
Lu Jing Yu langsung membuka matanya begitu kedua orang yabg menyelinap masuk ke dalam kamar mereka keluar. Ia memandang Pei Zhang Xi dengan tatapan rumit. Pei Zhang Xi memeluk Lu Jing Yu dan mengelus kepalanya.
"Maafkan aku telah membuat kalian berdua selalu dalam bahaya." Bisik Pei Zhang Xi mengeratkan pelukannya. Hatinya terluka dan merasa bersalah. Jika dia adalah laki-laki biasa dan bukan pangeran, tidak akan ada yang menargetkan anak dan istrinya.
"Ini bukan salah Yang Mulia. Lagipula Yang Mulia selalu berusaha melindungi kami." Lu Jing Yu mengerti kegelisahan hati Pei Zhang Xi. Sebagai seorang kepala keluarga, ia memiliki tanggung jawab pada keluarga nya. Ia tahu suaminya ini sedang merasa tidak berdaya. Untuk itu ia memeluk Pei Zhang Xi dengan erat sambil menepuk punggungnya yang terkulai.
"Jika aku tidak memilih untuk..."
"Sudah aku bilang ini bukan salah Yang Mulia. Belum tentu jika Yang Mulia tidak memilih menjadi Putra Mahkota tidak akan ada orang yang meletakkan mata jahat mereka dan menjadikan kita target. Jika harus memilih, aku juga lebih menyukai menjadi rakyat biasa dan menjalani kehidupan yang tenang dan damai. Namun nasib telah menuliskan bahwa kita harus berdiri di puncak semua orang dengan resiko akan ada banyak orang yang mengawasi kita. Ini takdir kita. Dan kita harus menjalaninya. Yakinlah Yang Mulia, Selama kita bersama, kita akan mampu menjalani semua ini dengan baik-baik saja."
"Yu'er, betap beruntungnya aku memiliki istri seperti mu." Pei Zhang Xi mencium pucuk kepala Lu Jing Yu lama. Ia benar-benar bersyukur yang menjadi istrinya adalah seseorang seperti Lu Jing Yu yang begitu pengertian.
Sementara itu kedua orang yang baru saja menyelinap ke dalam kamar Pei Zhang Xi benar-benar tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya telah terperdaya. Mereka seakan lupa bahwa belum lagi yang mereka datangi dengan sembunyi-sembunyi adalah istana yang memiliki penjaga yang tak terhitung jumlahnya dan juga cakap. Semua orang juga mengetahui jika Pei Zhang Xi memiliki penjaga kediaman yang paling cakap di seluruh kekaisaran. Selain itu, sebagai Putra Mahkota yang terpilih, Pei Zhang Xi berhak mendapatkan penjagaan dari penjaga rahasia yang terkenal kuat dan setia. Menilai dari itu saja, bukan hanya sulit, namun juga tidak mungkin jika seseorang seperti pembunuh bayaran akan dapat menyelinap dengan mudah tanpa diketahui dan bahkan berhasil menculik seorang putra dari Putra Mahkota.
Kedua orang itu baru saja keluar dari istana dengan seorang bayi di dekapan mereka. Mereka segera pergi dengan cepat menuju keluar dari ibukota. Mereka tidak menyadari jika beberapa orang telah mengawasi mereka sejak awal. Mereka berhenti di sebuah gang sempit di antara toko.
"Bagaimana dengan bayi ini?" Orang yang menggendong bayi itu bertanya.
"Bunuh. Orang itu menyuruh kita untuk membunuhnya." Orang yang ditanya menjawab tanpa ekspresi. Ia menatap bayi itu dengan tajam.
"Ini.... Dia masih sangat kecil. Aku tidak tega." Tanpa sadar orang itu menarik bayi menjauh dari mata rekannya.
"Lalu apa! Bukankah ayam lebih kecil dari itu. Apa kamu juga akan tidak tega?" Rekannya mencibir.
"Ini berbeda. Bagaimana kalau kita buang saja."
"Kamu bodoh!" Rekanya segera memukul kepala orang itu. "Jika ada bayi yang dibuang di jalanan, dengan apa yang dikenakan bayi ini, dengan segera bayi ini akan dikenali sebagai pangeran yang diculik. Kalau kamu tidak tega, berikan bayi itu padaku. Biar aku yang membunuhnya." Saat mengatakannya, orang itu sudah merebut bayi dari tangan temannya dan meletakkannya di tanah.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Orang itu bertanya panik saat melihat rekannya mengangkat pedang panjang dari sarungnya. Kilau pedang itu menakutkan siapapun yang melihatnya.
"Membunuhnya tentu saja. Sudah minggir sana! Jika kamu masih tidak tega, mulai besok berhentilah jadi pembunuh bayaran huh!" Orang itu mendorong orang itu dan mulai mengangkat pedangnya ke udara. Bersiap untuk menebas bayi yang tergeletak di atas tanah.
"Jangan!" Teriak orang itu saat melihat rekannya mengayunkan pedangnya dengan tegas. Tapi ia telah didorong hingga jatuh oleh rekannya sehingga ia tidak mampu menahan rekannya meskipun ia ingin. Namun, yang terjadi selanjutnya benar-benar tidak terduga.
Klang.... Pedang panjang yang tajam itu segera jatuh ke tanah saat sebuah kerikil dilemparkan dengan kuat mengenainya. Kedua orang yang berdebat langsung menoleh ke belakang dan mendapati sekelompok orang dengan setagam tentara berdiri dengan senjata lengkap. Lalu dalam sekejap, kedua orang itu telah dikepung. Ada lebih dari tiga puluh tentara kekaisaran dan kediaman Pei Zhang Xi mengepung mereka. Menghalangi setiap jalan keluar dan memblokir gerakan. Tidak ada jalan untuk melarikan diri. Keduanya langsung berwajah pucat pasi.
**
Seorang pria berjalan dengan cepat menuju salah satu kediaman Raja di luar istana. Ia baru saja mengawasi pekerjaan dua orang pembunuh bayaran yang disewa majikan mereka untuk menculik bayi Pei Zhang Xi. Ia lah yang memberi tahu kedua orang itu letak paviliun Kedamaian berada dan dimana tepatnya bayi yang harus mereka culik berada. Ia menunggu kedua orang itu di luar istana hingga kedua orang itu keluar. Setelah memastikan jika orang-orang itu membawa bayi bersama mereka keluar dari istana, ia segera kembali ke kediaman Raja untuk melaporkan hal itu pada majikannya.
An Jia Yun menunggu dengan santai di halamannya. Sementar Pei Liu Wen mondar-mandir dengan cemas. Ia tidak mengetahui rencana istrinya sebelum hari ini. Meskipun ia biasanya bodoh, ia tidak cukup bodoh untuk berpikir jika menculik seorang pangeran apalagi itu adalah putra saudara tirinya yang paling kompeten akan berhasil. Ia sudah memberitahu hal ini pada istrinya dan mencoba menghalanginya. Namun istrinya malah mengoloknya bodoh dan penakut. Namun, ia masih tidak bisa berbuat apapun pada istrinya ini.
"Jia Yun, aku sudah bilang itu bukan ide yang bagus. Resikonya terlalu besar. Bagaimana jika mereka tertangkap?" Pei Liu Wen duduk dengan kasar di depan An Jia Yun.
"Tidak mungkin. Aku menyewa pembunuh bayaran yang paling kompeten. Mereka tidak pernah gagal menjalankan misinya."
"Namun ini adalah istana! Penjagaan ketat di sana. Apalagi penjaga dari kediaman Raja Rui juga ikut berjaga. Bagaimana jika mereka gagal dan tertangkap?"
"Jadi apa? Aku tidak bodoh untuk meninggalkan bukti keterlibatan kita. Jika pun mereka ditangkap, dugaan itu tidak akan pernah sampai bahkan mencurigai kita."
Saat An Jia Yun selesai bicara, seorang pelayan masuk dan melaporkan jika orang yang ia perintahkan untuk mengawasi kedua orang itu telah kembali.
"Biarkan dia masuk."
"Baik Permaisuri." Pelayan itu keluar dan segera setelah itu seorang pria masuk.
"Bagaimana?" Tanya An Jia Yun segera setelah orang itu memberi salam.
"Menjawab Permaisuri, kedua orang itu telah berhasil. Mereka telah membawa bayi Putra Mahkota pergi."
"Apa kamu yakin?"
"Hamba yakin Permaisuri. Hamba melihat sendiri mereka membawa keluar seorang bayi di tangan mereka. Mereka sudah pergi jauh ketika hamba kembali ke kediaman."
"Bagus. Sekarang kita bisa tidur nyenyak agar besok kita dapat menonton pertunjukan yang bagus." An Jia Yun menyeringai.
"Bagus! Bagus sekali." Pei Liu Wen bersorak senang.
"Lalu, bagaimana kamu akan berterima kasih padaku Yang Mulia?" An Jia Yun menatap Pei Liu Wen. Pei Liu Wen jarang menghabiskan waktu bersamanya jika tidak ada yang penting. Sebagai seorang wanita, terkadang ia merasa ingin mendapatkan kasih sayang dan dimanjakan.
"Ehem... Aku akan memuaskanmu malam ini istriku." Pei Liu Wen segera menggendong An Jia Yun. Pria itu sadar diri dan segera keluar dari kamar. Menutup pintu dengan hati-hati.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_165🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟