
Suara tamparan yang memekakkan telinga terdengar sekali lagi. Kini pipi kiri An Ru yang memiliki gambar lima jari berwarna merah. An Ru ambruk dan terjatuh di tanah. Air matanya mengalir tetapi tidak terdengar sedikitpun rintihan. Wei Qian Nian menampar An Ru dengan sekuat tenaga. Jadi saat dia sudah melakukan dua kali tamparan berturut-turut, bukan hanya telapak tangannya yang merasakan sakit dan panas tetapi napasnya juga tersengal-sengal.
"Maafkan hamba tuan Putri. Hamba mengaku salah. Itu karena hamba merasa bersedih setelah melihat tuan putri dihina di depan umum oleh Raja Rui. Hamba mengikuti Tuan Putri sejak hamba masih muda. Hamba mengerti karakter budi luhur yang selalu tuan Putri jalani. Tetapi apa hak Permaisuri Rui untuk tidak mengizinkan Raja Rui menerima anda sebagai sekiranya hanya karena hamil. Untuk itu... untuk itu...."
"Diam An Ru. Aku tidak percaya aku telah membesarkan pelayan sepertimu. Aku tidak pernah mengajarimu untuk mencelakai orang lain. Aku sangat kecewa padamu." Wei Qian Nian menangis tersedu-sedu.
"Maafkan hamba tuan putri. Hamba hanya ingin anda tidak mengalami penghinaan terus menerus. Ini salah hamba." An Ru bersujud di depan kaki Wei Qian Nian.
"Yang Mulia Kaisar. Hamba mengakui kesalahan hamba. Memang hambalah yang telah memerintahkan pelayan kediaman Rui itu untuk memberikan obat pengguguran kandungan pada Permaisuri Rui. Juga hamba yang telah menyuruh orang untuk menyebarkan gosip di ibukota. Hamba juga mengakui bahwa para pembunuh juga hamba yang mengirimnya. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan putri Wei Qian Nian. Tuan putri selalu menjadi orang yang baik hati yang bahkan tidak tega membunuh seekor semut kecil yang menggigitnya. Hamba siap menerima hukuman apapun yang Yang Mulia berikan. Tetapi tolong berikan keadilan bagi putri Wei Qian Nian." Hukuman untuk kejahatan ini adalah mati. Tetapi jika mati begitu saja, kematian An Ru tidak akan ada gunanya. Jadi di akhir hidupnya ia masih memikirkan bagaimana memenuhi tujuan majikannya. Sungguh anak buah yang loyal.
"An Ru.... jangan katakan itu."
"Cukup! Apa kalian tidak merasa bahwa ingus dan air mata yang kalian keluarkan itu sangat menjijikkan?" Pei Zhang Xi berteriak dengan tidak sabar.
Wei Qian Nian dan An Ru tidak menyangka akan ada yang menyela mereka saat ini. Apakah Raja Rui memang sangat lah dingin dan tidak berperasaan seperti yang dikabarkan? Tetapi bukankah dia sangat mencintai istrinya? Atau mungkin sandiwara mereka yang tidak cukup meyakinkan?
"Yang Mulia maafkan kami. Tetapi kami tidak bisa menahan diri untuk sesaat." Wei Qian Nian menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dengan paksa meninggalkan dua jejak yang merusak dandanan cantiknya.
"Pelayan An terbukti telah bersalah. Tetapi pelayan An mengakui bahwa dia melakukan kejahatan ini dengan kemauannya sendiri dan tidak ada hubungannya dengan putri Wei Qian Nian. Maka bisa diputuskan bahwa putri Wei tidak bersalah. Dan untuk pelayan An dan pelayan Chu, akan dihukum sesuai dengan hukum yang ditaati di harem. Ratu..." Kaisar menoleh.
"Baik Yang Mulia." Ratu mengangguk dewan anggun menerima isyarat Kaisar untuk menentukan hukuman bagi An Ru.
"Pelayan An terbukti bersalah telah berencana untuk menghilangkan nyawa keturuan anggota keluarga kerajaan. Untuk itu hukumannya adalah dicambuk sampai mati." Ratu menatap pelayan An yang gemetar di lantai. "Dan untuk pelayan Chu..."
"Mohon tunggu sebentar yang Mulia Ratu." Ucapan Ratu Zhu lagi-lagi dipotong oleh Pei Zhang Xi.
"Ada apa Xi'er?" Ratu Zhu menggerakkan giginya.
"Pelayan Chu adalah pelayan di kediaman Raja Rui ku. Oleh sebab itu kami sendirilah yang akan memutuskan hukuman apa yang pantas diterima olehnya. Apalagi Pelayan Chu ikut berjasa dalam penangkapan dalang yang berniat mencelakai calon anggota keluarga kerajaan. Oleh sebab itu saya pribadi ingin meminta welas asih dan mengizinkan kami yang menghukumnya." Pei Zhang Xi membungkukkan tubuhnya saat ia berbicara. Untuk mendapatkan apa yang diinginkan terkadang harus merendah.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengizinkanmu."
"Terima kasih Yang Mulia Ratu. Tetapi masih ada satu pelaku lagi yang belum mendapatkan hukuman." Semua orang saling memandang dan bertanya.
Pei An Long mengetahui siapa yang dimaksud oleh Pei Zhang Xi dan kembali mengepalkan tangannya pada pegangan kursi. Anaknya ini masih belum mau menyerah. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan orang yang begitu kejam berkeliaran di istana apalagi menjadi bagian dari anggota keluarga kerajaan. Kali ini ia akan mendukung langkah putranya.
"Siapa lagi itu?"
Seorang majikan sering kali akan lolos dari kejahatannya dengan mengkambing hitamkan pelayannya sendiri. (Seperti yang dikatakan para readerku...) kesetiaan para pelayan saat itu memang sangat besar. Mereka bahkan akan telah menyerahkan nyawa mereka demi melindungi majikannya. Hal ini sudah sangat lazim terjadi.
Hal ini sudah sering terjadi sehingga terkadang semua orang akan membiarkannya lewat begitu saja. Lagipula siapa yang kuat siapa yang akan bertahan. Anggap saja pelayan itu memiliki nasib buruk karena dilahirkan sebagai pelayan yang hidup matinya tidak berharga. Bagi semua orang, berurusan dengan pelayan yang lemah seperti ini akan lebih nyaman daripada berurusan dengan tuan mereka.
"Tidak! Anda tidak boleh meragukan putri Wei Qian Nian meskipun anda adalah Raja Rui yang terhormat. Ini salah saya dan tidak ada hubungannya dengan tuan putri!" An Ru berteriak panik. Jika Wei Qian Nian juga akan dihukum, maka pengorbanannya akan sia-sia.
"Kenapa kamu begitu panik jika tuan putrimu memang tidak ada hubungannya dengan ini? Yang hampir celaka di sini adalah anak dan istriku. Aku tidak akan bisa tenang jika aku tidak memastikan sendiri bahwa pelakunya mendapat hukuman secara keseluruhan." Pei Zhang Xi mendengus. Mencibir An Ru yang setia tanpa pandang bulu.
"Ini...."
"Bagaimana menurut anda putri Wei?" Pei Zhang Xi mengalihkan pandangannya pada Wei Qian Nian.
"Baiklah Yang Mulia. Jika dengan begitu Yang Mulia Raja Rui mendapatkan ketenangan dan keyakinan, saya akan memberi izin dan membiarkan anda untuk memeriksa kediaman saya." Lagipula sebanyak apapun kalian memeriksa tidak akan mendapatkan hasil apapun. Semua bukti kejahatan ada pada An Ru yang mengurus semuanya. Tentu saja kalimat selanjutnya hanya diucapkan di dalam hati.
"Yang Mulia Kaisar, saya telah mendapatkan izin dari putri Wei. Sekarang mohon izinkan saya untuk melakukan penggeledahan kediaman sementara putri Wei Qian Nian." Pei Zhang Xi tersenyum. Ia mengalihkan pandangannya pada Kaisar yang menatapnya dengan tatapan mencemooh.
"Karena putri Chu Timur, Wei Qian Nian sendiri telah mengizinkan pengegeledahan, maka tidak ada lagi alasan untukku menahannya. Demi memastikan keadilan, Kasim Song akan memimpin penggeledahan ini."
"Hamba menerima tugas Yang Mulia."
"Terima kasih Yang Mulia."
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_70♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .