Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
74. Malam Yang Aneh


Rasa cinta datang karena banyak hal. Ada yang cinta pada pandangan pertama. Ada yang datang mengalir begitu saja. Ada yang karena terpaksa. Ada yang datang seiring dengan rasa nyaman yang tercipta. Bahkan ada yang gak datang karena rasa benci yang berlebihan.


Tetapi bagaimanapun rasa cinta itu datang. Cinta adalah anugerah dari Tuhan yang tidak bisa diminta. Tidak bisa disangka dan tidak bisa dibuang begitu saja. Seseorang serigala tidak dapat menentukan pada siapa harus merasakan jatuh cinta. Karena cinta adalah sebuah misteri.


Kita bisa saja berusaha untuk mencintai seseorang yang kita harapkan kita mencintainya. Tetapi pada beberapa kasus, bahkan sberusaha sekeras apapun, cinta kadang tidak mampu dihadirkan.


Sebaliknya, kita bisa saja berusaha keras untuk menolak untuk jatuh cinta pada seseorang. Meskipun begitu sebanyak apapun kita berusaha melupakannya, mengabaikannya atau membuangnya. Cinta bukan hanya tidak menghilang tetapi justru bertambah seiring bertambahnya usaha untuk melupakannya.


Lu Jing Yu, sejak awal sudah berusaha untuk tidak mencintai Pei Zhang Xi. Karena yang dia tahu, Pei Zhang Xi adalah seseorang yang paling harus ia jauhi dan hindari. Tetapi justru kenyataan berkata lain. Setiap Lu Jing Yu berusaha untuk menjauh dari Pei Zhang Xi, takdir selalu membawanya mendekat dan semakin dekat.


Tetapi satu hal yang belum ia sadari, ia belum menyadari bahwa ia sebenarnya juga mencintai Pei Zhang Xi. Ayah dari nanti yang saat ini dikandungnya. Pria yang setiap malam memeluknya dalam tidur meskipun ia tahu bahwa setiap malam itu Pei Zhang Xi selalu menahan keinginannya karena dia yang belum siap.


Lu Jing Yu tidak tahu sejak kapan ia mulai terbiasa dengan kehadiran Pei Zhang Xi di setiap malam yang di laluinya akhir-akhir ini. Bahkan akhir-akhir ini ia merasa bahwa ia tidak akan bisa tidur jika Pei Zhang Xi tidak menemaninya tidur. Dan sekarang, setelah ia mengusir Pei Zhang Xi dari kamarnya, iapun merasa sangat sepi.


"Xiao Bei, apakah Yang Mulia sudah kembali dari kamar mandi?" Xiao Bei, Chu Fei dan Mo Han langsung menoleh pada Pei Zhang Xi yang duduk dengan  wajah di tekuk di bawah pohon serentak namun saat mendengar suara Lu Jing Yu, wajah itu langsung kembali terlihat sombong saat dia melompat dengan tergesa-gesa masuk kembali ke dalam kamar. Yang baru sepuluh menit dia keluar.


"Menurutmu apa yang terjadi?" Xiao Bei bertanya pada Chu Fei.


"Aku tidak tahu."


Pei Zhang Xi yang baru saja masuk kembali ke dalam kamar dewan cerdas memasang wajah bersalahnya alih-alih wajah sombong yang ditunjukkan barusan di hadapan anak buahnya. Ia bahkan sempat meminta kue kering untuk menunjukkan ketulusannya. Di hatinya saat ini memang sedang menyombongkan diri. Dia percaya bahwa Lu Jing Yu akan segera memanggilnya masuk. Ia percaya bahwa Lu Jing Yu tidak akan bisa tidur tanpanya.  


Disaat menunggu di luar, Pei Zhang Xi bahkan sudah menjadi yiapkan kalimat yang akan ia katakan nanti setelah Lu Jing Yu memanggilnya masuk. "Kenapa? Tidak bisa tidur kalau tidak aku peluk? Masih berani mengusirku lagi?" Dengan begitu Lu Jing Yu akan mendapatkan pelajaran bahwa ia tidak bisa jauh dari nya. Dan memahami betapa pentingnya dia.


Tetapi, saat di dalam kamar. Kalimat yang sudah dirangkai tidak dapat ia ucapkan. Bukan hanya dia tidak memberi Lu Jing Yu pelajaran yang dia inginkan. Sebaliknya yang dia ucapkan adalah,


"Yu'er aku sudah tahu salah. Bolehkah aku tidur di ranjang sekarang?"


"Naiklah. Jangan lupa bawakan aku teh." Lu Jing Yu melipat tangannya. Menatap Pei Zhang Xi dengan kesal. Tetapi juga tidak sabar. Dia sudah ngantuk dan ingin segera tidurmu tetapi dia tidak bisa tidur jika Pei ZHANG Xi tidak memeluknya dan banyaknya bukan lengan Pei Zhang Xi yang kokoh.


***


Bukan hanya Lu Jing Yu yang belum tidur malam itu. Wei Qian Nian juga. Di istana, meskipun para pelayan masih memperlakukanya dengan baik, karena sifat dan rencananya yang sudah terekspos, tidak ada lagi olahan yang akan sibuk memuji dan menyanjungnya lagi. Mereka seperti bekerja hanya menjalankan tugas mereka. Bahkan terkesan tidak rela melakukan tugas untuk melayaninya. Padahal mereka sebelumnya sangat senang dan merasa bangga dapat melayaninya.


Perubahan sikap bahkan dari pelayan rendahkan sekalipun membuatnya sangat tidak nyaman. Apa hak para pelayan ini tidak menghormatinya. Mereka selalu berbisik-bisik di saat ia lewat dan akan membungkam mulut mereka begitu ia mendekat. Perasaan ini sangat tidak nyaman.


Ketika Wei Qian Nian kembali ke kamarnya, ia melemparkan barang-barang pecah belah di lantai. An Ru sudah tiada, tidak ada lagi yang menghalanginya. Tidak ada yang membujuknya untuk berhenti. Meng Ran, yang bertugas menggantikan An Ru bahkan tidak mendekat sekalipun dan hanya menatapnya tanpa ekspresi di ambang pintu.


"Aku akan membalas perlakuan ini! Aku akan membuat mereka semua berlutut di hadapanku." Seluruh benda di atas Meja rias jatuh berserakan di lantai. Wei Qian Nian selesai melupakan amarahnya setelah seluruh kamar berantakan dibuatnya. Ia terduduk dengan kesal di kursi. Dengan napas ya gak tidak beraturan karena marah.


Meng Ran melihat bahwa sepertinya putri yang ia layani telah selesai melupakan amarahnya dengan santai memanggil pelayan di luar untuk merapikan kamar sang putri. Tiga orang Pelayan segera masuk dan melakukan tugasnya.  Kamar yang berantakan sekali lagi terlihat rapi seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya pada kamar itu. Para pelayan juga mengganti barang yang rusak dengan  barang yang baru tanpa menghiraukan Wei Qian Nian yang memandang mereka penuh dendam.


"Kau! Kenapa kau masih ada di sini?" Wei Qian Nian marah. Kenapa pelayan itu tidak berusaha meredakan amarahnya saat ia tahu bahwa ia akan menghancurkan kamar?


"Hamba adalah pelayanan yang diutus untuk melayani Anda. Jadi sebelum hamba memastikan anda sudah tidur, hamba akan menunggu di sini."


"Huh! Siapkan aku air mandiku. Tubuhku terasa lengket." Meskipun ia marah, Meng Ran adalah satu-satunya pelayan yang tersisa untuk membantunya.


"Baik Putri." Meng Ran membungkuk dan melakukan perintah Wei Qian Nian. Keluar untuk menyiapkan air panas dan segera kembali dengan beberapa pelayan yang membawa baskom berisi air panas.


"Tuan Putri air mandi sudah siap." Ucap Meng Ran. Wei Qian Nian segera berdiri dan merentangkan kedua tangannya. Ia terbiasa dilayani sejak ia kecil, jadi untuk hal sepele seperti melepaskan bajunya sendiri, ia juga tidak biasa melakukannya. Tapi Meng Ran dapat para penyanyi yang lain kengerian dan segera membantu gadis cantik itu melepaskan bajunya.


Setelah menyisakan lapisan terakhir bajunya, Wei Qian Nian masuk ke dalam bilik air dan memasukkan tubuhnya ke dalam bak mandi yang dipenuhi dengan kelopak bunga mawar kesukaannya.  


"Aaah! Dingin sekali! Apa kalian malas dan tidak memasukkan air panas ke sini? Kenapa begitu dingin?" Teriak Wei Qian Nian.


"Mohon maafkan kami putri. Kami masih tidak terbiasa melayani anda dan tidak mengetahui kesukaan anda." Meng Ran maju dan membungkuknya badannya untuk meminta maaf.


"Huh! Aku tidak mau tahu sekarang tambahkan air panas ke dalam bak mandiku."


"Baik putri." Setelah mengatakan itu, Meng Ran mengangkat baskom air panas dan memasukkan air panas ke dalam bak, tanpa menunggu Wei Qian Nian menyingkir sehingga air panas itu langsung mengenai kaki Wei Qian Nian dan membuat kakinya kepanasan.


"Aaah! Pelayan kurang ajar! Aku tahu kamu sengaja kan?"


"Mohon maaf putri. Hamba benar-benar minta maaf. Hamba akan membantu putri untuk mengobati lukanya."


"Tidak perlu. Kalian semua keluar saja sekarang. Aku akan melakukannya sendiri. Bisa-bisa aku mati kehilangan akal jika kalian terus berada di sini."


"Mohon maafkan kami putri." Meng Ran dan pelayan lainnya segera keluar dengan senyum tersembunyi di hati mereka. Selir Su akan memberi mereka hadiah jika mereka memberitahu pekerjaan baik yang mereka lakukan.


~○○○~


♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_74♡


*


*


*


Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .