
Setelah beberapa hari ini Pei Zhang Xi selalu pulang larut, hari ini adalah pertama kalinya ia pulang normal sejak ia ditunjuk untuk menangani kasus secara resmi. Hari masih terang saat ia sampai di pintu gerbang Istana timur. Tanda-tanda kehidupan begitu terlihat saat ini. Sangat kontras dengan biasa biasanya yang saat ia pulang hanya akan disambut oleh kesunyian.
Hatinya menghangat saat tawa riang Pei Zhi Hui terdengar samar-samar dari arah taman. Ngomong-ngomong… ia sudah sangat lama tidak menemani putranya bermain. Ia hanya mendengar cerita kelucuannya sehari-hari dari Lu Jing Yu yang akan dengan senang hati memberitahunya. Yang selalu berhasil membuatnya selalu ingin membangunkan bocah lucu yang akan segera menutup matanya saat matahari juga tenggelam di ujung cakrawala.
Langkahnya secara alami dipercepat agar segera sampai. Dari suaranya, sepertinya Pei Zhi Hui sedang berada di gazebo di taman utama istana timur.
Sejak Lu Jing Yu melihat bahwa perkembangan putranya cukup cepat, ia meminta orang untuk mencari karpet yang tebal dan halus. Karpet-karpet seperti itu dipasang di beberapa tempat dimana Pei Zhu Hui sering berada. Salah satunya adalah di gazebo taman utama. Karpet dipasang membentang di seluruh lantai sepanjang waktu dan akan dibersihkan setiap harinya. Meja dan kursi yang Awalnya ditempatkan di tengah gazebo juga disingkirkan ke pinggir. Di setiap sisi akan ada pembatas yang tinggi yang juga dilapisi oleh karpet. Membuat tempat itu sepertu diselimuti seluruhnya oleh karpet. Melihatnya sekilas, orang akan menilai bahwa pengaturan seperti itu sangatlah boros dan tidak efektif. Awalnya para pelayan bingung dengan pengaturan ini, namun saat mereka melihat Lu Jing Yu yang meletakkan Pei Zhi Hui di lantai dan membiarkannya bebas bergerak, mereka memahami niat dan tujuan Lu Jing Yu.
Selama ini karena alasan kebersihan, anak-anak para bangsawan hampir tidak pernah keluar dari halaman mereka yang merupakan satu-satunya tempat yang memungkinkan bagi mereka untuk diturunkan pada fase bayi merangkak. Beberapa bayi terlahir lebih beruntung karena lahir dalam keluarga yang murah hati. Mereka yang memiliki uang cukup akan membuat sebuah ruang terbuka untuk anak-anak mereka yang diisi dengan rumput yang halus. Namun meskipun tanah sudah dilapisi dengan rumput, mereka masih cukup kasar untuk merobek kulit tipis bayi.
Saat Pei Zhang Xi telah sampai di depan taman, ia dapat melihat Pei Zhi Hui yang dengan riang merangkak dari satu tempat ke tempat yang lain. Di sekitarnya, Lu Jing Yu sedang duduk di lantai. Wajahnya tampak serius saat mendengar laporan dari Chu Fei. Namun dapat dilihat bahwa matanya tidak lepas dari mengawasi gerak Pei Zhi Hui.
"Hah... Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini." Lu Jing Yu mendesah setelah selesai mendengar laporan Chu Fei.
"Apa yang membuatmu mendesah begitu dalam?" Mendengar suara yabg sangat dikenalnya, Lu Jing Yu menoleh dan melihat Pei Zhang Xi yang melepas sepatunya sebelum naik ke atas karpet di gazebo.
"Kami memberi hormat kepada Yang Mulia Putra Mahkota." Chu Fei dan yang lainnya segera berdiri dan memberi hormat.
"Bangunlah." Pei Zhang Xi menganggukkan kepalanya. Semua pelayan sadar diri dan segera mundur beberapa langkah sebelum duduk di tempat yang agak jauh.
"Ada apa? Masalah apa yang begitu mengganggu permaisuri ku?" Pei Zhang Xi duduk di samping Lu Jing Yu dan bertanya dengan serius.
"Seorang selir akhirnya datang di antara Kakak ipar Yunying dan Raja Wei." Jawab Lu Jing Yu dengan getir.
"Yah. Terkadang sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan." Pei Zhang Xi mengangguk. Ia juga telah mendengar kabar itu. Namun dibandingkan dengan Lu Jing Yu, ia tidak begitu memikirkannya. Pei Zhang Xi juga tidak menyalahkan Lu Jing Yu yang terlaku memikirkan urusan orang lain karena ia mengerti bahwa Lu Jing Yu memang dekat dengan Yun Ying. Apalagi saat ini ia sedang berusaha membantu Yun Ying. Mengetahui usahanya untuk membantu Yun Ying menolak selir gagal, tentu saja dia mengerti jika Lu Jing Yu pasti juga sangat terpukul. Hah! Memikirkan istrinya yang ikut sakit hati saat kakaknya mengangkat selir, Pei Zhang Xi rasanya ingin memukul kepala kakaknya itu. Jika pada akhirnya dia menerima seorang selir, mengapa tidak sejak dahulu saja? Mengapa harus sekarang setelah Lu Jing Yu dekat dengan Yun Ying?!
"Hari ini kakak ipar bahkan tidak datang untuk perawatan nya. Dia memang berkata bahwa ada banyak urusan yang dia harus lakukan hari ini. Tapi Aku yakin suasana hati kakak ipar pasti sedang tidak baik kan?" Suara Lu Jing Yu yang rendah penuh dengan kesedihan.
"Kakak ipar Yun Ying tidak selemah yang kamu pikirkan." Pei Zhang Xi menyentil kening Lu Jing Yu dengan lembut. Membuat istrinya mengasuh saat merasa nyeri.
"Auch! Sakit Yang Mulia." Lu Jing Yu mengelus keningnya. Bibirnya mengerucut dengan mulut yang menggembung.
"Setiap orang menghadapi masalah setiap hari hanya untuk menjadikannya kuat. Meskipun masalah ini tidak mudah, dengan kepribadian kakak ipar Yun Ying, aku yakin dia akan mampu menghadapinya meskipun membutuhkan waktu dan usaha." Pei Zhan Xi merasa tidak tahan melihat Lu Jing Yu menggembungkan mulutnya. Ia ingin segera membuka paksa bibir itu dan menjelajahi seluruh isinya.
"Jika kamu memang sangat mengkhawatirkan kakak ipar, aku akan mengantarmu ke sana besok pagi." Pei Zhang Xi berkata pada akhirnya. Melihat Lu Jing Yu yang terlihat sangat khawatir membuatnya tidak tega.
"Benarkah?" Lu Jing Yu sangat senang. Sudah lama ia ingin pergi ke luar istana. Sekarang ini bahkan jika ia ingin pergi untuk berjalan-jalan atau berbelanja di pasar, sangat tidak mudah dilakukan.
"Ya. Kebetulan aku juga ada urusan di luar istana besok jadi sekalian aku bisa mengantarmu pergi sebelum berangkat." Lu Jing Yu mengangguk paham. Meskipun ia tidak tahu urusan apa yang dibicarakan Pei Zhang Xi, ia yakin bahwa itu adalah masalah yang penting namun tidak ada hubungannya dengannya. Jadi suaminya tidak membicarakan nya dengannya. Sesimpel itu pemikiran Lu Jing Yu.
Pei Zhang Xi sebenarnya juga tidak tahu siapa yang ingin bertemu dengannya di sebuah restoran di ibukota. Ia hanya menerima surat kaleng yang memintanya datang ke sebuah ruang pribadi tertentu di dalam sebuah restoran.
Sebelumnya, jika menerima surat kaleng yang tidak diketahui siapa pengirimnya, Pei Zhang Xi akan memilih mengabaikannya. Namun kali ini surat itu membahas mengenai kelompok mencurigakan yang ada di dalam hutan. Lagipula, Pei Zhang Xi sepertinya dapat menebak siapa yang telah mengirim kan surat itu padanya. Itu karena ada sebuah tanda khusus yang hanya dimiliki oleh orang itu yang dia temukan dalam surat yang sangat sulit dikenali jika tidak diteliti dengan baik.
Matahari mulai tenggelam di ujung cakrawala. Kaisar Pei An Long baru saja keluar dari ruang kerjanya. Namun, dia tidak pergi ke istana Huang untuk pergi beristirahat melainkan berjalan menuju Harem.
Dengan masih menggunakan jubah naga kebesarannya yang berwarna kuning dna emas, Kaisar Pei An Long berjalan dengan gagah menapaki jalan menuju Harem. Meskipun usianya telah melampaui lima puluh tahun, tubuhnya selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Dengan aura yang mendominasi dan khas dengan keagungan, Setiap langkahnya menciptakan aura yang kuat dan karismatik.
Kasim dan pelayan yang berjalan di belakangnya semuanya berjalan dengan teratur meskipun dengan kepala tertunduk. Namun demikian, langkah kaki mereka hampir tidak terdengar. Mereka seperti berjalan di atas udara. Tenang dan ringan.
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_234🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Maaf telat update. Tadi sudah dapat seribu kata lebih, belum sempat tersimpan sudah hilang. Jadi harus mengulangi lebih dari setengahnya.
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉