Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 152


"Tabib, apakah kalian percaya padaku?" Lu Jing Yu bertanya pada semua tabib yang ada di sana. Cara yang ia lakukan mungkin tidak pernah dilihat oleh para tabib berpengalaman di depannya ini. Dan dia mungkin akan dilawan untuk itu. Jadi dia harus bertanya sebelum ia melakukan tindakan karena bagaimanapun ia pasti akan membutuhkan bantuan mereka.


"Kami percaya Yang Mulia." Para tabib mengangguk pasti. Meskipun mereka tidak mengetahui apa yang akan Lu Jing Yu lakukan untuk menyembuhkan ibu Suri, mereka tidak memiliki pilihan lain selain percaya karena mereka juga tidak memiliki cara untuk menangani situasi ibu Suri. Saat ini harapan terakhir mereka adalah Lu Jing Yu.


"Baiklah. Meskipun aku tidak yakin apakah aku bisa menyembuhkan nenek, apa kalian masih akan percaya?" Para tabib yang kebanyakan adalah pria paruh baya itu memiliki kejutan di matanya saat mereka mendengar apa yang dikatakan Lu Jing Yu.


"Ini... " Kepala tabib istana menoleh pada rekannya untuk meminta pendapat dari rekannya. Satu persatu mereka akhirnya mengangguk. Mereka masih tidak memiliki pilihan lain. Jadi mereka masih harus mengandalkan Lu Jing Yu.


"Kami percaya Yang Mulia."


"Apa kalian yakin?" Lu Jing Yu menyipitkan matanya.


"Ya. Kami mengandalkan Yang Mulia."


"Kalau begitu aku akan menulis apa saja yang dibutuhkan, tolong siapkan nanti." Lu Jing Yu kemudian menuliskan beberapa ramuan obat yang ia butuhkan untuk mendukung tindakannya. Ia juga meminta para pelayan menyiapkan beberapa barang.


Pei Zhang Xi segera datang ke istana begitu ia mengetahui jika Lu Jing Yu dipanggil secara khusus untuk datang. Saat Pei Zhang Xi sampai di paviliun ibu Suri, semua anggota keluarga kerajaan sudah berada di sana. Mereka juga sama bergegas datang setelah mendengar kondisi ibu Suri yang memburuk. Namun mereka semua tidak mengetahui jika Lu Jing Yu berada di dalam kamar ibu Suri. Mereka hanya tahu jika tabib sedang berusaha mengobati ibu Suri di dalam.


"Salam Ayah Kaisar. Kakek." Pei Zhang Xi segera menghampiri kaisar Pei An Long dan paduka kaisar.


"Bangunlah."


"Salam Yang Mulia Putra Mahkota." Para raja dan pangeran memberi salam pada Pei Zhang Xi.


"Bangunlah."


"Bagaimana keadaan nenek?"


"Huft.... kita Semua hanya bisa bergantung pada keberuntungan nenekmu."


Pei Zhang Xi terdiam mendengar apa yang dikatakan kaisar Pei An Long. Mereka hanya diam-diam menghela napas.


Di dalam ruangan semua orang mengelap keringat dingin di dahi mereka. Lu Jing Yu meminta jarum yang diambil dari Li Zhi Jin untuk mengobati ibu Suri. Jarum itu disterilkan dengan cara dipanaskan di atas api lilin dengan hati-hati. Satu persatu jarum ditusukkan ke beberapa bagian. Para tabib tidak berani mengganggu Lu Jing Yu. Mereka hanya memperhatikan tanpa mengeluarkan suara. Bahkan, mereka harus menahan napas setiap kali Lu Jing Yu menusukkan jarum ke dalam tubuh ibu Suri. Jarum akupuntur dibuat lebih panjang dari jarum biasanya. Mereka tidak dapat membayangkan bagaimana rasa sakit yang harus dirasakan oleh ibu Suri. Namun karena mereka sudah membuat keputusan, mereka tidak bisa mundur lagi.


Xiao Bei mengelap keringat di dahi Lu Jing Yu secara berkala saat melihat kening wanita itu mulai terlihat penuh dengan butiran keringat. Deru napas Lu Jing Yu terdengar di dalam keheningan.


"Yang Mulia, bukankah terlalu hening di dalam kamar ibu? Ini terlalu mencurigakan. Kenapa kita tidak mengeceknya ke dalam?" Ratu Zhu berkata setelah ia tidak mendengar sesuatu pun dari kamar ibu Suri selain gerakan yang samar.


"Tidak perlu. Meskipun kita masuk kita juga tidak bisa melakukan apapun. Jadi tetap diam di sini."


"Tapi...."


"Jika kau tidak memiliki solusi yang lebih baik, diamlah." Kaisar Pei An Long segera memotong ucapan Ratu Zhu.


"Yang Mulia, bukannya aku tidak ingin membantu. Tetapi para tabib Kekaisaran yang sudah memiliki banyak pengalaman saja tidak memiliki keyakinan jika mereka mampu menyembuhkan ibu, bagaimana bisa kita mempercayakan semua ini pada putri Mahkota?"


Mendengar ucapan Ratu Zhu, semua orang terkejut. Mereka tidak menyangka jika yang ada di dalam sedang mengobati ibu Suri adalah Lu Jing Yu.


"Ayah? Apa benar yang dikatakan ibu ratu? Apakah Putri mahkota yang ada di dalam?" Pei Shi Liang bertanya dengan terkejut.


"Benar."


"Jadi kita tidak perlu khawatir. Aku yakin putri mahkota akan melakukan yang terbaik untuk nenek."


Namun tidak semua orang memiliki keyakinan yang sama dengan Pei Shi Liang. Kebanyakan dari mereka justru meragukan Lu Jing Yu. Mereka mulai mengungkapkan jika mereka tidak puas secara sembunyi-sembunyi.


"Lalu? Apakah menurutmu kau yang bisa berada di dalam dan dapat diandalkan?"


"Ti-tidak. Bukan seperti itu maksudku seperti itu ayah. Hanya saja kita tidak tahu apakah Putri Mahkota mampu menyembuhkan nenek."


"Keadaan wanita tua itu memang sudah parah. Mampu bertahan selama ini sudah bisa dibilang waniya tua itu memiliki berkah dari kehidupan sebelumnya. Semua itu juga berkat Lu Jing Yu wanita tua itu dapat melalui situasi sulit selama ini. Jika tidak sudah sejak lama wanita tua itu akan pergi. Jadi jika saat ini Lu Jing Yu tidak..."


Semua yang terjadi di luar kamar tidak sedikitpun berpengaruh pada apa yang terjadi di dlsam kamar. Lu Jing Yu dan para tabib masih berusaha menyelamatkan ibu Suri dari gerbang kematian dengan kemampuan terbaik mereka.


Lu Jing Yu menghela napas lega setelah ia selesai melakukan perawatan. Keringat di dahinya segera dibersihkan oleh Xiao Bei. Dua jam berlalu sejak Lu Jing Yu memasuki kamar ibu Suri dan mulai mengobati nya. Saat ini kondisi ibu Suri sudah bisa dikatakan stabil. Detak jantungnya tidak lagi selemah beberapa waktu yang lalu. Napasnya yang tadi sangat lemah bahkan hampir tidak terasa sudah mulai terdengar ringan. Warna wajahnya sudah mulai terisi dengan samar kemerahan di kedua pipinya. Membuat wajah putih pucat seperti orang yang sudah mati telah tergantikan meskipun wajah itu masih pucat.


Tabib kekaisaran yang sejak awal memperhatikan dan sesekali membantu Lu Jing Yu sesuai dengan intruksi yang diberikan Lu Jing Yu melihat perubahan signifikan itu dan juga menghela napas. Meskipun ia telah mempercayakan kesembuhan ibu Suri pada Lu Jing Yu, namun saat ia melihat apa yang dilakukan Lu Jing Yu mulai meragukan keputusan nya. Namun setelah ia melihat kemajuan baiknya, ia pun merasa lega.


"Tabib, ibu Suri telah stabil saat ini. Namun masih memerlukan beberapa kali perawatan untuk mengendalikan kondisinya."


"Hamba mengerti Yang Mulia. Hamba merasa sangat bersyukur melihat semua keajaiban ini. Hamba tidak menyangka putri Mahkota dapat melakukan hal yang sangat sulit ini. Kita semua tahu jika ibu Suri sudah satu langkah di jalan kematian, jika bukan kemampuan putri mahkota yang hebat, takutnya..."


"Sudahlah tabib. Yang terpenting saat ini adalah kondisi nenek sudah membaik. Ramuan yang aku minta siapkan tadi berikan pada nenek setelah habis dua dupa agar apa yang aku lakukan lebih efektif."


"Baik Yang Mulia. Hamba akan mengingat ini."


"Baguslah."


"Yang Mulia, anda terlihat pucat, apakah hamba perlu memanggil tabib wanita untuk memeriksa anda?" Tabib istana bertanya setelah melihat wajah pucat Lu Jing Yu.


"Tidak perlu. Aku hanya lelah dan kehabisan tenaga. Aku akan istirahat di ruangan samping senyata waktu. Jika ada sesuatu pada ibu Suri, tolong beritahu aku segera."


"Kreeek..." Paduka Kaisar tidak melanjutkan kalimatnya setelah mendengar suara pintu terbuka. Ia segera menoleh dan melihat Lu Jing Yu yang berjalan dengan sedikit limbung dengan wajah yang pucat. Pei Zhang Xi segera menghampiri dan menopang tubuh istrinya itu.


"Yu'er, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Pei Zhang Xi dengan khawatir. Lu Jing Yu belum pulih sepenuhnya.


"Kenapa anda malah menanyakan keadaan putri mahkota dibandingkan dengan nenek, putra mahkota? Apa di mata anda outri mahkota lebih penting dari nenek?" Qin Sui Lan masih belum puas sebelum ia menghancurkan Lu Jing Yu yang sombong. Semua orang mamandang tak percaya ke arahnya.


"Lihat wajah nya yang pucat. Aku sudah bilang kita tidak bisa percaya begitu saja pada putri mahkota. Lihat apa yang terjadi sekarang? Dengan kemampuan nya, aku rasa ibu suri telah..."


"Telah apa? Apa kamu mau mengutuk nenek?!" Pei Shi Liang berkata dengan keras menatap Qin Sui Lan tajam.


"Tidak! Tentu saja aku tidak. Aku hanya..."


"Hanya apa hah?"


"Yu'er, kamu pasti lelah sekarang. Aku akan membawamu beristirahat." Pei Zhang Xi menggendong Lu Jing Yu tanpa memperdulikan semua orang yang memandang mereka.


"Hem. Bawa aku ke ruangan samping. Aku masih harus memperhatikan perkembangan nenek." Lu Jing Yu juga tidak memperdulikan semua orang saat ia meletakkan kepalanya bersandar di dada Pei Zhang Xi dan segera menutup matanya yang lelah.


*


*


~πŸ€Permaisuri Tidak Ingin Mati_152πŸ€~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak πŸ‘£ like πŸ‘ komentar πŸ“ vote 🌟