Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
84. Ratu Dan Pei Zhang Xi


Wajah Pei Zhang Xi tidak pernah secerah ini sebelumnya. Sejak ia tumbuh dewasa dan mengenal dunia istana yang tidak mengenal saudara, ia hampir tidak pernah bisa tersenyum dari lubuk hatinya. Namun saat ini bukan hanya ia tersenyum, ia bahkan tertawa terbahak-bahak. Membuat halaman Ratu yang sepi terpecah oleh suara tawa Pei Zhang Xi yang tidak dapat mereka kenali.


Ratu yang sedang berada di kediamannya, menunggu kedatangan para pangeran dengan jubah emas Phoeniknya hampir menyemburkan teh mawar yang baru saja diminumnya.


"Ada apa di luar? Siapa yang berani tertawa begitu kencang di halamanku?" Tanya Ratu Zhu Qian Yi pada bibir Ergu yang merupakan pelayanan setianya.


"Hamba juga tidak tahu Yang Mulia. Hamba akan segera melihatnya." Ratu Zhu melambaikan tangannya dan bibir Ergu mundur dan keluar untuk memberi perintah.


Di halaman, Pei Zhang Xi masih belum menyadari bahwa tindakannya mengganggu seorang ratu dan membuat semua orang pelayan di halaman Ratu melihatnya dengan kepala penuh tanda tanya.


"Yang Mulia jaga sikapmu. Kita masih ada di halaman Ratu." Lu Jing Yu menarik tangan Pei Zhang Xi. Ia juga tidak menyangka jika Pei Zhang Xi akan tertawa dengan begitu keras.


"Nanti malam kita lanjutkan lagi. Sekarang kita selesaikan dulu semua ini." Pei Zhang Xi juga tidak sadar jika ekspresinya engkau berlebihan. Ia berdehem dan meraih Lu Jing Yu untuk membantunya menemui Ratu.


"Kami memberi salam kepada ibu Ratu." Ucap Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi saat mereka sudah berada di dalam ruangan Ratu. Ratu Zhu seperti biasa duduk di anggun di tengah ruangan. Jubah poeniknya yang agung erlihat pas di tubuhnya yang ramping. Wajahnya terlihat cantik seperti biasa. Tetapi kerutan di keningnya menunjukkan bahwa ia sedang berada di dalam hati yang tidak baik.


"Bagunlah." Ratu Zhu melambaikan tangannya. Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu segera duduk di depan Ratu Zhu.


"Aku sengat senang melihat kalian yang bahagia. Wajah Xi'er juga terlihat berseri-seri saat ini."


"Semua ini berkat restu ibu Ratu sehingga kami selalu akur dan bahagia." Ratu Zhu tersenyum lembut. Namun senyum ini jika dilihat lebih jelas menyiratkan lebih banyak cibiran dari pada pujian.


"Sepertinya perutmu sudah terlihat. Sudah masuk berapa bulan?"


"Sudah masuk empat bulan."


"Bagus. Jaga baik-baik cucu kerajaan yang ada di dalam perutmu itu. Yang'er dan Xie'er sudah menikah. Aku harap mereka juga segera memberikan kabar baik. Selain Selir Su dan aku, di harem ini semuanya sudah memiliki cucu untuk ditimang. Kandunganmu sudah berusia empat bulan. Sebentar lagi juga akan melahirkan. Huh...  Aku harap mereka segera memberiku cucu laki-laki yang tampan dan gemuk."


"Semoga harapan ibu Ratu segera tercapai."


Hubungan antara Ratu Zhu dan Pei Zhang Xi juga tidak bisa dibilang baik meski tidak juga buruk. Ratu Zhu bahkan memiliki sedikit kebencian pada anak suaminya dari istrinya lain ini. Tidak dapat dipungkiri jika kemampuan Pei Zhang Xi memang sangat baik. Dibandingkan dengan pangeran lainnya, kemampuan dana kualifikasi yang dimiliki Pei Zhang Xi untuk menjadi putra mahkota adalah yang paling besar.


Ratu Zhu memiliki putra sendiri dengan Kaisar. Tentu saja ia juga menginginkan bahwa putranyalah yang akan mewarisi tahta ayahnya suatu hari nanti dana dia akan menjadi ibu suri. Jika bukan putranya yang akan menjadi Kaisar, dia hanya bisa menjadi janda permaisuri dan tidak memiliki kekuasaan apapun di harem. Jatuh pada titik terendah seperti itu tidak akan bisa ia terima.


Ratu Zhu sering dibuat pusing sebab memikirkan masa depan Pei Qin Yang. Putranya ini seperti tidak memiliki semangat dan ambisi untuk ikut dalam perebutan tahta. Dia adalah satu-satunya putra langsung dari Ratu dan Kaisar. Jika dia mau berusaha sedikit saja, bisa dipastikan bahwa dialah yang akan menarik lebih banyak dukungan. Apalagi kakek luarnya adalah tokoh yang dipandang di Kekaisaran.


Mengingat kekurangan Putranya ini, ketidak puasan Ratu Zhu segera memuncak. Ia menatap punggung tegap Pei Zhang Xi yang sangat mirip dengan punggung suaminya dengan kesal yang tak tertahankan.


Di dalam paviliun Leng Qi yang tidak jauh dari halaman Ratu Zhu, Selir Su sudah tidak bisa tenang dari pagi. Ia bangun pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit dana memanggil para pelayan untuk membuat banyak persiapan. Berbagai makanan ringan dan juga buah-buahan disiapkan dengan teliti. Semua persiapan tidak ada yang luput dari perhatian Selir Su.


Setelah persiapan siap, baru ia bisa mempersiapkan dirinya sendiri. Mandi dengan kelopak bunga mawar dicampur dengan bunga persik yang lembut. Setelah itu berhias dengan cantik. Ia juga meminta para pelayan untuk menata rambutnya dengan sanggul yang biasanya dia tidak suka. Setelah memastikan penampilan cantiknya, Selir Su duduk di gazebo sambil membaca buku mengenai ibu hamil dan melahirkan. Ia tidak mau menjadi ibu mertua yang tidak kompeten.


Satu jam berlalu tidak terasa dana punggung Selir Su mulai terasa kaku. Ia berdiri cukup lama di gazebo sambil memberi makan ikan di kolam untuk menghilangkan kebosananya. Namun setelah ikan di kolam hampir mati kekenyangan, anak dia menantu yang sudah ditunggangi sejak pagi belum juga sampai.


"Prak!" Selir Su melempar pakan ikan ke lantai Gazebo karena marah.


"Bersabarlah sebentar lagi nyonya. Hari ini semua pangeran dana putri akan memasuki istana untuk memberi hormat. Raja dan permaisuri Rusia pasti masih tertahan di paviliun Yang Mulia Kaisar atau Yang Mulia Ratu." Bibi Gu berusaha menenangkan Selir Su.


"Ini semua salah Kaisar." Selir Su yang marah menghentakkan kakinya dengan kesal.


"Nyonya tenanglah." Bibi Gu tersenyum canggung. Selain nyonya yang dilayaninya ini tidak akan ada yang berani menyalahkan Kaisar dengan mudah.


"Itu benar. Ini semua salah Kaisar. Aku sudah meminta untuk mengizinkannya mengunjungi Yu'er. Tapi dia malah memintaku untuk menemaninya. Aku kira jika aku ikut bermain dia akan mengizinkanku. Tidak tahunya karena keadilan bermain aku hampir tidak bisa bangun untuk memberi salam pada Ratu pagi harinya. Sudah berbuat begitu banyak masih tidak diizinkan menemui Yu'er. Awas saja jika dia memintaku bermain dengannya aku tidak akan mau."  Bibi Gu sudah sering mendengar kalimat yang dembarangan dan ambigu seperti ini yang keluar dari bibir tipis Selir Su. Tetapi ia masih saja memerah saat mendengarnya.


"Bibi Gu! Kapan mereka akan datang? Aku sudah Stabat merindukan Yu'er." Selir Su mengerutkan bibirnya dana menunjukkan wajahnya yang tidak sabar pada bibi Gu.


"Hanya merindukan menantumu? Tidak merindukan putramu yang tampan ini?" Mendengar suara yang sangat ia kenali, Selir Su segera berbalik dan memusatkan tatapannya pada Lu Jing Yu yang berdiri di SAMPING Pei ZHANG Xi. Lalu secara bertahap pandangannya terpusat pada bagian menonjol di bagian perut bawah Lu Jing Yu.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_84♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .