening dan menatap satu sama lain.
Setelah cukup lama Faraz tersadar dan mengalihkan pandangannya.
Alia pun menjadi sangat gugup hingga jantungnya berdegup dengan sangat kencang.
Faraz kembali menatap Alia karena merasakan degupan jantung Alia.
"Apa kamu menyukai ku?" pertanyaan Faraz yang tanpa basa-basi mengagetkan Alia.
"Apa!"
"Apa Kamu menyukai ku?"
"A.... A-p... Apa yang kamu katakan?" Alia langsung bangun dari atas tubuh Faraz.
"Degupan Jantung mu mengatakan semuanya," ucap Faraz tersenyum smirk.
Alia menjadi salah tingkah dengan apa yang Faraz katakan.
Bersambung...