Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 201


Setelah masuk ke dalam kereta, Pei Shi Liang duduk di salah satu sisi dengan memegang satu mangkuk bubur dengan hati-hati. Sedangkan empat mangkuk lainnya ia letakkan tepat di sisi kanannya sedangkan dia sendiri duduk tepat di samping jendela sisi kiri. Tepat di depan Pei Shi Liang, satu kantung kue daun bawang goreng diletakkan di sana dengan hati-hati. Bahkan saat Xian Zi Xuan akan memindahkannya ke satu sisi agar ia bisa uduk tepat di depan Pei Shi Liang pun gadis itu melarangnya dan lebih memilih turun jika Xian Zi Xuan masih bersikeras memindahkannya. Itulah kenapa Xian Zi Xuan pada akhirnya hanya bisa menopang dagunya memandang Pei Shi Liang tanpa daya di kursi depannya.


Kereta yang digunakan Xian Zu Xuan adalah kereta yang biasa. Tidak terlalu luas yang hanya bisa menampung empat orang di dalamnya. Ada dua kursi yang saling berhadapan. Sebelumnya saat Xian Zi Xuan duduk sendirian di dalam, kereta itu masih memiliki cukup banyak tempat yang masih kosong. Tapi sekarang dengan Pei Shi Liang dan bubur-bubur itu, seluruh tempat sepertinya telah terisi penuh sehingga Xian Zi Xuan terpaksa duduk menghadap mangkuk bubur.


"Sepertinya kamu sangat memuja kakak iparmu, Yang Mulia Putri Mahkota." Xian Zi Xuan mengganti posisinya dan bertanya untuk membuka percakapan. Ini adalah ksempatan yang bagus jika dia berniat mendekati gadis itu, jadi dia harus memanfaatkan keempatan itu dengan baik. Apalagi jarak antara istana dan hutan kerajaan cukup dekat dan hanya membutuhkan waktu sebentar untuk sampai. Apalagi saat ini sudah setengah perjalanan terlampaui. Jika dia tidak berhasil memulai percakapan yang baik dengannya, mereka akan segera sampai. Pada saat itu ia yakin jika Pei Shi Liang akan segera pergi dan meninggalkannya sendirian.


"Benar." Xian Zi Xuan benar-benar tidak percaya Pei Shi Liang akan mengakuinya begitu saja. Apa dia hanya menjawab sekenanya saja?


"Apa yang membuat kamu sangat menyukai kakak iparmu?" Xian Zi Xuan bertanya lagi.


"Tidak ada urusannya denga anda." Jwab Pei Shi Liang acuh.


"Tentu saja ada. Jika kamu menikah denganku tentu saja kakak dan adik perempuanku akan menjadi saudari iparmu. Aku akan membuat mereka menjadi seperti kakak ipar kesukaanmu agar kamu betah tinggal di sana."


"Hmph." Pei Shi Liang tidak menjawab dan hanya mendengus. Ia tidak tahu Xian Zi Xuan, pangeran putra mahkota yang kabarnya memiliki sifat digin dan acuh tak acuh itu memiliki kepercayaan diri yang begitu besar hingga hampir mendekati tidak tahu malu. Atau dia memang sudah sampai tahap itu...


Xian Zi Xuan baru akan berbicara lagi saat ia mendengar pelayannya berkta jika pelayan Lu Jing Yu datang mencari Pei Shi Liang. Raut wajahnya segera berubah suram. Sedangkan Pei Shi Liang sebaliknya. Ia sangat senang. Waktu yang tepat untuk pergi. Diapun segera bersiap turun sebelum ucapan Chu Fei selanjutnya membuatnya teriam tidak percaya. "jadi kakak ipar memintaku untuk membelikan kue untuknya?" Pei Shi Liang bertanya memastikan.


"Benar tuan putri." Chu Fei mengangguk.


"Bagaimana jika kamu saja yang membelikannya? Sementara aku yang akan mengantarkan bubur ini pada kakak ipar, Jika buburnya sudah dngn rasanya tidak akan enak lagi." Dia harus mencari alasan untuk segera keluar dari kereta ini. Berada di samping Xian Zi Xuan terlalu lama tidak akan baik untuknya.


"Sepertinya tidak bisa tuan Putri. Yang Mulia berkata jika hanya Tuan Putri yang akan mengetahui kue seperti apa yang Yang Mulia inginkan. Apalagi Yang Mulia menginginkan kue yang baru selesai di masak. Sedangkan untuk bubur kacang hijaunya, hamba yang akan membawanya kembali." Ia rasa kakak iparnya yang tercinta memang sengaja melakukannya kan?!


"Baiklah. kalau begitu tolog bawakan bubur kacang hijau dan kue daun bawang goreng ini pada kakak ipar. katakan padanya aku akan membawakan kue pesanannya." Setelah mengatakan itu, Pei Shi Liang menyerahkan mangkuk bubur yang dipegangnya pada Chu Fei. Mangkuk-mangkuk yang lai juga segera dipindahkan ke dalam kereta yang dibawa oleh Chu Fei. Setelah melakukan tugasnya, Chu Fei segera undur diri dan pergi.


"Terima kasih atas bantuan Putra mahkota Shixian. Saya masih ada urusan, jadi saya akan turun di sini." Pei Shi Liang bersiap untuk turun. Tapi Xian Zi Xuan menghalanginya. Pei Shi Liang menatap tajam tangan yang terulur menghalangi di depannya.


"Bukankah kamu bilang pengawalmu akan membantuku menjaga kudaku, dimana kudaku sekarang?"


"Ada. Tapi aku sudah meminta orang untuk mengantarkannya ke hutan kerajaan sehingga kamu akan dapat langsung mengambilnya saat sampai di sana."


"Bagaimana kamu bisa melakukannya? Kamu pasti sengaja kan?"


"Tidak. Aku hanya ingin membantumu. Jika kudamu sampai di hutan kerajaan lebih cepat, dia akan cukup beristirahan untuk diajak berburu. Lagipula aku juga tidak tahu jika ternyata kakak iparmu akan memintamu pergi membeli sesuatu untuknya lagi? Aku bukan cenayang yang bisa meramal nasib seseorang. Tapi aku bisa meramal jika tidak lama lagi kita aka menjadi suami istri dan kamu akan mengikutiku dengan senang hati."


"Mimpi! Itu tidak akan pernah terjadi! Hemp!" Pei Shi Liang mendengus saat ia memalingkan wajahnya dengan kesal.


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_201🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi cerita, pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉