
Seorang wanita dengan wajah hitam penuh dengan noda Berjalan terseok-seok di jalanan ibu kota. Rambutnya yang berantakan membuatnya terlihat sangat dekil dan tak terurus. Dia adalah Wei Qian Nian yang sedang menyamar. Demi terbebas dari kejaran para pasukan istana maupun pasukan milik Jenderal Wang, ia bahkan rela melakukan penyamaran yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.
Tangannya mengepal erat dengan gigi Yang terus bergelutuk mengingat setiap langkah berat yang diambilnya dimana setiap kali ia berjalan ia akan menerima tatapan jijik dari orang-orang yang melihatnya. Tak sedikit beberapa orang bahkan meludah ke arahnya. Ia akan mengingat semua penghinaan yang diterimanya ini di dalam lubuk hatinya yang terdalam.
Saat ini ia hanya memiliki satu tujuan yaitu membalas dendam!
Wei Qian Nian yang saat ini tidak memiliki sedikitpun rasa takut untuk mencapai tujuannya itu. Dia yang sangat menghargai kecantikannya saat ini bahkan dengan sengaja menempelkan banyak debu bahkan dasar pot ke wajahnya agar terlihat jelek. Baju yang dicarinya juga sengaja ia sobek di beberapa bagian. Lalu dengan baju yang sudah sobek itu ia berguling-guling di tanah hingga seluruh tubuh dan rambutnya penuh dengan kotoran.
Penghinaan ini akan ia ingat sampai mati. Sekarang yang harus ia lakukan adalah kembali ke Chu Timur dan menerima ayahnya untuk membalaskan dendamnya. Tetapi sebelum itu, ia harus menghancurkan Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi yang telah menyeretnya jatuh hingga titik terendah seperti itu.
Kebencian Wei Qian Nian pada pasangan itu semakin besar saat ia mendengarkan semua orang di sepanjang jalan membicarakan kebahagiaan mereka. Tentang kehamilan yang sangat mereka nantikan. Tentang kemesraan yang mereka tunjukkan di setiap kesempatan.
Mereka hidup bahagia. Sementara dirinya menderita. Apa hak mereka memperlakukan dirinya seperti ini! Rasa cinta dan kagumnya pada Pei Zhang Xi telah menghilang dan diakumulasikan menjadi rasa benci sepenuhnya. Ia akan menghancurkan kebahagiaan mereka.
"Kalian boleh Bahagia sekarang. Tunggu sampai aku datang dan aku akan menghancurkan semuanya. Di saat itu aku akan tertawa bahagia melihat kehancuran yang akan kalian alami. Sebaiknya kalian berdoa agar aku tidak menemukan kalian! Hahahaha." Gumam Wei Qian Nian.
"Heh dasar orang gila! Sudah gila masih saja berpikir untuk berbuat jahat. Pergi-pergi membuat mataku sakit." Seorang wanita yang mendengar gumaman Wei Qian Nian mendorongnya hingga terjatuh dengan keras ke tanah. Tanpa sengaja kepalanya terbentur batu dan mengeluarkan darah.
"Awas saja kalian! Aku akan datang dan membuat perhitungan pada kalian semua!" Teriak Wei Qian Nian dengan marah. Semua orang segera mengerumuminya saat mendengar ucapannya yang mengancam. Matanya menatap orang-orang yang sedang mengerumuminya dengan kebencian yang memuncak.
"Ayo lempari dia dengan sayuran busuk agar ia sadar!" Seorang penonton memprovokasi dan melempar tomat busuk ke arah Wei Qian Nian. Lalu sayuran buruk yang lainnya juga dilempar ke arah seorang putri kerajaan yang mereka anggap gila.
***
Pei Zhang Xi baru berani menemui Lu Jing Yu setelah mandi tiga kali dengan ekstra aroma terapi. Setelah memastikan bahwa bau amis ikan benar-benar tidak dapat diciumnya lagi ia menghampiri Lu Jing Yu yang duduk dengan bibir mengerucut.
"Kenapa wajahmu terlihat begitu kesal? Apa yang membuat Yu"er ku tidak senang? Katakan padaku agar aku bisa memberinya pelajaran." Ucap Pei Zhang Xi sambil mendekat. Namun tangannya yang hendak memeluk Lu Jing Yu malah diteruskan oleh istrinya itu.
"Kenapa lagi? Apa aku masih bau ikan?" Tanya Pei Zhang Xi bingung. Ia pun reflek mencium lengan dan bajunya. Tetapi ia tidak mencium bau amis ikan lagi. Lalu kenapa Lu Jing Yu masih menolaknya?
"Yu'er aku sudah mandi tiga kali. Aku sudah harum. Tidak amis lagi. Kenapa kamu marah?"
"Kenapa Yang Mulia lama sekali? Aku sudah lapar."
"Maaf maaf. Aku tadi kan masih bau ikan. Bukannya kamu tadi yang melarangku masuk jika masih bau ikan. Makanya Makanya Aku lama datangnya."
"Jadi Yang Mulia menyalahkanku?" Wajah Lu Jing Yu semakin kesal.
"Ya. Aku juga sudah menciumnya sejak tadi. Perutku juga sudah keroncongan."
Pei Zhang Xi menghela napas lega setelah suasana hati Lu Jing Yu kembali membaik. Ia segera membawa Lu Jing yu ke aula samping untuk makan malam.
Mo Ting menjalankan tugasnya dengan baik. Ia mengisi setiap tempat air dengan air yang diambilnya dari danau seperti yang diprintahkan Pei Zhang Xi. Semua tempat air itu sebelumnya sudah berisi air. Atas perintah Pei Zhang Xi pula semua air dibuang agar dapat diisi kembali oleh Mo Ting. Bahkan air di kolam ikan sengaja dikuras dan disisakan sedikit untuk ikan hidup.
Sejak sore Mo Ting sudah puluhan kali mengangkat air. Mengisi setiap tempat air dengan dengar yang baru. Wajahnya sudah tampak kelelahan. Tapi jejak keluhan masih terlihat jelas di sana.
"Yang Mulia benar-benar memghukumku seperti ini. Aku kan hanya bertanya. Kenapa dia begitu marah?" Gerutu Mo Ting sepanjang jalan. Quan Yuan yang mendengarnya menggelengkan kepalanya.
Xiao Bei yang baru saja kembali ke dapur setelah menyajikan makanan melihat Mo Ting mengisi tempat air dengan bingung. Bukankah ada pelayan yang bertugas mengisi air ini? Lagipula ia baru saja memasak di sini dan melihat tempat air masih penuh.
"Mo Ting kenapa kamu yang mengisinya tadi? Bukankah ada pelayan yang mengisinya tadi?"
"Ini Karena yang Mulia menghukumku. Padahal kan aku hanya bertanya apa air di paviliun habis saat Yang mulia mandi di kamar mandi luar." Xiao Bei tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia sudah mengerti apa yang terjadi.
Lu Jing Yu juga melihat Mo Ting yang bolak balik mengangkat air seperti para pekerja di perkebunan bertanya pada Pei Zhang Xi.
"Mo Ting merasa air danau lebih jernih dari air sumur. Jadi dia berkeras untuk mengganti seluruh air dengan air danau yang jernih."
"Ooh seperti itu. Aku juga merasa seperti itu. Air danau pasti lebih terasa segar."
"Oke. Aku akan meminta Mo Ting untuk terus melanjutkan pekerjaannya."
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_95♡
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..