
Acara pemberian nama sudah selesai. Namun upacaranya masih harus disempurnakan. Tetapi untuk upacaranya biasanya dilakukan oelh para wanita di tempat terpisah dengan aula utama. Itulah sebabnya Ratu Zhu mengajak semua tamu wanita untuk mengikutinya menuju gazebo besar yang ada di samping taman untuk melanjutkan acara. Sedangkan para pria masih tinggal di taman Kekaisaran untuk mengikuti perjamuan.
Lu Jing Yu segera menggendong Pei Zhi Hui setelah bayinya itu diberi nama. Semua wanita datang satu persatu menemuinya untuk mengucap kan selamat padanya. Apalagi putranya adalah Cucu laki-laki pertama. Juga merupakan putra dari seorang Putra Mahkota yang kemungkinan besar akan mewarisi tahta suatu hari nanti. Itulah sebabnya semua orang sibuk menyanjung dan menjilatnya hingga membuatnya risih dan mulai kesal.
Selir Su mengetahui ketidaknyamanan menantunya dan segera membantunya keluar dari situasi sulit. "Mohon maaf semuanya saya rasa sudah cukup. Mari kita menuju tempat yang sudah dipersiapkan untuk melanjutkan upacara nya."
Selir Su segera membuka jalan bagi Lu Jing Yu di bawah tatapan tidak suka Ratu Zhu. Yang sejak tadi menatap penuh benci para selir putranya yang ikut hadir namun mereka semua hanya bisa diam karena status mereka yang tidak pantas berbicara saat para istri Sah berbicara. Tampaknya ia harus menemukan istri sah bagi Pei Qin Yang yang dapat memulihkan statusnya kembali. Ia tidak bisa membiarkan putra satu-satunya terpuruk begitu lama. Kebetulan pada hari ini seluruh wanita dengan latar belakang dan status tinggi berkumpul, ini adalah saat yang tepat untuk melihat dan menemukan menantu idealnya.
"Chi Yue, cari tahu dari mana saja para gadis ini berasal. Terutama gadis dengan latar belakang dan status yang tinggi. Aku ingin detailnya segera." Ratu Zhu berbisik pada pelayannya.
"Baik Yang Mulia Ratu." Gadis pelayan yang dipanggil Chi Yue segera mengangguk dan kemudian undur diri dengan perlahan untuk melakukan tugasnya.
Tepat di samping taman Kekaisaran, sebuah Gazebo besar di atas kolam dengan beberapa gazebo kecil di sekitarnya yang dihubungkan dengan jembatan melengkung yang indah. Di dalam kolam buatan yang luas, bunga teratai sedang bermekaran dengan ikan berwarna-warni dengan berbagai ukuran berenang bebas di bawahnya. Karena akan menjadi tempat berlangsungnya acara, gazebo-gazebo ini sempat ditutup selama dua hari agar persiapan tidak terganggu karena biasanya pada hari biasa, para putri Kekaisaran akan melakukan berbagai kegiatan di gazebo ini seperti berlatih melukis atau membuat puisi atau hanya sekedar menghabiskan waktu dengan minum teh di sore hari.
Biasanya pemandangan di sekitar gazebo sudah terlihat indah, saat ini dengan berbagai kain merah dan emas yang menghiasi juga berbagai ornamen yang diletakkan di beberapa tempat membuat tampilan gazebo terlihat indah.
Beberapa perlengkapan untuk upacara telah diletakkan di tengah gazebo. Lu Jing Yu sudah mencari tahu sebelumnya apa saja yang perlu ia lakukan saat proses pemberian nama untuk putranya, jadi setidaknya ia memiliki gambaran besar dan tidak terlihat canggung atau orang lain mungkin akan menemukan dirinya yang terlihat aneh jika tidak mengetahui apa-apa mengenai hal penting seperti itu. Ia segera berjalan dengan percaya diri dengan Pei Zhi Hui di tangannya ke tengah gazebo untuk dimandikan sebagai tahap pertama setelah diberi nama sebagai lambang membersihkan diri dari segala kotoran setelah dilahirkan.
Untuk prosesnya juga ada beberapa tahap. Pertama-tama Pei Zhi Hui akan dicukur habis rambutnya. Rambut yang dicukur dari kepalanya dimasukkan ke dalam mangkuk berisi susu dan bunga. Nantinya rambut itu akan ditanam di halaman tempat dia akan tumbuh.
Setelah Pei Zhi Hui dicukur, selanjutnya ia dimandikan dengan beberapa tahap juga. Yang pertama dia akan diberi lulur khusus yang terbuat dari susu dan kunyit yang dicampur dengan berbagai bahan lainnya. Setelah seluruh tubuhnya dilumuri, dia akan dimandikan dan dibilas dengan berbagai macam bunga yang ditempatkan dalam dua bak. Bak pertama berisi bunga dengan warna putih sedangkan bak yang kedua penuh dengan bak warna merah.
Setelah selesai dibilas dengan bunga-bunga tersebut, Pei Zhi Hui akan diberi baju baru yang berwarna cerah yang indah. Setelah selesai didandani, satu persatu wanita akan maju untuk memberikan berkat mereka yang dilambangkan dengan pemberian perhiasan atau uang. Selama proses berjalan, para biarawati yang diundang dari Kuil Tao membacakan mantra-mantra keselamatan.
Lu Jing Yu duduk memangku Pei Zhi Hui di tengah gazebo. Wanita pertama yang maju tentu saja Ratu Zhu yang merupakan wanita paling mulia di tempat itu. Sesuai dengan statusnya, ratu Zhu memberikan satu set perhiasan emas yang indah. Meskipun Pei Zhi Hui adalah seorang laki-laki yang tidak akan pernah menggunakan perhiasan itu, perhiasan-perhiasan itu bisa digunakan nanti saat ia akan menikah dan digunakan sebagai mahar.
"Terima kasih atas doa Ibu Ratu. Saya akan memastikan Putra hamba tidak akan mengecewakan harapan Kekaisaran ini." Lu Jing Yu menjawab dengan tenang.
"Itu bagus." Ratu Zhu segera pindah untuk melihat dari samping dan terus memperhatikan jalannya acara.
Selir Su maju yang kedua. Ia tersenyum dengan lembut melihat cucunya yang tampan dan menantunya yang cantik. Bibi Gu di belakangnya membawa nampan berisi hadiahnya yang dipilih secara cermat olehnya. Di atas nampan terdiri dari beberapa mainan yang banyak digunakan oleh anak-anak di Kekaisaran Shao mulai dari bayi yang sudah berlatih memegang hingga ia berusia balita.
Kebanyakan para wanita ini menyiapkan uang atau perhiasan baik itu perhiasan emas atau giok, mereka terkejut melihat hadiah yang dipersiapkan oleh Selir Su untuk cucu laki-laki nya. Kenapa hanya mainan? Bukankah harusnya berupa hadiah yang paling mewah dan berharga sesuai dengan statusnya sebagai nenek dari bayi itu?
"Nenek memilihkan semua mainan terbaik yang ada di Kekaisaran ini untuk cucu nenek yang baik. Semoga kamu akan menyukainya sayang." Selir Su mengelus pipi cucunya dengan lembut tanpa menghiraukan semua ucapan para wanita ini yang diam-diam mengejeknya. Membuat bayi yang begitu tenang itu menggeliat.
"Ini semua sangat indah Bu. Hui'er pasti akan bahagia memainkan mainan yang dipilih sendiri oleh neneknya dengan penuh kasih sayang. Terima kasih atas kasih sayang yang ibu curahkan." Lu Jing Yu berkata dengan tulus. Meskipun jika dilihat memang harga barang-barang yang dikirimkan oleh selir Su tidak seberharga emas dan perhiasan yang dikirimkan oleh orang lain, tetapi Lu Jing Yu lebih menilai hadiah dari ketulusan daripada nilai hartanya.
"Kamu memang memiliki mulut yang manis." Selir Su menepuk bahu Lu Jing Yu. "Tapi sebagai nenek dari anak ini tentu saja aku tidak hanya memberinya mainan saja." Selir Su menjeda dan menoleh pada pelayan di belakang nya yang segera maju dan menunjukkan nampan lainnya yang dipegangnya dengan hati-hati.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_176🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟