Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 257. Selir Qiao Menyerang Lu Jing Yu


Lu Jing Yu menerobos masuk melewati Selir Qiao dan segera memeriksa denyut nadi ibu Suri. Ibu Suri telah tiada dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantunya. Ia menutup mata Ibu Suri yang terbuka dengan tangannya sambil menggelengkan kepalanya saat ia mendesah menatap pelayan tua dan pelayan lainnya yang langsung menangis histeris.


Lu Jing Yu mengingat pelaku pembunuh Ibu suri dan berbalik. Menatap Selir Qiao dengan raut wajah yang campur aduk.


"Selir Qiao apa yang kamu lakukan pada nenek?" Lu Jing Yu menatap selir Qiao meminta penjelasan.


"Apa Yang Mulia Putri Mahkota kita ini buta atau bodoh? Aku membunuhnya tentu saja." Selir Qiao menurunkan tangannya saat menatap Lu Jing Yu dengan penuh kebencian. Semua ini juga karena wanita ini. Jika dia tidak membantu Pei Zhang Xi mendapatkan hati Rakyat dan memberikan poin tambahan padanya, Pei Zhang Xi tidak akan sepadan jika dibandingkan dengan putranya.


"Selir Qiao, kenapa kamu melakukan itu?"


"Kenapa? Tentu saja itu balasan yang sepadan." Jawab Selir Qiao acuh.


"Kamu gila Selir Qiao."


"Ya. Aku memang gila. Aku gila. Ha ha ha ha!" Selir Qiao sama sekali tidak merasa bersalah. Dia tertawa terbahak-bahak.


"Penjaga, tangkap selir Qiao sekarang. Dia telah membunuh ibu suri." Lu Jing Yu berteriak saat ia melirik Quan Yuan dan penjaga lain yang menunggu di samping.


Namun sayangnya, selir Qiao berada di dekat Lu Jing Yu dan dengan cepat meraih Lu Jing Yu dengan mudah. Mencabut hiasan rambut perak dari rambutnya dan mengarahkannya ke arah leher Lu Jing Yu yang halus. Dengan gerakan ringan, ujung hiasan itu menggores kulit leher dan darah segar berwarna merah cerah mengalir.


"Ish!" Lu Jing Yu meringis kesakitan. Semua orang panik melihat perkembangan yang tidak merek duga.


"Yang Mulia!" Semua orang berteriak kaget saat melihat leher putih Lu Jing Yu tertusuk. Meskipun sepertinya luka itu tidak dalam, namun masih cukup dalam untuk mengeluarkan darah.


Rambut Selir Qiao yang panjang tergerai lepas setelah hiasan rambutnya diambil. Menyebar dnegan berantakan dan sebagian menutupi sebagian wajahnya. Ditambah dengan seringaian mengerikan di bibirnya, penampilannya saat ini sangat jauh dari kesan anggun yang selama ini selalu dipertahankan oleh pae Selir. Selir Qiao tampak menakutkan!


Quan Yuan adalah yang paling cepat bereaksi. Bagaimana pun juga, ia ditunjuk oleh Pei Zhang Xi secara langsung untuk menjadi pengawal Lu Jing Yu. Secara alami, ia lah yang paling bertanggung jawab atas keselamatan nya. Bahkan jika sesuatu terjadi antara Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi secara bersamaan, ia masih harus mendahulukan keselamatan Lu Jing Yu.


"Jangan mendekat!" Selir Qiao yang melihat Quan Yuan maju mengancam. Ia mengencangkan tangannya yang memegang tangan kiri Lu Jing Yu. Sedangkan tangan kananya memegang hiasan rambut yang berada tepat di depan leher Lu Jing Yu. Quan Yuan berhenti. Keselamatan Lu Jing Yu tidak bisa dipertaruhkan. Jika ia secara tidak sengaja memicu kemarahan Selir Qiao, ia takut jika wanita itu bertindak nekat. Meskipun itu hanyalah hiasan rambut perak, itu masih merupakan senjata yang bisa digunakan untuk membunuh.


"Selir Qiao, tolong jangan bertindak impulsif. Lepaskan Putri Mahkota sekarang juga." Quan Yuan berbicara dengan tegas.


"Kamu hanyalah seorang pengawal rendahan. Berani sekali kamu menyuruhku hah?" Selir Qiao menatap Quan Yuan dengan meremehkan.


"Maafkan hamba. Tapi hamba tidak berniat menyuruh selir, melainkan hamba hanya mengingatkan saja."


"Benar selir Qiao. Jika anda tidak segera melepaskan Yang Mulia, anda pasti akan dihukum berat karena itu."


"Ha ha ha ha! Kau berusaha untuk mengancam ku? Kau pikir itu akan berhasil hah? Aku sudah membunuh ibu Suri. Itu artinya aku sudah tidak lagi takut menghadapi kematian. Tidak ada bedanya bagiku jika aku akan membunuh satu nyawa lagi.." Selir Qiao mencibir. Ia mendorong hiasan rambut di tangannya dan kembali menusuk leher putih Lu Jing Yu. Darah kembali mengalir dari luka baru itu. Lu Jing Yu meringis sekali lagi saat merasakan sakit di lehernya itu.


Lu Jing Yu melirik Chu Fei dan berusaha mengirimkan isyarat padanya untuk kembali menyulut emosi selir Qiao. Chu Fei adalah gadis yang pandai. Dia langsung mengerti arti isyarat yang dikirim Lu Jing Yu dan berbicara tanpa ragu untuk membuat Selir Qiao marah.


"Hamba tentu saja mengerti. Tetapi, itu masih lebih baik jika anda berurusan dengan Putra Mahkota. Apakah anda tidak pernah mendengar jika Yang Mulia putra Mahkota adalah seorang yang pendendam? Dengan membunuh Ibu Suri saja, sudah cukup untuh menjatuhi anda dengan hukuman mati. Tapi itu untuk ibu Suri. Bagaimana dengan pembalasan dendam untuk Yang Mulia Putri Mahkota? Jika anda mati, kepada siapa Yang Mulia putra Mahkota akan membalas dendamnya?" Chu Fei memandang mata Selir Qiao dengan yakin. Ia mengirimkan ancaman melalui tatapan matanya.


"Apa yang coba kamu katakan?" Selir Qiao menatap Chu Fei dengan curiga.


"Bicara yang jelas. Aku tahu bukan itu yang kamu maksudkan."


"Lalu apa menurut Selir Qiao yang dapat dipikirkan oleh seorang pelayan rendah seperti hamba ini?" Chu Fei tidak mengalihkan pandangannya dari mata Selir Qiao sama sekali.


"Jangan coba-coba mengancam ku! Itu tidak akan berhasil." Selir Qiao yang marah karena merasa dipermainkan menghentakkan kakinya dengan marah. tangannya yang memegang hiasan rambut tidak bergerak sama sekali dari depan leher Lu Jing Yu namun kekuatan nya sudah jauh berkurang.


Mengetahui jika Selir Qiao telah lengah, Lu Jing Yu dengan cepat menemukan kesempatan dan menggenggam tangan Selir Qiao yang memegang hiasan rambut dan menekuknya hingga Selir Qiao mengaduh dan menjatuhkan hiasan perak di tangannya hingga jatuh ke tanah.


Tangan kiri Lu Jing Yu juga tidak diam saja. Tangan itu ditekuk dan menyodok perut Selir Qiao saat ia mendorongnya dengan sekuat tenaga. Selir Qiao tidak siap dengan serangan mendadak ini dan terdorong jauh ke belakang. Tubuhnya yang lembut terjatuh dan menabrak meja di belakangnya. Membuatnya mengaduh dan menangis kesakitan.


Chu Fei tidak melewatkan kesempatan dan dengan cepat menyergap Selir Qiao. Menahan tangan Selir Qiao di belakang punggung nya. Lalu mengambil tali dan mengikatnya.


Lu Jing Yu yang baru saja terlepas dari bahaya tidak menghiraukan luka di lehernya dan menghampiri tubuh tak bernyawa Ibu Suri. Meminta pelayan tua untuk menyelimuti tubuh ibu Suri dan memerintahkan pelayan lain untuk memberitahukan kabar sekaligus kejadian yang baru saja terjadi pada Kaisar yang masih berada di aula persidangan.


Selir Qiao tidak diam saja ketiak mengetahui dia telah ditangkap. Ia berteriak histeris meminta untuk dilepaskan. Namun karena ia menyadari bahwa ia tidak akan dilepaskan, ia mengganti teriakannya dengan yang lain. Kebanyakan dari mereka adalah keluhan nya yang ia pendam selama beberapa tahun ia berada di dalam istana.


Suasana tegang yang sebelumnya tercipta karena Selir Qiao yang tiba-tiba menyerang Lu Jing Yu dan bahkan mengancam nyawanya segera hancur saat mereka melihat Lu Jing Yu yang menghampiri Ibu Suri dengan tergesa-gesa. Mereka segera melakukan apa yang diminta dilakukan oleh Lu Jing Yu pada mereka.


Suasana di istana sangat tegang hari itu. Para pemberontak telah ditangkap dan ditundukkan di beberapa tempat. Sebagian dari mereka adalah tentara yang merupakan bagian dari tentara kekaisaran yang telah tinggal di perbatasan selama beberapa waktu. Kebanyakan dari mereka tidak mengetahui perkembangan yang terjadi di ibu kota selama mereka berada jauh di perbatasan. Orang-orang seperti inilah yang sangat mudah dipengaruhi dan diperdayai. Pei Zhong Min memanfaatkan kelemahan ini untuk membangun kekuatan nya sendiri.


Sebagian dari lainnya adalah tentara yang dikirim dari luar kekaisaran. Pei Zhong Min telah pergi ke beberapa tempat untuk mencari sekutu dan telah mendapatkan beberapa dari mereka. Yang paling banyak berasal dari Kekaisaran Xi'an yang merupakan Kekaisaran kecil yang berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Shao. Untuk Kekaisaran ini, Pei Zhong Min menjanjikan jika mereka berhasil dan dirinya telah menduduki tahta, ia berjanji akan membebaskan Kekaisaran itu dari pajak selama sepuluh tahun ke depan.


Tentu saja, dengan iming-iming yang menggiurkan seperti itu, kekaisaran yang telah beberapa tahun harus tunduk di bawah pemerintahan Kekaisaran lainnya yang lebih besar akan dengan sangat mudah tergiur.


Pria tua yang ditangkap oleh Mo Han sebelumnya adalah utusan dari kekaisaran ini. Saat ini, ia diikat bersama dengan para pemberontak lainnya di depan aula pengadilan.


Pelayan yang berangkat untuk melaporkan kejadian ini adalah Chu Fei. Semua pelayan yang ada di kediaman Ibu Suri semuanya merasa sangat terpukul dan mereka tidak akan bisa menjalankan tugas ini dengan baik.


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_255🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉