Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 161


Semua orang terkejut saat mengetahui Lu Jing Yu menahan nenek tua itu untuk pergi. Mereka segera waspada karena mereka curiga jika ada sesuatu yang tidak beres dengan nenek tua itu. Mereka bahkan memegang pedang yang ada di pinggang mereka dan siap menyerang kapan saja jika diperlukan. Pei Shi Liang bahkan telah berdiri memblokir antara Lu Jing Yu dan nenek tua.


Perubahan yang tiba-tiba membuat nenek tua itu gemetar ketakutan hingga jatuh terduduk di atas tanah. Lu Jing Yu pun sangat terkejut dengan hal ini. Ia tidak percaya semua orang bereaksi berlebihan seperti itu.


"Kalian semua hentikan!" Lu Jing Yu berkata dengan frustasi. Tidak adakah kepercayaan pada orang lain sedikit saja?


"Nenek, biarkan aku membantumu." Lu Jing Yu melewati Pei Shi Liang begitu saja dan kembali membantu nenek tua itu untuk berdiri kembali. Saat ini, Lu Jing Yu semakin yakin tentang apa yang ia duga. "Maafkan kami sekali lagi nek. Kami pasti membuat nenek takut barusan."


"Terima kasih Yang Mulia. Tapi hamba tidak apa-apa. Hamba hanya terkejut saja. Hamba mengerti mengapa semua orang bertindak seperti ini. Itu semua dilakukan demi keamanan Yang Mulia."


"Terima kasih sudah memaklumi nya nek. Sebelumnya aku menghentikan nenek karena aku ingin menanyakan sesuatu pada nenek."


"Ada hal apa yang perlu Yang Mulia tanyakan pada Hamba? Jika hamba mampu menjawabnya, hamba pasti akan menjawab."


"Nenek, apakah benar yang aku cium dari aroma nenek barusan adalah daun dari bunga peri?" Tanya Lu Jing Yu dengan serius. Biji bunga peri adalah yang dicarinya sejak pagi. Daun bunganya memiliki aroma yang khas yang mudah dikenali yang juga bisa dijadikan sebagai obat untuk meredakan nyeri pada persendian.


"Bunga peri?"


"Iya nek. Apa nama bunga itu di sini?" Gumam Lu Jing Yu di akhir kalimat nya. Ia tidak mengetahui nama tanaman itu di sini.


"Bunga itu memiliki warna putih dengan semburat merah muda di dalam kelopak nya. Setiap kelopak memiliki ukuran yang berbeda di setiap sisi dengan bagian bawah lebih panjang dari bagian atas. Aroma bunganya saat harum ketika mekar. Bentuknya tidak besar namun juga tidak kecil. Biji bunganya kecil berbentuk bulat berwarna merah cerah dengan garis putih. Memiliki pohon berbentuk sulur dengan daun berbentuk hati berwarna hijau tua mengkilat." Jelas Lu Jing Yu dengan detail agar nenek tua itu mengerti.


"Ah ya. Hamba tahu. Hamba memang menggunakan daun bunga itu untuk mengobati nyeri di lutut hamba. Tanaman itu banyak tumbuh di sekitar rumah saya."


"Benarkah?" Lu Jing Yu sangat l tidak wsenang. Ia memegang tangan nenek itu dengan bahagia.


"Ya Yang Mulia. Jika Yang Mulia berkenan, hamba akan mengantar Yang Mulia ke sana."


"Bagus. Kalau begitu aku ajn merepotkan nenek."


"Tidak sama sekali. Rumah hamba ada di desa Qing."


"Oke. Kalau begitu mari naik ke kereta." Lu Jing Yu menarik tangan nenek tua itu untuk naik ke kereta.


"Tolong jangan menolak nek. Jika kita bepergian dengan menggunakan keret, kita akan segera sampai. Ya nek?" Lu Jing Yu kembali meraih tangan nenek tua yang sudah keriput itu. Matanya penuh dengan harapan agar keinginannya terpenuhi.


Nenek tua itu memandang Lu Jing Yu dengan berat. Lalu ia melihat Pei Shi Liang dan yang lainnya yang sejak awal mereka bertemu, mereka memiliki reaksi yang berbeda dari Lu Jing Yu yang telah menerimanya sejak awal.


Pei Shi Liang ingin sekali menolak ide Lu Jing Yu untuk membawa nenek tua itu ke dalam kereta yang sama dengan mereka karena mereka hanya membawa satu kereta saat mereka keluar dari istana pagi ini. Namun saat ini yang solusi paling tepat memang untuk membiarkan nenek tua itu masuk agar perjalanan mereka lebih cepat. Jadi Pei Shi Liang hanya bisa mengangguk menyetujui.


"Putri Mahkota benar nek. Nenek sebaiknya ikut bersama kami. Dengan begitu kita akan cepat sampai." Pei Shi Liang meyakinkan.


"Baiklah kalau begitu. Namun mohon maaf jika hamba mengganggu. Daun yang hamb gunakan menjadi obat memiliki bau khas yang tidak semua orang menyukainya." Nenek tua itu memandang Lu Jing Yu dan Pei Shi Liang serius.


"Tidak masalah nek. Aku dapat menemukan apa yang ku cari juga berkat bau itu. Lagipula meskipun daun ini memiliki bau yang khas, baunya cukup menyegarkan. Benar kan Shi Liang?"


"Eh.. benar. Apa yang dikatakan Putri Mahkota benar."


Seperti yang dikatakan nenek tua itu pada Lu Jing Yu bahwa tumbuhan bunga peri tumbuh subur di sekitar tempat tinggal nenek tua itu. Sebenarnya bukan hanya tumbuh di sekitar rumah nenek itu melainkan tumbuh subur di daerah yang memiliki banyak pohon seperti hutan. Karena desa Qing berada di pinggiran ibukota yang berbatasan langsung dengan hutan, banyak tanaman bunga peri yang tumbuh di sana.


Lu Jing Yu mengkonfirmasi jika tanaman itu memang tanaman yang sedang ia cari setelah melakukan pemeriksaan sederhana. Lu Jing Yu sangat senang mendapatkan apa yang ia cari. Dengan batuan Chu Fei dan Pei Shi Liang, ia mengumpulkan biji bunga peri setelah mengantar nenek tua itu kembali ke rumahnya. Selain bijinya yang berkhasiat, hampir semua bagian dari tumbuhan itu memiliki manfaat. Kecuali akarnya yang malah mengandung racun yang berbahaya. Jadi setelah biji cukup banyak dikumpulkan, Lu Jing Yu meminta keduanya untuk membantunya mengumpulkan daun dan bunganya.


Sebelum mereka kembali ke istana, Lu Jing Yu juga meminta penjaga untuk membawa beberapa bibit pohon yang ditemukan di sekitar untuk ditanam di istana karena di masa depan akan sangar berguna untuk perawatan ibu Suri.


Biji bunga peri adalah bahan utama yang digunakan untuk menjaga menstabilkan kondisi ibu Suri. Dengan konsumsi secara berkala, khasiatnya tidak hanya menjaga menstabilkan saja melainkan akan sedikit demi sedikit mengobati penyakitnya hingga menghilang. Jadi setelah ia mendapatkan bahan utama nya, Lu Jing Yu segera bergegas untuk membuat ramuan untuk ibu Suri. Jadi saat ia kembali ke kediaman sementara yang disiapkan tidak jauh dari kediaman ibu Suri, malam sudah larut.


*


*


~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_161🍀~


Terima kasih sudah mampir 😘


Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟