Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
80. Pemyambutan Jenderal Wang, Pernikahan Wei Qian Nian


Di gerbang kota, barisan pejabat berjajar rapi di dalam tenda yang disiapkan oleh Pei Zhang Xi dengan seksama. Posisi duduk mereka telah diatur sedemikian rupa sesuai dengan status yang mereka miliki. Lu Jing Yu bekerja keras untuk mempersiapkan segalanya. Mencegah agar tidak ada kesalahan apapun yang akan dapat membuat Kaisar menghukumnya lagi.


Dapur dadakan juga dibuat. Satu memasak bubur yang akan dibagikan pada para pengemis dan juga rakyat miskin yang datang untuk melihat keramaian.


Di lapangan luas di dalam gerbang ibukota, tenda-tenda dibangun di atasnya. Di tenda inilah nanti para pasukan yang dibawa Jenderal Wang akan disambut. Mereka akan datang untuk makan selagi Jenderal Wang Bertemu dengan Kaisar.


Ada juga flatform yang lebih tinggi tempat Kaisar dan Ratu serta para selir duduk. Para selir Kaisar tampil cantik. Setiap ada kegiatan seperti ini mereka akan tampil semaksimal mungkin untuk memenangkan hati Kaisar. Tetapi semuanya tidak boleh memakai baju berwarna merah atau yang disulam bentuk Phoenik dengan benang emas karena yang berhak memakai baju merah dan sulaman emas gambar Phoenik hanya Ratu. Mereka saling tersenyum satu sama lain. Tetapi semua orang tahu itu hanya tampilan luar saja.


Di tenda yang lain, para pangeran beserta istri dan selirnya juga ikut dalam penyambutan. Mereka duduk berdasarkan usia mereka. Di belakangnya adalah tempat para putri dan suami mereka. Lalu Para pangeran dan putri yang belum menikah duduk di bagian paling belakang.


Pei Qin Yang dan Zhu Man Xie tampak tidak terpisah. Mereka duduk sangat dekat begitu mereka datang. Membuat mereka digoda oleh para pangeran dan putri.


"Pangeran kelima terlihat sangat bahagia setelah menikah." Qin Sui Lan, istri pangeran Pei Zhong Min menyapa pasangan yang duduk berdempetan itu.


"Mata Permaisuri Huan memang sangat berterus terang. Tapi memang benar apa yang Permaisuri katakan. Tidak hanya pangeran ke lima yang tampak bahagia. Bukankah Permaisuri Yuan juga sama bahagianya?" Sahut istri Pangeran Pei Wen Hang. Keduanya adalah saling akur karena mereka adalah saudara sepupu.


"Tapi selain pasangan baru ini, ada lagi yang juga tampak sangat mesra." Zhu Man Xie dapat menebak siapa yang mereka maksud. Jejak kecemburuan melintas di matanya. Namun itu hanya sekilas sebelum digantikan dengan senyum yang terlihat sangat manis.


"Benar sekali. Melihat dua pasangan ini membuatku sangat iri. Permaisuri Rui yang dulu tidak dicintai bahkan akearnag sedang hamil dua bulan. Jika bayinya yang lahir nanti laki-laki, sudah pasti bukan hanya Raja Rui yang akan sangat menyayanginya, tetapi seluruh kerajaan. Aku sangat iri." Pembicaraan dua orang ini membuat Zhu Man Xie meremas sapu tangannya. Ia diam-diam melirik Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu yang berada di tempat di sampingnya.


"Yang Mulia, Putri Wei Qian Nian juga menikah hari ini?" Lu Jing Yu penasaran dan menarik sudut baju Pei Zhang Xi.


"Ya. Setelah dari sini tenda putri Chu Timur itu akan diantar ke kediaman jendela Wang untuk menikah di sana." Jawab Pei Zhang Xi sambil menatap Lu Jing Yu penuh kasih. Ia dengan perhatian mengelus punggung tangan Lu Jing Yu yang ia genggam di tangannya. Saat Zhu Man Xie menoleh, inilah yang dia lihat. Semakin dilihat semakin membuatnya marah.


Yang paling menyita perhatian adalah sebuah tandu merah pernikahan. Siapapun tahu gadis mana yang duduk di dalamnya. Siapa yang tidak mendengar bahwa istri baru Jenderal Wang adalah putri Wei Qian Nian yang sebelumnya akan menjadi selir bagi Pei Zhang Xi? Dan Lu Jing Yu juga sangat penasaran setelah mendengar cerita dari Pei Zhang Xi semalam.


Semua orang di ibukota dengan semangat membicarakannya. Mereka bahkan mulai membuat taruhan sampai berapa lama sangat putri cantik itu bertahan.


Tidak menunggu terlalu lama sebelum suara derap kuda terdengar dari kejauhan. Jenderal Wang kembali dengan dua ribu pasukannya yang kembali dari perbatasan. Sebagian besar pasukannya tinggal di perbatasan untuk menjadi jaga keamanan. Lautan debu yang terbang akibat pukulan kaki kuda terlihat membumbung tinggi di udara. Semua orang mulai berdiri dan bersiap.


Perlahan tapi pasti, sejauh titik hitam mulai terlihat lalu diikuti dengan titik-titik yang lain. Semakin mendekat sosok-sosok manusia yang tegap dan gagah mulai terlihat menunggang kuda terlihat.


Seorang pria tampan berusia dua puluh delapan tahun turun dengan gagah dari kuda coklatnya. Jenderal Wang memang terlihat sangat kuat dengan aura yang mendominasi. Bahkan kudanya sekalipun memiliki aura yang tidak jauh dari majikannya. Gagah dan bermartabat. Sombong dan angkuh.


Secara umum Jenderal Wang adalah pria yang tampan dengan kulit kecokelatan yang khas dengan para prajurit pemberani yang berdiri di garis depan. Matanya yang tajam akan menembus hari siapapun yang melihatnya. Rahangnya tegas memperlihatkan dominasinya yang kuat. Namun sayangnya penampilan ini sedikit rusak dengan adanya bekas luka yang cukup panjang di pipi kirinya yang membentang dari ujung mata hingga ke dagu.


"Salam Yang Mulia Kaisar. Salam Yang Mulia Ratu. Agar kesejahteraan dan keamanan tidak akan meninggalkan kekaisaran Shao." Jenderal Wang menekuk lutut kanannya. Kedua tangannya memegang sebuah pedang besar bersarung hitam menjejak tanah dengan gagahnya.


"Bangunlah Jenderal Wang. Kekaisaran ini sangat beruntung memiliki seorang jenderal muda yang saat berbakat sepertimu." Kaisar tersenyum bangga. Meskipun kekuatan Jenderal Wang cukup besar. Kesetiaannya tidak perlu diragukan. Inilah mengapa meskipun kelakuan menyimpangnya buruk, masih membuatnya dibiarkan sampai sekarang.


"Terima kasih atas pujian Yang Mulia. Hamba hanyalah seorang yang berkewajiban menjaga keamanan kekaisaran Shao. Hamba sangat bangga dapat menjadi salah satu Jenderal yang ikut menjaga perdamaian Kekaisaran ini."


"Memang tidak salah Yang Mulia memilih Jenderal Wang sebagai pemimpin di perbatasan Barat. Sangat kompeten. Hal ini jugalah mengapa Kaisar menghadiahkan putri Chu Timur, Wei Qian Nian sebagai istri Jenderal Wang. Hari ini bersamaan dengan penyambutan juga akan diadakan pernikahan itu. Bagaimana menurut Jenderal?"


"Yang Mulia Ratu sangat bijaksana. Bagaimana mungkin hamba akan menolak berkah dari Kaisar. Hamba akan membawa Putri Chu Timur sebagai istri sah hamba." Bibir Wei Qian Nian tersenyum saat ia mendengarnya. Dari suaranya dapat dilihat bahwa pria ini memang masih muda dan memiliki aura yang kuat. Pria seperti inilah yang bisa membantunya untuk membalas dendam.


Dengan pesonanya, ia yakin akan mampu membuat pria manapun bertekuk lutut dan melakukan apapun yang dia inginkan. Tidak terkecuali Jenderal Wang. Tak lama lagi pria hebat itu akan ia kuasai dan menjadi pionnya yang baik.


"Baiklah. Seseorang, bawa putri Wei Qian Nian datang."


Meng Ran membuka tandu pengantin dengan hati-hati dan membantu Wei Qian Nian turun. Sosok anggun Wei Qian Nian memakai baju pengantin merah lengkap dengan kain penutup yang indah. Saat ia berjalan rumbai manik-manik di kepalanya bergerak-gerak menimbulkan suara gemerincing yang terdengar merdu.


Kulitnya yang adik terlihat kontras dengan warna merah menyala. Punggung tangan yang putih dan halus menunjukkan bahwa seluruh bagian tubuhnya juga pasti memiliki keindahan yang sama. Melihat kecantikan yang tersembunyi itu, Jenderal Wang segera berbinar. Ia sering melihat kecantikan tetapi ia tidak pernah bermimpi dapat menikahi seorang putri kerajaan. Ia sudah tidak sabar untuk segera membawa istrinya kembali dan menikmatinya.


Jenderal Wang tidak memiliki kerabat. Dia meniti karirnya dari seorang prajurit biasa. Jadi pernikahan yang dilakukannya hanya dengan memberi hormat pada Kaisar dan Ratu. Setelah itu, ia meminta seseorang dari kediamannya untuk membawa pulang istrinya. Sedangkan dirinya masih harus mengikuti acara perjamuan yang memang diadakan untuknya sebesar apapun ia ingin segera pulang.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_80♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .