
Pei Zhang Xi menunggu teh madu siap dan baru kembali ke kamarnya. Lu Jing Yu sudah selesai mandi dan juga sudah memakai baju tidurnya. Saat Pei Zhang Xi masuk, Lu Jing Yu serang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di depan meja rias.
Pei Zhang Xi meletakkan teh madu di sisi meja dan duduk di pinggir meja. "Kamu sudah berada di sini lima hari lamanya. Besok aku akan menyuruh Quan Yuan kembali ke ibukota." Pei Zhang Xi masih kepikiran mengenai apa yang dikatakan para prajurit di dapur. Sebelumnya ia tidak begitu memperhatikan karena terlalu banyak yang harus ia tangani. Tapi setelah adanya Lu Jing Yu di Kamp militer, pekerjaannya jauh lebih ringan dari biasanya. Bahkan permasalahan yang sulit mereka pecahkan berangsur-angsur menjadi lebih baik dan lebih baik. Kehadiran Lu Jing Yu sangat membantu merekan. Dan sekarang, ia berusaha berpikir bahwa Lu Jing Yu tidak sepantasnya tinggal di kamp militer yang buruk dan tidak nyaman ini.
"Kenapa Yang Mulia berpikir untuk mengirimku kembali lagi? Apa yang Mulia benar-benar tidak suka aku ada di sini?" Lu Jing Yu menghentikan gerakan tangannya dan berbalik untuk menatap Pei Zhang Xi.
"Bukan. Bukan seperti itu." Pei Zhang Xi menggelengkan kepalanya. "Lihatlah di sini. Tempat ini sangat sederhana. Kamar ini sempit dan ranjang pun keras. Selama ini kamu pasti merasa tidak nyaman kan? Tempat ini tidak cocok untukmu."
"Apa Yang Mulia pernah mendengarkanku mengeluh tentang ini?"
"..." Lu Jing Yu memang tidak pernah mengeluh tentang apapun selama ia berada di tempat seperti ini.
"Jika begitu biarkan aku tinggal di sini. Aku juga tidak hanya diam saja. Aku membantu di sini. Apalagi menurut prediksiku, musuh-musuh itu akan segera kehilangan kesabaran mereka dan menyerang. Kalau tidak ada yang ingin dikatakan, aku akan tidur dulu."
"Minum tehmu dulu sebelum tidur." Pei Zhang Xi mencekal tangan Lu Jing Yu yang sudah akan berdiri. Lu Jing Yu kembali duduk dan meminum teh madunya.
"Terima kasih Yang Mulia."
"Hem. Sekarang mari kita tidur." Pei Zhang Xi menarik tangan Lu Jing Yu dia membawanya pergi ke tempat tidur mereka.
Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi berbaring berhadapan. Karena tidak ada yang mengalah tidur di lantai dan juga mereka sudah pernah melakukan itu meskipun belum pernah terulang lagi sejak malam itu. Jadi mereka memutuskan untuk berbagi ranjang yang sempit di kamar kamp militer.
"Aku mengerti apa yang Yang Mulia maksudkan. Tetapi Yang Mulia juga harus tahu, aku tidak keberatan tinggal di sini. Kita akan pulang bersama setelah semua ini berlalu. Aku ada di sini tidak semata-mata karena aku ingin. Tetapi karena aku tahu aku dibutuhkan."
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengusirmu pergi. Aku hanya khawatir. Di sini selain tidak nyaman juga berbahaya."
"Aku tahu Yang Mulia. Yang Mulia tenang saja. Aku juga takut terluka. Aku akan pergi begitu aku merasa bahaya."
"Baiklah. Sekarang kita harus tidur. hari ini sudah berusaha keras."
Keesokan harinya mereka dikejutkan oleh peringatan perang yang dikirim oleh musuh. Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu segera mengumpulkan para petinggi untuk membahas rencana perang. Perang itu akan terjadi dalam dua hari ke depan.
"Kali ini mereka mengajukan perang di daerah Barat daya dimana sebagian besar adalah rawa-rawa. Sebenarnya apa rencana mereka?" Salah satu perwira merasa aneh dengan tempat perang yang mereka ajukan.
"Aku juga tidak tahu. Yang terpenting saat ini adalah strategi perang kita."
"Kali ini mereka membawa banyak pasukan. Aku rasa mereka berniat untuk mempertaruhkan hasilnya hari ini."
"Aku tahu. Kota lakukan seperti ini." Lu Jing Yu memberi tahu solusi yang bisa dipikirkannya untuk mengatasi lahan berawa yang memiliki dominasi tempat itu.
"Itu ide yang bagus. Kita bisa melakukannya seperti itu."
"Benar. Aku juga setuju."
"Baiklah. Kalau begitu segera perintahkan pasukan untuk membuatnya. Jadi bisa segera kita gunakan."
"Nah. Selain itu aku juga memiliki ide yang lain." Lu Jing Yu menyeringai dengan licik.
Dua hari telah berlalu dan perang akhirnya terjadi. Kali ini penampilan prajurit tidak biasa. Mereka tidak menggunakan baju besi seperti biasa. Melainkan mantel kulit binatang. Pada kaki mereka dipasang papan seluncur yang mirip dengan papan ski di dunia modern. Kedua tangan mereka juga memegang tongkat penyeimbang.
Itu adalah penampilan satu pasukan. Pasukan lain memakai baju besi seperti biasa. Lengkap dengan pedang dan tongkat milik mereka. Sebagian lagi, mereka sudah berangkat ke medan perang dengan senjata berupa panah.
Pei Zhang Xi memakai baju Zirahnya dibantu oleh Mo Han. Lu Jing Yu melihatnya bersiap dengan perasaan khawatir. Namun, meskipun ia merasa khawatir dan tidak ingin Pei Zhang Xi pergi, dia tidak bisa menghentikanya. Dia tidak bisa egois hanya karena ia merasa khawatir. Perang ini bisa saja menjadi perang pamungkas yang akan menentukan segalanya. Jika mereka menang, perang yang berlangsung beberapa minggu ini akan berakhir. Tapi jika mereka kalah,mereka akan kehilangan wilayah mereka. Dan mungkin juga kehilangan nyawa mereka.
"Hem..." Lu Jing Yu menghela napas tanpa daya. Pei Zhang Xi dari awal sudah memperhatikan Lu Jing Yu yang terus memperhatikannya sejak awal.
"Ada apa denganmu?" Pei Zhang Xi menghampiri Lu Jing Yu begitu ia selesai bersiap.
"Kembalilah dengan baik-baik saja." Lu Jing Yu mendongak dan menatap Pei Zhang Xi dengan tatapan yang sulit diartikan sebab semuanya berkumpul jadi satu.
"Tentu. Jangan khawatir." Pei Zhang Xi tanoansadar mengelus kepala Lu Jing Yu.
"Jenderal Mu Ru Ge adalah orang yang licik. Apapun nanti yang dikatakannya tolong jangan percaya."
"Apa maksudmu? Apa kamu mengenal orang ini sebelumnya?" Pei Zhang Xi mengerutkan alisnya. Ini bukan kali pertama Lu Jing Yu menyebut tentang kelicikan jenderal baru itu. Dan kebanyakan tebakan Lu Jing Yu tepat. Mengandalkan itu pulalah mereka selama ini bisa memukul mundur pasukan musuh. Pei Zhang Xi sudah merasa curiga sejak awal.
"Tidak. Aku tidak mengenalnya." Tapi aku mengelakuin semua rencananya dari buku novel tentang kalian. Tentu saja itu hanya diucapkan di dalam hati
"Baiklah. Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak akan membiarkan menjadi janda yang harus memakai baju putih hem?" Pei Zhang Xi melengkungkan bibirnya merasa wajah Lu Jing Yu yang khawatir terlihat lucu.
"Kenapa bercanda di saat yang tidak tepat?" Bibir Lu Jing Yu mengerucut. Ia tahu Pei Zhang Xi sedang mengoloknya.
"Kamu harus percaya padaku."
"Yah. Sudah waktunya berangkat. Cepat pergi dan cepat kembali." Lu Jing Yu berdiri dan memegang bahu kokoh Pei Zhang Xi.
"Tunggu aku kembali." Pei Zhang Xi ragu sejenak sebelum dia mematuk kening Lu Jing Yu sekejap sebelum dia berbalik dan meninggalkan kamar. Mengabaikan Lu Jing Yu yang melotot dengan pipi memerah di belakangnya.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_40♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .