
Jalan di ibukota terasa suram saat lagu kematian bergema di sepanjang jalan. Terompet ditiup begitu menyayat hati. Sedangkan suara drum mengetuk hati siapapun yang mendengarnya. Lagu kematian semakin membuat suasana berkabung menjadi semakin terasa.
Seorang laki-laki berbaju putih berjalan dan menyebarkan koin serta potongan kertas putih di depan peti mati yang dibawa oleh empat orang pria bertubuh besar. Ada juga beberapa pelayan wanita yang menyebarkan kelopak bunga berbagai macam sesekali.
Pei Qin Yang berjalan di belakang peti dengan wajah datar yang tampak tidak memiliki emosi. Para selir juga mengikuti di belakang Pei Qin Yang untuk ikut mengantarkan Zhu Man Xie yang pernah menjadi pemimpin para wanita itu.
Seperti orang lainnya, para selir ini juga memakai pakaian serba putih sebagai tanda berkabung mereka. Namun demikian, wajah mereka sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka dalam suasana hati yang bersedih. Bibir mereka masih berhias dengan Cibabar merah meskipun hanya samar terlihat. Bahkan pipi mereka tidak lupa mereka beri pemerah pipi agar tidak terlihat pucat. Yang paling mencolok adalah mata mereka yang terlihat bersinar meskipun bibir mereka tertutup rapat dengan garis datar khas orang yang sedang bersedih.
Setiap orang di jalan menepi dengan mulut terkunci rapat. Tidak ada satupun orang yang berani mengatakan sesuatu di saat yang paling hening itu. Tidak ada lagi yang membahas bagaimana Zhu Man Xie akhirnya meninggal atau bagaiamana dia meninggal. Mereka hanya menepi dan diam-diam meneliti wajah setiap orang yang ikut berjalan di dalam rombongan.
Karena Zhu Man Xie telah dicopot dari gelar permaisuri nya, dia tidak berhak dimakamkan di makam kerajaan. Dia akan dimakamkan di tempat pemakaman milik keluarga Zhu yang ada di sisi barat ibu kota. Lalu, selain Pei Qin Yang, tidak ada satupun dari anggota keluarga kerajaan yang ikut mengantarkan mayat Zhu Man Xie ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dan semua ini tidak luput dari penglihatan semua orang.
Setelah prosesi pemakaman yang diselenggarakan di kediaman selesai, sebagian besar para pelayat pulang. Yang masih menunggu di sekitar adalah para bangsawan yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Zhu yang masih membutuhkan untuk menjilat keluarga itu. Sedangkan Pei Zhang Xi kembali ke kantor pusat biro Yunguang untuk menyelesaikan laporan terakhir sebelum menyelesaikan prosedur pengunduran dirinya.
"Putri Mahkota, seorang kasim datang dari istana untuk memberi perintah." Xiao Bei masuk ke kamar Lu Jing Yu dengan tergesa-gesa ketika Lu Jing Yu sedang menyusui pangeran kecil.
"Ada apa? Katakan dengan jelas." Lu Jing Yu menyerahkan pangeran kecil yang telah tertidur kepada pengasuhnya. Pengasuh itu tahu bagaimana bersikap dan segera membawa pangeran kecil kaluar dari kamar.
"Di aula depan... Kasim Wen datang mencari anda. Seperti nya ada sesuatu yang gawat dilihat dari wajahnya." Xiao Bei berkata dengan panik.
"Baiklah aku mengerti. Ikut aku ke depan. Aku ingin lihat apa yang terjadi." Lu Jing Yu berdiri dan memakai jubah luarnya.
Di aula depan, Kasim Wen menunggu dengan cemas. Dia segera berdiri begitu mendnegar suara langkah kaki yang masuk ke dalam aula. Wajahnya yang tua tampak lebih tua saat ia merasa cemas.
"Salam Yang Mulia Putri Mahkota." Kasim Wen tidak pernah melupakan kewajibannya meskipun ia dalam keadaan cemas. Ia membungkuk dna memberi hormat dengan takdzim.
"Berdirilah kasim Wen." Lu Jing Yu melambaikan tangannya. Meskipun ia tidak begitu menyukai semua orang yang akan sedikit sedikit membungkukkan tubuhnya padanya meskipun ia jauh lebih muda dari mereka, dia masih harus menghormati adat kebiasaan yang ada.
"Kasim Wen, tolong katakan padaku ada masalah apa hingga Kasim Wen datang secara pribadi kemari."
"Begini Putri Mahkota, hamba datang ke.ari atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar atas saran tabib kekaisaran."
"Tabib kekaisaran?" Gumam Lu Jing Yu tidak percaya.
"Ya Yang Mulia. Hamba juga tidak mengerti dengan jelas, tetapi masalah ini berkaitan dengan Ibu Suri."
Ketika Lu Jing Yu sampai di paviliun Kedamaian yang merupakan paviliun milik ibu Suri, suasana tampak tegang di sana. Wajah semua orang menunjukkan bahwa mereka sedang merasa cemas. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mengeluarkan suara hingga hanya suara langkah kaki Lu Jing Yu yang terdengar menggema di sepanjang jalan. Lu Jing Yu sendiri tidak membuang waktu dan berjalan dengan cepat menuju ke ruang utama dimana kamar Ibu Suri berada.
Di depan kamar, kaisar Pei An Long duduk di bangku batu terlihat sangat tegang. Wajahnya menyiratkan bahwa pria nomer satu di kekaisaran itu sedang cemas. Sedangkan Paduka Kaisar yang saat Keadaan ibu Suri pertama kali down hari itu tampak datar hari ini juga memperlihatkan riak yang sangat terlihat. Pria tua itu mencintai ibu Suri bagaimana pun.
Di masa lalu paduka Kaisar dapat mempertahankan ketenangannya karena ia sudah hampir merelakan ibu Suri. Namun belakangan keadaan ibu Suri justru membaik dari waktu ke waktu sehingga harapannya sedikit demi sedikit muncul. Itulah sebabnya saat tiba-tiba saja kondisi ibu suri memburuk lagi hanya dalam semalam, paduka Kaisar yang hampir tidak tergoyahkan mulai runtuh. Dan wajahnya terlihat sepuluh tahun lebih tua dalam waktu semalam. Bahunya yang terbiasa terlihat kokoh hari ini tampak layu.
Selain kedua orang itu, hampir tidak ada anggota keluarga kerajaan yang lainnya. Mereka mungkin juga baru saja sampai di kediaman mereka dari menghadiri upacara pemakaman Zhu Man Xie dan belum mendapat kabar.
Melihat Lu Jing Yu datang, semua orang mulai bergerak.
"Salam Kakek. Salam ayah." Lu Jing Yu memberi hormat pada Dua orang itu bergantian.
"Bangunlah. Tidak perlu formalitas lain kali." Kaisar Pei An Long melambaikan tangannya.
"Terima kasih Ayah." Lu Jing Yu berdiri.
"Tabib istana berkata saat Terakhir kali kamu datang kemari, kamu mengatakan beberapa hal yang baik dan buruk untuk ibu. Dan ternyata semua itu benar setelah tabib istana memikirkannya. Itulah kenapa keadaan ibu jauh lebih baik dalam beberapa waktu terakhir." Kaisar Pei An Long menjeda dan menghela napas. Ia baru pulang dari kediaman Pei Qin Yang dan mendapat kabar dari paviliun Kedamaian yang mengatakan kondisi ibu Suri tiba-tiba saja memburuk.
"Namun tiba-tiba keadaan ibu mulai memburuk hari ini. Tabib bilang kondisi ibu sangat mengkhawatirkan. Jika kamu mengetahui tentang baik buruk mengenai penyakit ibu. Mungkin kamu juga dapat membantu membuat kondisi ibu kembali stabil."
"Aku mengerti Ayah. Aku akan melihat apa yang bisa aku lakukan untuk nenek." Lu Jing Yu tidan dapat memastikan sebelum ia mengetahui kondisi ibu suri.
"Mm.. masuklah dan lihat nenekmu."
*
*
~#Permaisuri Tidak Ingin Mati_150#~
Please like, share, vote and comment 😊