
Acara perjamuan yang merupakan acara terakhir sekaligus perpisahan sebelum semua tamu dipersilahkan kembali ke Kekaisaran mereka keesokan harinya. Namun jika dari mereka masih memiliki urusan maupun ingin sekedar bersantai untuk menikmati pemandangan, tentu saja dipersilahkan.
Namun meskipun acara dilaksanakan di dalam hutan, semuanya dipersiapkan dengan sangat baik. Mulai dari penataan tempat, jamuan makan dan juga hiburan dipersiapkan dengan seksama di bawah pengawasan Pei Qin Yang yang karena statusnya yang diturunkan, dia tidak berhak mengikuti bahkan acara yang sangat sederhana seperti perburuan. Namun pengaturan tugas dan tanggung jawab juga merupakan salah satu cara untuk memulihkan gelar raja nya.
Tempat yang dipersiapkan untuk Kaisar dan Ratu Zhu berada di tengah bagian depan. Yang sejajar dengan tempat Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu tetapi memiliki posisi yang sedikit lebih tinggi. Dari tempat itu semua tempat strategis dapat terlihat dengan jelas. Sedangkan para selir Kaisar memiliki tempat tersendiri, di belakang Kaisar dan Ratu Zhu.
"Hormat kepada Yang Mulia Kaisar. Yang Mulia Ratu dan anggota keluarga Kerajaan Shao. Semoga Yang Mulia Panjang Umur." Semua orang berdiri dengan membungkukkan tubuhnya dan berkata dengan bersama-sama saat Kaisar Pei An Long telah duduk di tempat duduknya dengan gagah dan berwibawa.
"Lewati formalitas. Duduklah kalian semua. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan." Kaisar Pei An Long melambaikan tangannya dengan senyum bersahaja di bibirnya. Menatap semua orang yang ada di tempat itu.
"Terima kasih atas berkah kasih sayang Yang Mulia." Sekali lagi semua orang berkata serempak.
"Acara perjamuan malam ini adalah acara penutupan dari serangkaian acara Penobatan Putra Mahkota Shao. Zhen sangat berterima kasih pada semuanya yang telah menghadiri dan berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Untuk itu, izinkan Zhen bersulang dengan kalian semua sebagai ucapan terima kasih." Kaisar Pei An Long mengangkat mangkuk araknya dan menenggaknya di depan semua orang.
"Yang Mulia bijaksana." Semua orang baik itu laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kecuali Lu Jing Yu dan para wanita yang sedang menyusui atau tidak memiliki kemampuan menahan mabuk, mengangkat mangkuk arak mereka dan mengikuti gerakan Kaisar Pei An Long.
"Hahahaha. Bagus-bagus. Malam ini kita semua tidak akan berhenti jika belum mabuk." Ucap Kaisar Pei An Long setelah tertawa. Memandang semua orang yang berada dalam suka cita.
"Kasim Song, segera perintahkan menyajikan makanan sekarang." Kaisar Pei An Long menoleh dan berkata pada Kasim Song yang menunggu di bawah.
"Baik Yang Mulia." Kasim Song memegang kocokan kudanya dan memberi isyarat pada para pelayan yang telah menunggu perintah di samping tempat perjamuan. Mereka memang sudah siap sejak awal dan hanya menunggu perintah. Para pelayan ini adalah pelayan yang khusus bekerja untuk melayani para tamu, sedangkan di dapur, para koki masih terus memasak makanan dibantu dengan para pelayan dapur. Berjaga jika makanan yang mereka sajikan masih kurang.
Dalam sekejap, satu persatu pelayan maju dan menghidangkan makanan. Memenuhi setiap meja dengan berbagai jenis makanan dan kudapan ringan. Di samping, para pelayan juga bersiap dengan membawa arak dan teh di atas nampan yang akan segera memberikan apa yang para tamu inginkan.
Dengan mencium aromanya saja sudah membuat perut terasa keroncongan, namun saat mereka melihat tampilan makanan yang ada di depan mereka, tiba-tiba mereka syok. Mereka saling pandang apakah para pelayan ini salah menghidangkan makanan atau ada kesalahan tertentu?
Pada umumnya, para bangsawan tidak pernah memakan makanan ya g dibakar karena menurut mereka cara ini hanya digunakan oleh para tentara dalam keadaan terdesak. Dalam pandangan mereka, daging yang hanya dibakar sekedarnya tidak akan memenuhi kriteria untuk berada di atas meja makan mereka.
Dalam sekejap, banyak orang yang kehilangan nafsu makan mereka. Terumata para wanita dan gadis muda yang bahkan mulai merasa mual. Gambaran tentang makanan mewah di benak mereka hilang lah sudah.
Xian Mu Xuan juga merasa aneh dan mengernyitkan alisnya. Ia memang pernah memakan daging panggang, namun tidak pernah memakannya di acara seperti perjamuan yang formal. Apakah ada yang salah?
Xian Zi Xuan juga merasa hal yang sama. Namun saat ia menoleh dan melihat Pei Shi Liang yang bahkan sudah menghanyutkan dirinya di dalam mangkuk miliknya dengan mata yang jernih, Xian Zi Xuan tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Dengan perlahan ia mulai menggerakkan sumpitnya.
Ujung sumpitnya dengan hati-hati membelah daging dan menyingkirkan bagian kulit yang terlihat gosong. Sebenarnya tampilan luarnya berbeda jauh dengan daging bakar pada umumnya yang hanya hitam. Daging bakar di depannya ini memiliki tampilan yang mengkilat. Meskipun ada beberapa bagian yang berwarna hitam yang samar, lebih banyak adalah merah dan cokelat.
Saat makanan disajikan, masih dalam keadaan panas. Jadi saat Xian Zi Xuan membelah daging, aroma harum segera keluar dan menyebar. Lalu, bagian dalam ternyata tidak gosong seperti yang dibayangkan sebelumnya.
Kali ini tanpa ragu Xian Zi Xuan memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya dan matanya memiliki keterkejutan setelah lidahnya merasakan daging yang lembut dan gurih. Lalu tanpa sadar ia mulai menebak apa saja rasa bumbu yang ia temukan. Dengan segera, potongan daging kedua menyusul. Lalu ke tiga dan selanjutnya. Semakin dirasakan, Xian Zi Xuan bahkan semakin tidak menemukan. Yang ia rasakan semua bumbu menyatu dan saling melengkapi hingga sulit untuk membedakan satu persatu rasa.
"Kakak, apakah itu bisa dimakan?" Xian Mu Xuan bertanya dengan penasaran saat melihat Xian Zi Xuan yang jarang menikmati makanannya makan dengan lahap malam ini.
"Tentu saja." Jawab Xian Zi Xuan singkat. Ia bahkan tidak repot-repot melirik Xian Mu Xuan dan memilih menggerakkan sumpitnya untuk memilih masakan yang lainnya yang juga terlihat sedikit aneh.
Seperti Xian Zi Xuan, Xian Mu Xuan juga ragu-ragu pada awalnya. Namun demi citranya yang baik, ia tidak mungkin menyingkirkan makanan yang telah disajikan di depannya. Jadi meskipun dia merasa jijik hingga hampir muntah, ia masih menggerakkan sumpitnya dengan hati-hati dan mengorek daging dengan hati-hati.
Melihat beberapa orang mulai mencoba memakan "daging gosong itu" dan melihat tidak ada reaksi yang berlebihan selain rasa takjub dan terkejut , yang lainnya mengikuti dan mulai menggali makanan mereka.
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_215🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi , pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉