Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 202


Aroma manis dan harum segera tercium begitu Pei Shi Liang dan Xian Zi Xuan baru saja memasuki sebuah toko di pinggir jalan. Ada barisan pelanggan yang beratur di dua sisi ruangan. Di toko itu memiliki aturan siapa yang datang lebih dulu maka dia yang pertama akan dilayani. Status dan kekuasaan tidak akan berfungsi di tempat ini.


Pemilik Toko Kue nona Lan adalah seorang nona muda yang berasal dari desa. Memulai usahanya dari nol hingga saat ini memiliki beberapa cabang di ibu kota. Namun justru yang ada di jalan ini adalah toko utama meskipun toko tersebut tidak berada di jalanan utama.


Kue yang dijual di toko itu memiliki ciri khas yang berbeda dari kue dari toko lainnya meskipun memiliki nama dan bahan dasar yang sama. Cara pembuatan dan bentuk yang dari kue itu sendiri unik dan menarik. Yang paling penting adalah karena rasanya memang enak. Karena keistimewaannya itulah toko kue Nona Lan dapat diterima baik di masayarakat dan dapat berkebang dengan sangat baik.


Xian zi Xuan jelas tidak pernah melakukan itu sebelumnya. Mengantri dan bedesakan dengan banyak orang membuatnya tidak nyaman meskipun sebenarnya laki-laki dan perempuan berada di barisan yang berbeda.


Pei Shi Liang juga mengetahui hal ini. Karena itulah ia berulang kali menyarankan padanya untuk tidak masuk ke dalam dan menunggunya di luar saja. Tetapi dia menolak jika Pei Shi Liang tidak ikut menunggu di luar bersamanya. Pei Shi Liang akhirnya membiarkannya ikut beratur di barisan belakang seperti orang lainnya karena ia juga tidak bisa pergi sekarang. Kakak iparnya yang tercinta mempercayakan padanya tentang kue pilihannya. Dia tidak akan mengecewakannya!


Bei Yin memandang tuannya yang ikut berdesakan tanpa daya. Ia juga sudah menyarankan agar ia yang menggantikan tuannya itu untuk mengantri namun dengan tegas ditolak oleh nya. jadi dia hanya bisa berdiri di samping.


Untung saja orang-orang yang sedang mengantri merasakan jika yang mengantri bersama mereka buknlah berasal dari golongan rakyat biasa. Apalagi setelah mereka merasakan aura tertekan dan mendominasi yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan status tinggi. Jadi saat melihat yang di belakang mereka adalah Xian Zi Xuan dan Pei Shi Liang, mereka segera mundur tanpa perintah sehingga dua orang itu yang seharusnya berada di barisan belakang segera berada di barisan depan dengan cepat.


Pei Shi Liang juga baru pertama kali mengunjungi toko kue itu meskipun ia telah lama mendengar tentang ketenarannya. Sebelumnya ia bukanlah orang yang tertarik dengan makanan. Itu karena ia lahir dan besar di istana yang tentu saja telah merasakan berbagai macam makanan lezat sejak kecil.


"Kue apa saja yang dijual di toko ini?" Pei Shi Liang bertanya pada penjaga toko yang bertugas mencatatnya.


Cara pelayanan toko ini sangat berbeda dari toko lainnya yang ada di ibukota. Biasanya para pelanggan akan duduk dan pelayan menghampiri mereka untuk mencatat pesanan, tetapi cara pelayanan di toko ini seperti toko makanan cepat saji di dunia modern. di pintu masuk, seorang pelayan akan mencatat pesanan mereka sealigus membayarnya, baru setelah itu pelanggan akan mengambil pesaan mereka dengan bantuan pelanggan untuk dibawa ke meja mereka sendiri atau mereka memilih untuk membungkusnya.


Baik Pei Shi Liang maupun Xian Zi Xuan belum pernah melihat tata cara yang seperti itu dan mereka tidak bisa untuk tidak tertarik. Mereka akan memperhatikan orang-orang yang mengantri di depan mereka.


"Toko kami menyediakan berbagai macam kudapan. Ada...." Pei Shi Liang memperhatikan nama-nama kue yang ssangat familiar baginya, namun daari penjelasan pelayan, semua kuenya memiliki ciri khas dari kue yang dijual di toko lain. Jadi, dia memesan semua jenis kue itu.


Mendengar pesanan Pei Shi Liang, penjaga toko itu tersenyum. Pelanggan cantiknya ini memang bukan pelanggan sembarangan. Kemudian dia berkata,


"Pelayan ini telah mencatat pesanan nona muda, lalu semuanya adalah satu lima koin perak dan tiga puluh perunggu. Nona muda dapat mengambilnya di sebelah sana setelah menyelesaikan pembayaran, nanti pelayan kami akan melayani nona muda dengan baik." dengan ramah pelayan itu menjelaskan pada Pei Shi Liang.


"Emm... bisakah aku meminta kue yang baru selesai dimasak?Ini sebenarnya adalah keinginan kakak iparku yang baru saja melahirkan." Pei Shi Liang bertanya, Bagaimanapu toko ini memiliki cara yang unik. Mungkin saja mereka tidak akan menerima permintaannya.


"Tidak apa-apa. Kalau begitu tolong beritahu ku jika pesanan itu telah siap." Bagi Pei Shi Liang masalah uang Tentu saja bukan masalah baginya. Dia segera meyerahkn uang pada pelayan tu agar pesanannya segera diproses. pelayan itu menerima uang dengan senang hati dan tersenyum ramah.


"Baik nona muda. Pelayan ini akan segera menyiapkan pesanan anda. Untuk itu silahkan nona muda duduk di meja yang telh kami siapkan. kami juga akan memberikan teh gratis untuk menemni nona muda." Pelayan itu segera memberikan pesan pada reknnya untuk segera menyiapkan pesanan Pei Shi Liang.


"Kalau begitu terima kasih." Setelah mengatakan itu, Pei Shi Liang segera berbalik pergi untuk mencari tempat duduknya.


Pei Shi Liang duduk dikursi dekat jendela sambil melihat romongan kereta yang masih ada beberapa yang tersisa di jalan. Lalu matanya menangkap sosok yang familar baginya. Ia mngerutkan keningnya dan mulai menajamkan pandangan matanya untuk dapat melihat dengan jelas sosok yang sedang duduk di sebuah kreta yang berada di bagian paling belakang dan terlihat sangat mencolok dengan bnyaknya hiasan berwarna cerah yang menempel di kereta. Karea ia terlaalu fokus pada pemandangan di luar, ia tidak menyadari sejak kapan Xian Zi Xuan telah duduk di kursi yang ada di sampingnya. Lalu di atas meja di depan mereka, beberapa piring kecil berisi beberapa jenis kudapan yang terlihat enak.


"Apa yang sedang kamu lihat hingga membuatmu begitu fokus?" Pei shi Liang terkejut saat mendengar suara pria yang seksi dan sapuan napas hangat meyapu lehernya yang terbuka.


"Apa... apa yang kamu lakukan? Cepat menjauh dariku!" Pei Shi Liang dengan reflek mundur. Seluruh wajahnya semuanya telah berubah merah seperti tomat matang. Begitu juga denan kedua daun telinganya.


Melihat Pei Shi Liang yang menjauh darinya seperti dia menjauhi hantu, Xian Zi Xuan merasa tidak berdaya.


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_202🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi cerita, pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉