Perjalanan Cinta Sang Duda

Perjalanan Cinta Sang Duda
Pagi Yang Dingin


Sinar mentari pagi menerobos masuk disela jendela kamar.


Alia yang masih tidur di dada Faraz mulai terusik Akan sinarnya.


Alia mendongakkan kepalanya menatap Faraz yang masih tertidur pulas memeluk pundaknya.


Alia terseyum mengingat percintaan panas yang telah Mereka lalui hingga menjelang pagi.


Senyumannya terhenti saat Ia mendengar bunyi ponselnya.


Alia menurunkan tangan Faraz dari pundaknya, kemudian mencari-cari tasnya.


Alia melihat tas kecilnya yang berserak di lantai, Dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, Alia turun dan meraih ponselnya.


Faraz yang merasa terusik dengan pergerakan Alia mulai membuka matanya, Samar-samar Ia melihat punggung mulus Alia yang tengah duduk membelakanginya.


"Alia... Kalian kemana, kenapa pagi-pagi begini kalian sudah tidak ada di kamar?" terdengar suara Bu Fareeda dari ujung telepon.


Belum sempat Alia menjawab Faraz memeluknya dari belakang dan menciumi pundaknya.


Alia terkejut dan menoleh kebelakang.


"Alia jawab pertanyaan Ibu!"


"Eee... Aku.... Aku ada di... Ee... Kami sudah kembali ke Jakarta Ibu," ucap Alia terbata-bata.


"Apa! Kalian kembali ke Jakarta tanpa memberitahu Ibu?"


Faraz yang mendengar percakapan mereka tidak memperdulikannya dan terus menelusuri leher jenjang Alia.


Alia mencoba menyingkirkan tangan Faraz dari pundaknya, Namun Faraz tidak memperdulikannya.


"Maafkan Aku Ibu, Semalam Ibu Zeenat memberi tahu kami jika kami harus pulang malam itu juga, Jadi kami tidak berpamitan pada Ibu dan Bibi, sampaikan permintaan maaf Kami pada mereka,"


"Baiklah terserah kalian saja!" ucap Bu Fareeda mengakhiri telfonnya dengan kesal.


"Ibu......"


Tut... Tut....Tut ...Tut...


Alia pun menutup ponselnya dengan sedih.


"Faraz hentikan!" ucap Alia yang terus mendapat ciuman dari Faraz.


Faraz terdiam menghentikan aksinya.


"Faraz! ini semua gara-gara Kamu, Aku jadi terpaksa berbohong pada Ibu, Dan sekarang Ibu marah padaku."


"Tidak perlu sedih, Ibumu kan memang seperti itu, Bawaanya pengin marah-marah melulu," ucap Faraz dengan santainya.


"Jangan menjelek-jelekkan Ibuku seperti itu." Alia memukul-mukul Faraz dengan bantal.


Faraz melindungi diri dengan kedua tangannya.


"Alia... Aku tidak bermaksud menjelek-jelekakkan Ibumu, Tapi kenyataannya memang begitu, Ibumu selalu saja marah-marah padaku."


"Itu karena sikapmu yang menjengkelkan," ucap Alia yang terus memukul Faraz menggunakan bantal.


"Dan bagaimana pun juga Dia Ibu Mertuamu yang harus Kau hormati," lanjut Alia.


"Ya Aku tau, maksudku adalah... Kau tidak perlu bersedih karena hal itu, Ibumu memang suka marah tapi nanti juga baik lagi, jadi tidak perlu di pusingkan." Faraz merebut bantal yang ada di tangan Alia lalu menjatuhkan tubuh Alia dan menindihnya.


"Kenapa pagi-pagi membuat keributan, Bukankan udara pagi ini masih sangat dingin?"


"Lalu?" Alia terus menggeliat berusaha melepaskan diri.


"Lalu diam dan nikmati pagi yang dingin ini," ucap Faraz yang menatap Alia penuh gairah.


"Faraz Kita..." Belum sempat Alia menyelesaikan ucapannya, Faraz menyambar bibir Alia hingga membuatnya tak dapat bicara.


"Faraz..." Alia memukul-mukul pundak Faraz. Namun Faraz kembali membungkamnya.


Alia yang sebelumnya menolak untuk melakukannya lagi,


Tapi setelah Faraz menelusuri setiap inti tubuhnya Akhirnya Alia kembali bergairah dan melayani permintaan Faraz.


°°°


Setelah percintaan panas mereka Faraz kembali tidur pulas memeluk tubuh Alia, Alia yang tidak tidur terseyum menatap wajah suaminya, perlahan Ia memainkan jarinya di wajah Faraz, menelusuri keningnya, hidungnya dan berhenti di bibir, Alia mengusap lembut bibir Faraz.


Bibir yang selama ini selalu memarahinya, kini membuatnya tak berdaya.


"Apa Kau ingin lagi?" tanya Faraz dengan mata yang masih terpejam.


"Hagh!" Alia Begitu terkejut dan seketika itu juga pipinya memerah.


Faraz terseyum dan mengangkat tubuh Alia ke atas tubuhnya.


Faraz menyelipkan rambut yang terjuntai kebelakang telinganya.


"Faraz..." Alia langsung membenamkan wajahnya di pundak Faraz.


Faraz terseyum dan membelai rambut Alia, kemudian mengecup kepalanya dengan penuh kasih.


"Aku tidak pernah menyangka, pertemuan Kita yang di awali dengan pertengkaran akan berakhir seperti ini," ucap Alia mencium pundak Faraz.


Faraz terseyum dan mengangkat kepala Alia agar menatapnya.


"Dan Aku tidak pernah membayangkan jika gadis cupu seperti mu bisa membuatku mabuk kepayang," ucap Faraz mengecup kening Alia.


"Dasar Bucin.." ucap Alia tertawa


Faraz tertawa mengingat saat Bucin dan Cupu jadi sebutan mereka sehari-hari.


"Kita pulang sekarang?" tanya Alia.


"Sebenarnya Aku tidak ingin mengakhiri kebersamaan Kita, Tapi...."


"Tapi Kita harus mengakhirinya, Aku sudah mengatakan Kita sudah kembali ke Jakarta, jadi Aku tidak ingin saat Ibu kembali ke Jakarta Kita tidak ada," Alia beranjak bangun dari atas tubuh Faraz.


"Tapi berjanjilah Kita akan sering menghabiskan waktu bersama seperti ini?" ucap Faraz menarik tangan Alia.


"Faraz kenapa Kau khawatir, Aku adalah isteri mu, Aku akan selalu bersama mu," Alia terseyum dan melepaskan tangan Faraz.


kemudian Alia melangkah ke kamar mandi dengan selimut yang membalut tubuhnya.


"Entah kenapa ketakutan itu masih tersisa di hatiku," batin Faraz melihat kamar mandi yang sudah tertutup rapat.


Bersambung...