
Tabib istana adalah yang pertama bereaksi melihat tumpahan cairan obat di lantai. Cairan berwarna merah itu menggenang mengotori lantai. Sebagian bahkan ada yang mengenai tempat tidur Ibu Suri. Membuat bibi pelayan segera bergegas memeriksa kondisi ibu Suri yang terlihat syok. Pei Zhang Xi adalah yang memiliki reaksi paling berbeda. Ia segera menarik Lu Jing Yu ke dalam pelukannya saat ia memeriksanya.
"Apa yang Permaisuri Rui lakukan? Kenapa Permaisuri sengaja menumpahkan obat untuk ibu Suri?" Tabib Istana menatap Lu Jing Yu tidak suka. "Apa Permaisuri tahu jika ramuan untuk mengobati Ibu Suri adalah tanaman herbal langka yang sangat sulit didapatkan bahkan jika mereka memiliki banyak uang?" Tabib Istana selalu menghargai posisinya. Ia berteriak tidak suka.
Mendengar keributan dari dalam kamar, semua orang yang ada di luar kamar segera menoleh dan menunggu perkembangan tanpa ada yang berani masuk.
"Ada apa ini?" Kaisar Pei An Long yang batu selesai memghadari pengadilan pagi melihat semua wajah tegang putra dan menantunya. Hanya Pensiunan Kaisar yang tampak tidak terpengaruh.
"Ini ayah Kaisar. Di dalam ada Raja Rui dan permaisurinya. Kami tidak ada yang tahu ada apa di dalam tetapi kami semua mendengar tabungan istana berteriak keras dengan marah." Qin Sui Lan berkata dengan jelas. Entah apa yang terjadi di dalam tetapi yang dia yakini adalah bahwa sesuatu pasti terjadi di dalam. Menurut sifatnya, masalah itu tidak mungkin disebabkan oleh Pei Zhang Xi. Jadi pasti itu Lu Jing Yu yang membuat masalah. Tetapi ia tidak bisa langsung menuduh Lu Jing Yu secara langsung, jadi dia hanya bisa menyebutkan bahwa ada Pei Zhang Xi juga di dalam.
"Baiklah." Pei An Long mengangguk sambil melangkah maju untuk masuk ke dalam kamar. Tapi ekspresinya sudah jelek. Ia juga memperkirakan hal yang sama dengan Qin Sui Lan
Saat Pei An Long sampai di dalam kamar, ia melihat bahwa tabib Istana sedang memarahi Lu Jing Yu. Pria tua itu berbicara tanpa henti bahkan tanpa memberi waktu Lu Jing Yu untuk menjelaskan alasannya. Pei Zhang Xi yang ingin membantu Lu Jing Yu juga tidak banyak membantu.
"Hamba tahu Raja Rui sangat mencintai permaisuri. Tetapi saat ini kesehatan ibu suri sedang dipertaruhkan. Permaisuri hanya berkata secara acak dan Raja Rui sudah mempercayainya. Jika raja Rui terus membela permaisuri seperti ini, takutnya jika di masa depan permaisuri membuat kesalahan yang fatal juga masih akan tetap dibela." Tabib istana berkata dengan penuh kebencian.
"Tapi aku..."
"Kenapa sangat ribut di sini?" Pei An Long melihat ibu Suri yang sudah tertidur sebelum menatap tajam orang-orang yang sedang berdebat di sisi ranjang ibu Suri.
"Salam Yang Mulia Kaisar."
"Salam ayah."
"Apa yang membuat kalian saling menarik urat di sini?"
"Yang Mulia. Ramuan obat untuk ibu Suri dengan sengaja ditumpahkan oleh Permaisuri. Padahal bahan untuk obat itu adalah obat langka yang sulit didapatkan." Tabib Istana segera maju untuk menjelaskan.
"Apa itu benar?"
"Benar. Tapi..." Pei Zhang Xi baru akan menjelaskan tetapi dipotong secara langsung oleh Pei An Long yang marah. Di hatinya yang sudah dipenuhi dengan kekhawatiran atas keselamatan nyawa ibunya begitu marah dan tidak menginginkan sebuah alasan. Ia bahkan tidak repot-repot melihat Lu Jing Yu yang berada di samping Pei Zhang xi.
"Raja Rui bawa istrimu keluar. Aku rasa dia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya." Ucap Pei An Long dengan suara rendah.
"Yang Mulia, aku tidak bernohong. Percayalah padaku bahwa herbal itu benar-benar tidak boleh diberikan pada orang yang memiliki penyakit seperti nenek." Lu Jing Yu masih enggan keluar meskipun Pei Zhang Xi sudah menariknya pergi.
"Aku percaya padamu. Tapi kali ini kita harus keluar. Ayah sedang tidak bisa berfikir saat ini. Jika kita berkeras, kamu tidak hanya bisa membantu juga mungkin tidak akan diizinkan bertemu dengan nenek." Pei Zhang Xi tetap membawa Lu Jing yu meskipun istrinya itu begitu enggan.
"Tapi bagaimana? Ramuan itu tidak boleh dikonsumsi oleh nenek atau akibatnya tidak akan baik."
"Baiklah kalau begitu."
Saat Pei Zhang Xi keluar dari kamar ibu suri, semua mata tertuju pada mereka. Semua orang ingin mengetahui apa yang terjadi di dalam hingga membuat tabib istana terdengar sangat marah dari luar. Namun meskipun begitu mereka tidak ada yang berani menyuarakan kalimatnya. Bahkan Qin Sui Lan sekalipun yang hanya duduk diam namun matanya menatap Lu Jing Yu dengan tajam. Jika sebuah tatapan bisa membunuh, mungkin Lu Jing Yu sudah lama mati dengan tubuh yang rupiah menjadi kepingan-kepingan yang sangat kecil hingga tidak bisa dikenali.
"Yu'er duduklah di sini. Wanita yang sedang hamil besar sepertimu tidak baik untuk berdiri terlalu lama." Yun Ying berdiri dan menghampiri Lu Jing Yu tepat pada saat kasim Song memanggil Pei Zhang Xi ke dalam kamar ibu Suri.
"Kakak ipar, aku merepotkanmu kali ini untuk membantuku menjaga Yu'er." Pei Zhang Xi enggan meninggalkan Lu Jing Yu yang sedang drama keadaan hati yang tidak stabil seperti ini. Ia mengerti yang dibutuhkan istrinya adalah bahu untuk membagi bebannya. Namun saat ini Kiasar sedang memanggilnya. Dan ini pasti karena ada hal yang serius, jadi meskipun Pei Zhang Xi enggan, ia tetap harus meninggalkan Lu Jing Yu. Untung saja ada Yun Ying yang dapat dipercaya.
"Tidak masalah adik ipar. Ayah Kaisar memanggilku pasti ada sesuatu yang serius. Lagipula aku juga sangat menyukai Yu'er. Jadi serahkan Yu'er padaku dan aku akan menjaganya untukmu."
"Baiklah kalau begitu terima kasih." Pei Zhang Xi mengelus kepala Lu Jing Yu sebelum ia berbalik dan berjalan mengikuti kasim Song masuk ke dalam kamar ibu suri.
"Ayo Yu'er duduklah bersamaku. Kamu jangan khawatir. Nenek pasti akan baik-baik saja."
"Ya kakak ipar. Terima kasih banyak."
"Huh! Apa hebatnya seorang wanita yang sedang hamil? Bukankah juga belum diketahui jenis kelaminnya? Kenapa sudah menyombongkan diri seperti sudah melahirkan seorang putra?" Qin Sui Lan mencibir sambil melirik tidak suka.
"Kakak ipar, entah itu laki-laki ataupun perempuan tidak masalah. Yang paling penting adalah ibu dan anak sehat." Yun Ying berkata dengan tenang.
"Permaisuri Wei jangan munafik. Aku yakin di dalam hatimu juga berharap jika bayi di dalam perut Permaisuri Rui adalah perempuan kan agar kesempatan untuk menjadi putra mahkota masih terbuka."
"Siapa yang mengincar posisi itu kita semua sudah tahu. Tidak perlu menunggu siapa yang akan memberikan cucu laki-laki pertama pada keluarga kerajaan ini. Ayah Kaisar bukannya orang yang picik yang hanya akan menilai dari satu hal ini saja. Keturunan. Pada dasarnya yang paling dinilai untuk mampu menduduki posisi putra dan putri mahkota adakah dari kemampuan dan kriteria. Jadi jika kakak ipar memang benar-benar menginginkan posisi itu, aku sarankan untuk lebih memperbaiki diri dari pada sibuk menilai orang lain."
"Kamu...kamu berani mengatakan itu padaku? Aku adalah menantu pertama di sini."
"Menantu pertama atau kedua berapa, lihat apa yang sudah diberikan pada kekaisaran ini baru bisa menyombongkan diri."
"Huh!" Qin Sui Lan tidak bisa menyangkalnya dan mendengus sebelum ia menghentakkan kakinya pergi dari halaman ibu Suri.
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_123♡
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..
Mohon maaf author tidak memberi judul yang jelas. Kalau ada yang memiliki ide buat judul bisa langsung komen...😊