Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 151


Sepanjang perjalanan ke istana Lu Jing Yu berpikir dengan kerasa bagaimana ia bisa menyembuhkan penyakit ibu Suri. Lu Jing Yu mengingat bahwa di dalam novel ibu Suri meninggal secara mendadak setelah ia mendengar jika Lu Jing Yu yang menikah dengan cucu kesayangannya selalu membuat ulah dengan permaisuri yang lain. Terakhir, ia marah hingga meninggal setelah mengetahui jika Lu Jing Yu berusaha membunuh Zhu Man Xie. Setelah kematian Ibu Suri, kehidupan Lu Jing Yu semakin tidak baik setelah ia dianggap sebagai alasan meninggalnya wanita tua itu. Lu Jing Yu dihujat kemanapun ia pergi hingga membuatnya sering berurusan dengan orang lain dengan temperamennya.


Meskipun saat ini ia telah mendapatkan kasih sayang dari Pei Zhang Xi dan ia telah merubah sebagian besar jalan cerita asli di dalam novel dan ibu Suri dalam keadaan tidak stabil bukan karena dirinya, tidak menutup kemungkinan plot yang terjadi di dalam novel akan tetap terjadi di dalam kehidupan nya saat ini.


Memikirkan hal ini, Lu Jing Yu bertekad tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuka peluang hal itu akan terjadi. Saat ini yang paling penting adalah menyelamatkan ibu Suri agar dirinya selamat dari tuduhan.


"Yang Mulia, kita sudah sampai di sini." Lamunan Lu Jing Yu tentang bagaimana cara menangani Ibu Suri dengan mengingat bagaimana dulu ibunya mengajarinya saat suara Quan Yuan yang menjadi kusir terdengar dari luar.


"Mm." Lu Jing Yu berdehem. Ia mengambil napas untuk kembali mendapatkan ketenangan dirinya sekaligus mendapatkan kepercayaan diri.


**


Tubuh ibu Suri yang sudah tidak berdaya terbaring di atas ranjang yng empuk dan hangat. Beberapa tabib istana siap sedia menunggu di samping. Asisten tabib juga berjaga-jaga menunggu perintah.


Wajah ibu Suri tampak lebih pucat dari terakhir kali Lu Jing Yu melihatnya. Kulitnya yang keriput hampir tidak terlihat adanya darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Kedua tangannya dilipat di atas perutnya yang tampak membuncit seperti sedang hamil. Namun perut itu saat ini tidak sebesar terakhir kali.


Saat pintu utama terbuka, semua orang di dalam ruangan menengok ke arahnya dan menatap penuh harapan pada Lu Jing Yu yang baru saja masuk bersama dengan Xiao Bei.


"Hormat kami Putri Mahkota." Semua orang segera memberi hormat.


"Bangunlah." Lu Jing Yu melambaikan tangannya. "Bagaimana keadaan ibu suri saat ini?" Lanjutnya menatap kepala tabib istana yang bertanggung jawab atas kesembuhan Ibu Suri.


"Menjawab Putri Mahkota, pada dasarnya kondisi Ibu Suri membaik dari waktu ke waktu setelah kami menuruti saran Yang Mulia untuk menghilangkan beberapa ramuan herbal dan menggantinya dengan yang lain. Itu salah hamba karena tidak menaati Putri Mahkota sebelumnya." Kepala tabib istana berkata dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Aku mengerti tabib bertindak seperti itu karena mengkhawatirkan keadaan nenek. Lalu kenapa kondisi nenek menjadi seperti ini jika biasanya nenek baik-baik saja?" Lu Jing Yu menghela napasnya.


"Mohon maaf Yang Mulia. Hamba juga tidak mengetahuinya. Semalam saat hamba memberikan obat sebelum Ibu Suri tidur, ibu Suri dalam keadaan baik. Ibu Suri bahkan berkata bahwa ia ingin menemui anda dan pangeran kecil. Namun entah mengapa pagi ini kondisi ibu suri tampak tidak baik. Wajah ibu Suri seperti sedang memiliki banyak sekali beban."


"Apakah ada yang memberitahu nenek mengenai apa saja yang terjadi belakangan ini?" Lu Jing Yu mengerutkan alisnya saat mendengar penjelasan dari kepala tabib istana.


"Tidak ada Yang Mulia. Kami semua tahu betul jika ibu Suri tidak bisa menerima kabar yang bisa mengejutkan. Baik itu kabar yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Bahkan untuk memberitahu kabar kelahiran pangeran kecil, kami berusaha untuk memberitahunya sedikit demi sedikit setelah memastikan bahwa ibu Suri benar-benar siap menerima berita yang mengejutkan."


"Aku mengerti. Aku akan melihat kondisi nenek dulu." Lu Jing Yu mengangguk paham.


"Silahkan Yang Mulia." Kepala tabib istana memberi jalan bagi Lu Jing Yu yang segera maju dan duduk di samping ibu Suri.


Lu Jing Yu menghela napas setelah mengetahui gambaran besar kondisi kesehatan Ibu suri yang sudah kritis. Namun Lu Jing Yu juga menemukan bahwa kondisi ini terjadi dengan tiba-tiba karena sebelumnya dia menemukan jika kondisi ibu Suri memang dalam tahap yang baik. Pasti ada hal yang memicu kerja jantung Ibu Suri menjadi lebih cepat dan mengakibatkan beberapa gumpalan darah tercipta di dalam jantung nya.


Jika saat ini berada di dalam dunia modern, seseorang yang berada dalam kondisi seperti ini harus segera mendapatkan penanganan segera. Tindakan yang paling sering digunakan adalah dengan tindakan operasi. Namun saat ini tidak ada hal yang memungkinkan untuk dilakukan operasi.


"Sejak kapan nenek kehilangan kesadaran?" Lu Jing Yu menoleh dan bertanya pada kepala tabib istana.


"Sekitar dua jam yang lalu."


"Ini sulit." Gumam Lu Jing Yu sambil menghela napas.


"Yang Mulia, apakah ada yang bisa dilakukan?" Kepala Tabib istana yang sejak awal memperhatikan Lu Jing Yu melihat wanita itu menghela napas dan bertanya dengan khawatir.


"Ada gumpalan darah di dalam Jantung nenek. Hal inilah yang membuat nenek tidak sadarkan diri." Jelas Lu Jing Yu yang membuat tabib istana mengerutkan alisnya tidak mengerti sebelum menggaruk kepalanya dengan bingung.


"Intinya nenek dalam keadaan kritis. Kita harus segera mengambil tindakan sebelum semuanya terlambat."


"Kalau begitu apa yang bisa kami lakukan saat ini?"


"Tabib, apakah kalian percaya padaku?" Lu Jing Yu bertanya pada semua tabib yang ada di sana.


Tabib istana saling berpandangan sebelum mereka akhirnya mengangguk sepakat.


"Kami percaya Yang Mulia."


*


*


~πŸ€Permaisuri Tidak Ingin Mati_151πŸ€~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak πŸ‘£ like πŸ‘ komentar πŸ“ vote 🌟