
Pei Zhang Xi hampir terjerembab saat ia sampai di depan kamar Lu Jing Yu dengan napas tersengal-sengal. Xiao Bei tidak tahu harus berbuat apa dan hanya diam melihat Pei Zhang Xi memegang lututnya sambil membungkuknya tubuhnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Pei Zhang Xi begitu dia kembali mendapatkan ketenangannya.
"Permaisuri di kamarnya sejak tabib wanita keluar. Hamba juga diminta keluar oleh Permaisuri. Jadi hamba tidak tahu." Xiao Bei menjawab dengan takut. Ia menundukkan kepalanya takut jika dia dihukum.
"Baiklah. Aku akan masuk dan melihatnya." Xiao Bei mengangguk setuju. Saat ini dia tidak bisa membantu apapun. Hanya Pei Zhang Xi harapan terakhirnya untuk melihat kondisi Lu Jing Yu di dalam.
Pei Zhang Xi masuk denggan hati-hati. Langkah kakinya bahkan ia atur agar tidak sampai menimbulkan suara yang besar. Namun keheningan di dalam kamar tidak dapat menyembunyikan suara langkah kakinya yang sudah diperhalus sehingga Lu Jing Yu masih bisa mendengarnya.
"Keluarlah Xiao Bei. Biarkan aku sendirian untuk saat." Ucap Lu Jing Yu dengan tatapan kosong. Ia tidak mengalihkan pandangannya dari tangannya yang ada di atas perutnya yang datar.
"Yu'er ini aku." Pei Zhang Xi melihat Lu Jing Yu yang tanpa ekspresi dengan khawatir. "Bisakah kita bicara?" Lanjut Pei Zhang Xi saat tidak mendapat balasan dari Lu Jing Yu.
Tanpa menunggu persetujuan Lu Jing Yu, Pei Zhang Xi duduk di sisi ranjang. Di depan Lu Jing Yu. Dengan memberanikan diri ia menyentuh tangan Lu Jing Yu yang ada di atas perutnya.
"Jika Yang Mulia tidak menginginkan anak ini, aku akan pergi membawanya saat dia lahir nanti." Pei Zhang Xi terkejut mendengar apa yang dikatakan Lu Jing Yu.
"Apa yang kamu katakan? Kenapa aku tidak menginginkan anakku sendiri?"
"Bagaimanapun kita akan berpisah pada akhirnya. Dan Yang Mulia akan bersatu dengan nona Zhu dan juga sudah ada Putri Wei Qian Nian. Anakku mungkin saja tidak mendapatkan kasih sayang." Lu Jing Yu menarik tangannya yang dipegang Pei Zhang Xi. Tetapi Pei Zhang Xi menahanya.
"Berhenti membicarakan perpisahan denganku. Aku tidak akan menceraikanmu apapun yang terjadi." Ucap Pei Zhang Xi tegas.
"Yang Mulia, aku tidak sama dengan perempuan lainnya. Aku tidak akan menerima jika suamiku memiliki wanita lain di dalam hidupnya. Bukan hanya memiliki istri lainnya, bahkan memikirkan wanita lain juga tidak akan aku terima. Sedangkan Yang Mulia, putri Wei Qian Nian sudah siap menjadi selir dan lagi nona Zhu yang sangat anda cintai. Aku tidak bisa hidup di tengah hubungan seperti itu."
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Aku sudah menolak putri Wei Qian Qian atau siapalah itu di depan Ayah Kaisar tadi. Bahkan aku sampai membuat alasan bahwa kamu sedang hamil agar aku bisa menolaknya. Dan Zhu Man Xie, aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya." Lu Jing Yu mengangkat wajahnya dan melihat mata Pei Zhang Xie yang memancarkan rasa percaya diri. Menyebutkan bahwa dia tidak berbohong.
Tapi.... dia adalah seorang pangeran. Dengan statusnya, meskipun saat ini dia telah menolak selir dan menyangkal cintanya pada Zhu Man Xie, di masa depan mungkin ada selir-selir lain ataupun gadis lainnya yang akan datang. Memikirkan hal ini Lu Jing Yu kembali menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Tapi itu tidak akan berhasil. Yang Mulia adalah seorang pangeran. Bukankah pangeran bisa menikahi tiga istri dan empat selir?"
"Tidak ada aturan yang mengharuskan hal itu. Jika kamu tidak menginginkannya. Aku tidak akan pernah menerima semua wanita yang mereka berikan padaku." Pei Zhang Xi menatap Lu Jing Yu dengan yakin.
"Jika Yang Mulia ingin?"
"Aku? Aku tidak akan pernah menginginkan mereka semua. Sebelum aku mengenalmu, aku tidak pernah memiliki pikiran untuk menikah sebelumnya. Bahkan jika ayah Kaisar tidak memaksaku untuk menikah denganmu saat itu aku juga tidak akan menikah dengan siapapun." Memang benar. Menikah tidak pernah ada di dalam pikiran Pei Zhang Xi. Bahkan setelah menikah pun dia tidak pernah menghargai pernikahan ini dan berniat untuk bercerai suatu hari nanti. Namun setelah mengenal Lu Jing Yu dengan baik, ia merasa bahwa pernikahan ini tidak buruk. Dia juga mulai menerima Lu Jing Yu di sisinya. Bahkan Pei Zhang Xi mulai merasa bahwa ia mencintai Lu Jing Yu entah sejak kapan.
"Bagaimana jika Ayah Kaisar memaksa Yang Mulia lagi lain kali?"
"Aku akan menolaknya. Bukankah aku sudah menolak satu? Tidak ada bedanya untuk menolaknya lagi lain kali. Dan untuk setuju menikahimu dulu, itu karena aku tidak bisa membantahnya. Bukankah kamu sendiri tahu apa yang terjadi saat itu sehingga aku tidak memiliki celah sedikitpun untuk menolak seberapa inginnya aku?" benar. Mereka dulu menikah akibat ia yang mendesain Pei Zhang Xi sehingga tidak ada pilihan lain selain menikah dengannya. Meskipun saat itu Lu Jing Yu belum menggantikan tuan rumah aslinya. Tapi dia tidak bisa mengelak bahwa itu bukanlah dia.
"Maafkan aku. Saat itu aku bersikap kekanak-kanakan."
"Tidak masalah. Sekarang aku malah harus bersyukur karena dengan itulah aku mengenalmu. Jadi, apa kamu akan menrimaku?"
"Apakah Yang Mulia bisa berjanji untuk setia?"
"Ya. Aku berjanji padamu." Pei Zhang Xi menganggukkan kepalanya. Lalu menulis perjanjian bahwa ia telah mengalihkan semua aset atas namanya menjadi milik Lu Jing Yu. Lu Jing Yu sangat terkejut saat melihat apa yang dilakukan Pei Zhang Xi.
Pei Zhang Xi mengambil stampel miliknya, menggores jempol tangannya dan menjadikan darahnya sebagai tinta untuk menandatangani kertas perjanjian itu.
"Lihat ini. Sekarang aku adalah pria termiskin yang bahkan tidak memiliki apapun. Jika sampai aku mengkhianatimu kamu suatu hari nanti, kamu bisa menendangku keluar dari kediaman ini. Tapi aku dapat pastikan hal itu tidak akan pernah terjadi. Apa kamu percaya padaku sekarang?" Pei Zhang Xi menyerahkan kertas itu pada Lu Jing Yu setelah menggulungnya. Lu Jing Yu menerimanya dengan ragu.
"Tapi Yang Mulia, tidak ada cinta diantara kita." Lu Jing Yu meletakkan gulungan itu di samping dan menundukkan kepalanya. Benar. Dia melupakan hal yang paling penting.
"Kita bisa memulainya dari awal. Aku percaya jika cinta akan datang suatu hari nanti. Aku tidak percaya dengan ketanpananku aku tidak mampu menaklukkanmu." Pei Zhang Xi berkata dengan percaya diri.
"Lalu bagaimana dengan Yang Mulia?"
"Apa kamu percaya jika aku sudah mencintaimu lebih dulu?" Pei Zhang Xi tiba-tiba mendekatkan wajahnya. Jarak mereka berdua hanya beberapa inci saja hingga hidung mereka saling bersentuhan.
Suasana kamar kembali hening. Lu Jing Yu terlalu terkejut dan Pei Zhang Xi juga tidak percaya bahwa dia bisa melakukan hal genit seperti itu.
"Aaah! Mataku! mataku ternoda! Aku tidak melihat apapun. Kalian lanjutkan saja." Lu Jing Yu segera mendorong Pei Zhang Xi ketika mendengar suara cempreng yang tak asing. Pei Zhang Xi menatap tidak suka pada ibunya yang tiba-tiba muncul merusak suasana. Ia menggertakkan giginya dengan kesal. Apa tidak bisa datang nanti setelah ia mendapatkan bibir manis itu?
"Ehem. Buka matamu. Memangnya apa lagi yang belum pernah ibu lihat yang bisa menodai mata ibu yang sudah kotor itu?" Pei Zhang Xi menarik tubuhnya. Menatap Selir Su yang masih berdiri di tempatnya meskipun berkata akan keluar.
"Aku rasa aku telah salah mengambil anak saat aku melahirkan. Kalau tidak mana mungkin anakku akan memiliki lidah yang beracun seperti itu." Selir Su masuk dan meletakkan barang yang dibawanya di atas meja.
"Huh!" Pei Zhang Xi mendengus dan memalingkan wajahnya.
"Menantuku yang baik, jangan sering-sering memikirkan anak kurang ajar itu atau cucuku akan menjadi seperti dia!" Saat selir Su berbicara, ia melirik Pei Zhang Xi dengan tajam.
"Dia anakku. Tentu saja akan mirip denganku. Kenapa memangnya kalau mirip aku!"
"Yu'er jangan dengarkan dia. Oh ya aku membawakanmu sup sarang burung walet untuk menambah stamina. Aku sudah meminta Xiao Bei untuk menghangatkannya untukmu." Selir Su memegang tangan Lu Jing Yu dan duduk di atas ranjang. Menggeser Pei Zhang Xi menggunakan bo-kongnya. Pei Zhang Xi yang didorong dengan enggan berdiri dan duduk di kursi. Melihat apa yang dibawa oleh ibunya kali ini.
"Terima kasih ibu."
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Kamu hanya perlu merawat diri sendiri dan juga calon cucuku dengan baik. Mengerti?" Lu Jing Yu sangat tidak terbiasa dengan sentuhan yang begitu intim. Jadi saat Selir Su mengelus perutnya dia merasa sangat malu dan wajahnya menjadi merah.
"Dimana tangan ibu diletakkan?!" Pei Zhang Xi yang melihat wajah Lu Jing Yu yang tidak nyaman segera menarik tangan Selir Su menjauh.
"Apa sih? Kami sama-sama perempuan. Apa kamu cemburu?"
"Cemburu apa? Yu'er merasa tidak nyaman. Jangan sampai ibu menyakiti bayi di dalam perut Yu'er." Selir Su akhirnya memperhatikan wajah Lu Jing Yu yang memang terlihat tidak nyaman seperti yang dikatakan Pei Zhang Xi.
"Oh maafkan ibu. Ibu pasti membuatmu tidak nyaman." Selir Su ganti menepuk punggung tangan Lu Jing Yu dengan hati-hati. Kali ini ia memperhatikan ekspresi Lu Jing Yu khawatir menantunya merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa ibu. Aku senang memiliki ibu mertua yang perhatian seperti ibu."
"Tentu saja. Ibu ini adalah ibu paling baik di seluruh istana. Kamu bisa percaya pada ibu." Suasana hati selir Su kembali membaik. Jing Yu mengangguk setuju.
Selir Su berada di sana hingga sore hari dan segera pulang setelah utusan dari istana menjemputnya. Meskipun enggan, Selir Su meninggalkan kediaman Raja Rui setelah memberikan beberapa nasihat pada Lu Jing Yu mengenai kehamilan.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_52♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .