Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 291. Strategi Lu Jing Yu 1


Lu Jing Yu telah lama menyadari bahwa meskipun ia telah berhasil menghindari beberapa plot kejadian yang akan mencelakai dan mengancam nyawanya, namun jalan cerita dalam novel masih tetap berjalan sesuai harus besar yang ada. Mengenai perang kali ini, Lu Jing Yu juga sedikit banyak telah mengetahui apa yang akan terjadi dalam perang dan seperti apa akhir perang itu nantinya.


Berbeda dengan perang di perbatasan terakhir kali yang di dalam novel adalah hasil bahwa Pei Zhang Xi terluka parah dan hampir merenggut nyawanya, serta dirinya yang akan ikut terseret masalah, pada perang kali ini, Pei Zhang Xi akan baik-baik saja karena perang di perbatasan hanyalah trik musuh untuk mengecoh tentara utama. Sasaran mereka sebenarnya adalah ibukota, tempat dimana istana berdiri dengan kokoh. Lagipula, apapun yang terjadi di perbatasan, jika pasukan musuh berhasil menduduki ibukota dan juga istana, mereka akan dinyatakan sebagai pihak pemenang.


Tetapi, meskipun Lu Jing Yu mengetahui strategi perang Kekaisaran Zhao ini, ia tidak bisa memberitahu kannya pada Pei Zhang Xi karena peran Pei Zhang Xi di perbatasan juga sangat besar. Jika pada saat ini Pei Zhang Xi tidak ada di perbatasan dan berperan aktif dalam peperangan, akan ada orang yang akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan rumor jika Pei Zhang Xi adalah seorang yang pengecut. Tentu saja Lu Jing Yu tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


Dan hal yang paling penting adalah bahwa nantinya, dengan adanya musuh yang menyerang ibukota dan istana, wajah asli semua orang akan terlihat. Di dalam istana kekaisaran terutama di dalam Harem, orang selalu berkeliling dengan menggunakan topeng palsu untuk menyembunyikan wajah asli mereka. Sehingga yang terlihat di permukaan adalah bahwa semua orang memiliki niat yang tulus dna hati nurani yang bersih. Justru dengan adanya perang ini, siapa yang tulus dan siapa yang palsu akan dapat dilihat dengan sangat mudah.


Sedangkan untuk menghadapi musuh yang akan menyerbu ibukota, Lu Jing Yu telah memiliki rencananya sendiri....


Lu Jing Yu tidak memiliki wajah seperti Selir Su maupun ratu Zhu yang sednag cemas karena putra mereka telah berangkat berperang, atau selir Chen, Selir Rong maupun selir lainnya yang memiliki wajah was-was. Wajah datar dan tegar yang dia tunjukkan pada Pei Zhang Xi sebelumnya juga sudah tidak terlihat lagi, wajahnya saat ini justru terlihat seperti wajah Pei Zhang Xi yang tengah serius dalam pekerjaannya. Wajahnya yang seperti ini tanpa sadar membuat semua orang patuh tanpa syarat saat wanita itu meminta mereka melakukan sesuatu yang menurut mereka aneh.


Ya! Saat ini Lu Jing Yu telah memulai rencananya tepat ketika Pei Zhang Xi dan para pasukan baru saja keluar dari gerbang ibukota. Ia telah memerintahkan orang untuk melakukan berbagai persiapan. Namun tentu saja, semuanya ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Jika ia melakukan semua persiapan dengan terang-terangan, bukan hanya ia akan menjadi topik pembicaraan yang harus ia hindari sebisa mungkin untuk menjadi pusat perhatian tetapi juga ia nanti akan bingung jika orang lain menanyakan atas dasar apa ia melakukan sesuatu yang pasti sangat mempu membuat orang penasaran.


"Kalian pasti bingung dan bertanya-tanya mengapa aku memanggil kalian kemari." Ucap Lu Jing Yu saat ia melihat jika semua orang sudah berkumpul. Ada Quan Yuan, Pengawal Lin dan tiga orang komandan pasukan istana timur berkumpul di sana atas perintah Lu Jing Yu.


Pada saat ini, mereka ada di dalam aula samping yang ada di istana timur. Awalnya Quan Yuan dan yang lainnya bingung mengapa mereka semua dikumpulkan di sana. Namun saat mereka melihat wajah Lu Jing Yu yang tampak serius, mereka tanpa sadar merapikan diri dan bersikap dengan tegak. Tidak berani memandang remeh atau bermain-main. Melihat Lu Jing Yu saat ini, mereka entah mengapa seperti bahwa mereka tengah melihat Pei Zhang Xi. Mereka mulai menundukkan kepala mereka yang menandakan bahwa mereka berada di bawah Lu Jing Yu bagaimana pun mereka melihat.


"Benar Yang Mulia. Kami bodoh dan gagal memahami maksud Yang Mulia. Tolong Yang Mulia bersedia memberi kami pencerahan." Jawab Quan Yuan mewakili semua orang yang menundukkan wajah bingung mereka.


"Tenang saja. Ini bukanlah salah kalian." Lu Jing Yu menggelengkan kepalanya. Ini memang bukan salah mereka. Bagaimana bisa mereka yang adalah orang kain mengetahui maksud hatinya?


"Aku memanggil kalian karena ada sesuatu yang sangat penting yang akan aku bicarakan pada kalian semua." Lanjut Lu Jing Yu semakin tegas. Semua orang semakin tegang dan bersiap mendengarkan apa yang akan Lu Jing Yu katakan pada mereka.


"Seperti yang kalian ketahui jika pada saat ini di luar perbatasan akan ada perang antara Kekaisaran Shao kita dengan Kekaisaran Zhao dan Yang Mulia pergi memimpin pasukan untuk mengikuti perang. Meskipun kita semua tidak perlu lagi mempertanyakan atau meragukan kemampuan Yang Mulia dalam mengatur pasukan dan membuat strategi perang untuk mengalahkan pasukan musuh, namun kita di dalam istana tidak boleh bersantai dan menunggu. Kita harus memeprsipakan diri dalam menghadapi situasi terburuk yang mungkin terjadi." Lu Jing Yu berkata dengan tegas. Semua orang saling memandang dan segera menganggukkan kepala mereka.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan di sini Yang Mulia?" Pengawal Lin bertanya dengan penasaran.


"Kita akan membuat rencana menyeluruh. Dimulai dari tembok ibukota yang merupakan heraoan pertama kita dalam mempertahankan ibukota." Lu Jing Yu berbicara dengan semua orang dengan nada meyakinkan. "Bagaimana menurut kalian?" Lanjut Lu Jing Yu sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Kami mengikuti pengaturan Yang Mulia."


"Bagus. Apakah ada yang keberatan?" Sekali lagi, Lu Jing Yu mengedarkan pandangannya pada semua orang.


"Tidka Yang Mulia. Kami mengikuti perintah." Kali ini tidak hanya Quan Yuan yang menjawab, namun Semua orang menjawab serempak. Mereka adalah bawahan Pei Zhang Xi yang dapat dipercaya. Mereka semua hanya akan mengakui perintah yang diberikan oleh Pei Zhang Xi maupun Lu Jing Yu.


"Nah karena kita semua telah setuju, aku akan menjelaskan pada kalian bagaimana rencanaku dan lihat apakah kalian akan menyetujuinya apakah tidak. Ini karena aku tidak memiliki pengalaman mengatur strategi pertahanan sebelumnya. Jadi aku butuh kalian untuk memberikan pendapat kalian mengenai rencana ku."


"Kami dengan senang hati akan melakukan nya Yang Mulia." Semua orang membungkukkan tubuh mereka dengan hormat.


"Terima kasih semuanya." Lu Jing Yu menatap semuanya dengan puas.


"Quan Yuan, bagaimana dengan tembok ibukota? Maksudku apakah tembok cukup tebal? Cukup tinggi?" Lu Jing Yu bertanya dengan serius. Quan Yuan telah lama menjadi pengawal pribadi Lu Jing Yu, pada saat ini, pengawal Lin juga ditambahkan ke dalam kelompok yang sama yang bertugas untuk melindungi Lu Jing Yu dan Pei Zhi Hui.


"Ham hamba rasa sepertinya tembok ibukota cukup tebal dan juga..juga cukup tinggi Yang Mulia." Jawab Quan Yuan gugup. Ia tidak pernah mengira jika Lu Jing Yu akan menanyakan masalah ini padanya. Tembok ibukota digunakan untuk melindungi ibukota dari serangan musuh, bisa dikatakan sebagai benteng pertahanan ibukota, jadi baik tembok maupun segala jenis persiapan ada di sana. Tembok ibukota juga dibuat dengan sangat kokoh. Lagipula ibukota adalah tempat pusat pemerintahan. Semua menteri dan pejabat ti gkat tingi hampir semuanya tinggal di dalam ibukota. Jika ibukota sampai ditaklukkan, Kekaisaran Shao sudah dipastikan akan lumpuh.


Pengawal Lin melirik Quan Yuan sebentar sebelum menjawab pertanyaan Lu Jing Yu dengan sedikit ragu. Pertanyaan yang ditanyakan Lu Jing Yu bisa dikatakan sama dengan yang ditanyakan Lu Jing Yu pada Quan Yuan, sebagai seorang junior Quan Yuan, ia tidak bisa menjawab sesuatu yang bertentangan dengan Quan Yuan. Namun jika ia menjawab sesuai jawaban Quan Yuan, hati nuraninya akan merasa tidak nyaman karena bertentangan dengan apa yang ia pikirkan. Tetapi, pada saat ini senior dan junior tidak bisa dihitung.


"Mohon maafkan hamba sebelumnya Yang Mulia karena jawaban hamba tidak sama dengan jawaban Komandan Quan." Pengawal Lin berkata dengan tegas karena ia yakin.


Mendengar jawaban pengawal Lin, Quan Yuan yang ada di sampingnya segera meliriknya. Ia penasaran apakah Pengawal Lin memang menemukan sesuatu yang tidak sama dengannya. Karena bagaiamana ia melihat dan mengamati, menurutnya tembok istana sudah sangat mampu menahan pasukan musuh.


"Ooh... Tidak apa-apa. Katakan saja dan jangan ragu. Jadi bagaimana menurut mu?" Lu Jing Yu mengerutkan alisnya saat ia melirik Pengawal Lin dengan rasa penasaran. Ia ingin tahu apakah yang ada di dalam novel mengenai tembok ibukota sama dengan apa yang dikatakan Pengawal Lin agar ia bisa membuat rencana yang sesuai.


"Menurut hamba, tembok ibukota memang sudah sangat kuat. Bagaimanapun musuh mencoba merobohkan nya, hamba yakin musuh tidak akan pernah bisa melakukan nya meskipun mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka. Namun tembok ini masih sedikit rendah dan akan mudah bagi musuh untuk memanjat nya." Jawab pengawal Lin. Ia kembali melirik Quan Yuan yang memiliki keterkejutan di matanya. Karena Quan Yuan baru menyadari hal ini. Bagaimana sebelumnya ia tidak pernah berpikir sampai seperti itu?


"Baik. Aku tahu sekarang." Lu Jing Yu mengangguk. Lalu tangannya dengan gesit menggambarkan dengan kasar gambar tembok ibukota yang sedang dipanjat oleh musuh.


"Aku punya rencana jika hal ini sampai terjadi." Lu Jing Yu meletakkan gambar itu di atas meja dan menunjukkan gambar itu pada Semua orang.


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_291🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam keempat🍃...


...🌸Pada malam keempat, ia akan mendapatkan pahala seperti ia telah membaca kitab Taurat, Injil. Zabur dan Al-Furqon (Al-Qur'an)🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


Salam sayang 😘


❤❤❤Queen_OK❤❤❤


Lu Jing Yu telah lama menyadari bahwa meskipun ia telah berhasil menghindari beberapa plot kejadian yang akan mencelakai dan mengancam nyawanya, namun jalan cerita dalam novel masih tetap berjalan sesuai harus besar yang ada. Mengenai perang kali ini, Lu Jing Yu juga sedikit banyak telah mengetahui apa yang akan terjadi dalam perang dan seperti apa akhir perang itu nantinya.


Berbeda dengan perang di perbatasan terakhir kali yang di dalam novel adalah hasil bahwa Pei Zhang Xi terluka parah dan hampir merenggut nyawanya, serta dirinya yang akan ikut terseret masalah, pada perang kali ini, Pei Zhang Xi akan baik-baik saja karena perang di perbatasan hanyalah trik musuh untuk mengecoh tentara utama. Sasaran mereka sebenarnya adalah ibukota, tempat dimana istana berdiri dengan kokoh. Lagipula, apapun yang terjadi di perbatasan, jika pasukan musuh berhasil menduduki ibukota dan juga istana, mereka akan dinyatakan sebagai pihak pemenang.


Tetapi, meskipun Lu Jing Yu mengetahui strategi perang Kekaisaran Zhao ini, ia tidak bisa memberitahu kannya pada Pei Zhang Xi karena peran Pei Zhang Xi di perbatasan juga sangat besar. Jika pada saat ini Pei Zhang Xi tidak ada di perbatasan dan berperan aktif dalam peperangan, akan ada orang yang akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyebarkan rumor jika Pei Zhang Xi adalah seorang yang pengecut. Tentu saja Lu Jing Yu tidak akan membiarkan hal ini terjadi.


Dan hal yang paling penting adalah bahwa nantinya, dengan adanya musuh yang menyerang ibukota dan istana, wajah asli semua orang akan terlihat. Di dalam istana kekaisaran terutama di dalam Harem, orang selalu berkeliling dengan menggunakan topeng palsu untuk menyembunyikan wajah asli mereka. Sehingga yang terlihat di permukaan adalah bahwa semua orang memiliki niat yang tulus dna hati nurani yang bersih. Justru dengan adanya perang ini, siapa yang tulus dan siapa yang palsu akan dapat dilihat dengan sangat mudah.


Sedangkan untuk menghadapi musuh yang akan menyerbu ibukota, Lu Jing Yu telah memiliki rencananya sendiri....


Lu Jing Yu tidak memiliki wajah seperti Selir Su maupun ratu Zhu yang sednag cemas karena putra mereka telah berangkat berperang, atau selir Chen, Selir Rong maupun selir lainnya yang memiliki wajah was-was. Wajah datar dan tegar yang dia tunjukkan pada Pei Zhang Xi sebelumnya juga sudah tidak terlihat lagi, wajahnya saat ini justru terlihat seperti wajah Pei Zhang Xi yang tengah serius dalam pekerjaannya. Wajahnya yang seperti ini tanpa sadar membuat semua orang patuh tanpa syarat saat wanita itu meminta mereka melakukan sesuatu yang menurut mereka aneh.


Ya! Saat ini Lu Jing Yu telah memulai rencananya tepat ketika Pei Zhang Xi dan para pasukan baru saja keluar dari gerbang ibukota. Ia telah memerintahkan orang untuk melakukan berbagai persiapan. Namun tentu saja, semuanya ia lakukan dengan sembunyi-sembunyi. Jika ia melakukan semua persiapan dengan terang-terangan, bukan hanya ia akan menjadi topik pembicaraan yang harus ia hindari sebisa mungkin untuk menjadi pusat perhatian tetapi juga ia nanti akan bingung jika orang lain menanyakan atas dasar apa ia melakukan sesuatu yang pasti sangat mempu membuat orang penasaran.


"Kalian pasti bingung dan bertanya-tanya mengapa aku memanggil kalian kemari." Ucap Lu Jing Yu saat ia melihat jika semua orang sudah berkumpul. Ada Quan Yuan, Pengawal Lin dan tiga orang komandan pasukan istana timur berkumpul di sana atas perintah Lu Jing Yu.


Pada saat ini, mereka ada di dalam aula samping yang ada di istana timur. Awalnya Quan Yuan dan yang lainnya bingung mengapa mereka semua dikumpulkan di sana. Namun saat mereka melihat wajah Lu Jing Yu yang tampak serius, mereka tanpa sadar merapikan diri dan bersikap dengan tegak. Tidak berani memandang remeh atau bermain-main. Melihat Lu Jing Yu saat ini, mereka entah mengapa seperti bahwa mereka tengah melihat Pei Zhang Xi. Mereka mulai menundukkan kepala mereka yang menandakan bahwa mereka berada di bawah Lu Jing Yu bagaimana pun mereka melihat.


"Benar Yang Mulia. Kami bodoh dan gagal memahami maksud Yang Mulia. Tolong Yang Mulia bersedia memberi kami pencerahan." Jawab Quan Yuan mewakili semua orang yang menundukkan wajah bingung mereka.


"Tenang saja. Ini bukanlah salah kalian." Lu Jing Yu menggelengkan kepalanya. Ini memang bukan salah mereka. Bagaimana bisa mereka yang adalah orang kain mengetahui maksud hatinya?


"Aku memanggil kalian karena ada sesuatu yang sangat penting yang akan aku bicarakan pada kalian semua." Lanjut Lu Jing Yu semakin tegas. Semua orang semakin tegang dan bersiap mendengarkan apa yang akan Lu Jing Yu katakan pada mereka.


"Seperti yang kalian ketahui jika pada saat ini di luar perbatasan akan ada perang antara Kekaisaran Shao kita dengan Kekaisaran Zhao dan Yang Mulia pergi memimpin pasukan untuk mengikuti perang. Meskipun kita semua tidak perlu lagi mempertanyakan atau meragukan kemampuan Yang Mulia dalam mengatur pasukan dan membuat strategi perang untuk mengalahkan pasukan musuh, namun kita di dalam istana tidak boleh bersantai dan menunggu. Kita harus memeprsipakan diri dalam menghadapi situasi terburuk yang mungkin terjadi." Lu Jing Yu berkata dengan tegas. Semua orang saling memandang dan segera menganggukkan kepala mereka.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan di sini Yang Mulia?" Pengawal Lin bertanya dengan penasaran.


"Kita akan membuat rencana menyeluruh. Dimulai dari tembok ibukota yang merupakan heraoan pertama kita dalam mempertahankan ibukota." Lu Jing Yu berbicara dengan semua orang dengan nada meyakinkan. "Bagaimana menurut kalian?" Lanjut Lu Jing Yu sambil menatap semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Kami mengikuti pengaturan Yang Mulia."


"Bagus. Apakah ada yang keberatan?" Sekali lagi, Lu Jing Yu mengedarkan pandangannya pada semua orang.


"Tidka Yang Mulia. Kami mengikuti perintah." Kali ini tidak hanya Quan Yuan yang menjawab, namun Semua orang menjawab serempak. Mereka adalah bawahan Pei Zhang Xi yang dapat dipercaya. Mereka semua hanya akan mengakui perintah yang diberikan oleh Pei Zhang Xi maupun Lu Jing Yu.


"Nah karena kita semua telah setuju, aku akan menjelaskan pada kalian bagaimana rencanaku dan lihat apakah kalian akan menyetujuinya apakah tidak. Ini karena aku tidak memiliki pengalaman mengatur strategi pertahanan sebelumnya. Jadi aku butuh kalian untuk memberikan pendapat kalian mengenai rencana ku."


"Kami dengan senang hati akan melakukan nya Yang Mulia." Semua orang membungkukkan tubuh mereka dengan hormat.


"Terima kasih semuanya." Lu Jing Yu menatap semuanya dengan puas.


"Quan Yuan, bagaimana dengan tembok ibukota? Maksudku apakah tembok cukup tebal? Cukup tinggi?" Lu Jing Yu bertanya dengan serius. Quan Yuan telah lama menjadi pengawal pribadi Lu Jing Yu, pada saat ini, pengawal Lin juga ditambahkan ke dalam kelompok yang sama yang bertugas untuk melindungi Lu Jing Yu dan Pei Zhi Hui.


"Ham hamba rasa sepertinya tembok ibukota cukup tebal dan juga..juga cukup tinggi Yang Mulia." Jawab Quan Yuan gugup. Ia tidak pernah mengira jika Lu Jing Yu akan menanyakan masalah ini padanya. Tembok ibukota digunakan untuk melindungi ibukota dari serangan musuh, bisa dikatakan sebagai benteng pertahanan ibukota, jadi baik tembok maupun segala jenis persiapan ada di sana. Tembok ibukota juga dibuat dengan sangat kokoh. Lagipula ibukota adalah tempat pusat pemerintahan. Semua menteri dan pejabat ti gkat tingi hampir semuanya tinggal di dalam ibukota. Jika ibukota sampai ditaklukkan, Kekaisaran Shao sudah dipastikan akan lumpuh.


Pengawal Lin melirik Quan Yuan sebentar sebelum menjawab pertanyaan Lu Jing Yu dengan sedikit ragu. Pertanyaan yang ditanyakan Lu Jing Yu bisa dikatakan sama dengan yang ditanyakan Lu Jing Yu pada Quan Yuan, sebagai seorang junior Quan Yuan, ia tidak bisa menjawab sesuatu yang bertentangan dengan Quan Yuan. Namun jika ia menjawab sesuai jawaban Quan Yuan, hati nuraninya akan merasa tidak nyaman karena bertentangan dengan apa yang ia pikirkan. Tetapi, pada saat ini senior dan junior tidak bisa dihitung.


"Mohon maafkan hamba sebelumnya Yang Mulia karena jawaban hamba tidak sama dengan jawaban Komandan Quan." Pengawal Lin berkata dengan tegas karena ia yakin.


Mendengar jawaban pengawal Lin, Quan Yuan yang ada di sampingnya segera meliriknya. Ia penasaran apakah Pengawal Lin memang menemukan sesuatu yang tidak sama dengannya. Karena bagaiamana ia melihat dan mengamati, menurutnya tembok istana sudah sangat mampu menahan pasukan musuh.


"Ooh... Tidak apa-apa. Katakan saja dan jangan ragu. Jadi bagaimana menurut mu?" Lu Jing Yu mengerutkan alisnya saat ia melirik Pengawal Lin dengan rasa penasaran. Ia ingin tahu apakah yang ada di dalam novel mengenai tembok ibukota sama dengan apa yang dikatakan Pengawal Lin agar ia bisa membuat rencana yang sesuai.


"Menurut hamba, tembok ibukota memang sudah sangat kuat. Bagaimanapun musuh mencoba merobohkan nya, hamba yakin musuh tidak akan pernah bisa melakukan nya meskipun mereka mengerahkan seluruh tenaga mereka. Namun tembok ini masih sedikit rendah dan akan mudah bagi musuh untuk memanjat nya." Jawab pengawal Lin. Ia kembali melirik Quan Yuan yang memiliki keterkejutan di matanya. Karena Quan Yuan baru menyadari hal ini. Bagaimana sebelumnya ia tidak pernah berpikir sampai seperti itu?


"Baik. Aku tahu sekarang." Lu Jing Yu mengangguk. Lalu tangannya dengan gesit menggambarkan dengan kasar gambar tembok ibukota yang sedang dipanjat oleh musuh.


"Aku punya rencana jika hal ini sampai terjadi." Lu Jing Yu meletakkan gambar itu di atas meja dan menunjukkan gambar itu pada Semua orang.


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_291🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉


***


...Keistimewaan Bulan Ramadhan dari...


...☘️Ali Bin Abu Tholib☘️...


...🍃Malam keempat🍃...


...🌸Pada malam keempat, ia akan mendapatkan pahala seperti ia telah membaca kitab Taurat, Injil. Zabur dan Al-Furqon (Al-Qur'an)🌸...


...Selamat menunaikan Ibadah Puasa 🥰...


Salam sayang 😘


❤❤❤Queen_OK❤❤❤