
Lu Jing Yu tidak pergi ke Istana Kedamaian untuk menemui Pei Zhi Hui setelah ia selesai sarapan karena ia tahu jika Pei Zhang Xi memiliki alasan untuk mengirim putra mereka ke sana. Apalagi saat ia mendengar dari Quan Yuan jika pasukan Pei Zhong Min telah bersiap dan diperkirakan akan memasuki istan hari ini sehingga segala persiapan dilakukan.
Ketika hari sudah menjelang siang, Lu Jing Yu pergi menemui ibu Suri karena dia telah berjanji pada nenek mertuanya itu untuk datang mengunjunginya. Lagipula, ia khawatir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada saat yang genting ini. Jika ada pemberontak yang sampai menerobos istana ibu Suri, kondisi ibu Suri yang sudah hampir pulih bisa kembali turun. Tentu saja tidak ada yang menginginkannya.
Apa yang ditakutkan Lu Jing Yu benar-benae terjadi. Namun bukan pemberontak yang memasuki istana ibu suri dan membuat kondisi ibu Suri menjadi turun, melainkan Selir Qiao yang menghindari kejaran dari penjaga kekaisaran dan berlari hingga sampai di sini.
Sebagai salah satu selir Kaisar Pei An Long, tentu saja ia sedikit banyak mengerti mengenai kondisi ibu suri dan apa saja yang tidak boleh dilakukan di depan wanita tua itu.
Sebenarnya keadaan ibu Suri sudhs hampir pulih. Ibu suri bahkan sudah bisa berjalan-jalan di sekitar taman istananya dengan dibantu oleh pelayan nya. Dan hal ini memang sangat dianjurkan pada proses penyembuhan. Lu Jing Yu menganjurkan agar Ibu Suri secara rutin berjalan-jalan di luar ruangan sejak ibu Suri kembali bis berjalan dengan stabil.
Dengan keluar dari kamar, pikiran tidak akan tegang lagi. Selain itu, udara segar baik bagi kesehatan dan membantu dalam proses penyembuhan.
Pagi ini, ibu suri berjalan-jalan seperti biasa. Lalu karena cuaca hari ini sangat baik dan pemandangan di taman sangat indah, Ibu Suri memutuskan untuk tinggal di gazebo untuk melukis di sana.
Pelayan tua yang telah mengikuti Ibu Suri sejak muda segera memerintahkan pelayan yang lebih muda untuk menyiapkan tempat dan juga peralatan. Pun tempat duduk yang digunakan ibu Suri untuk duduk tidak lupa dipasang bantal agar wanita tua itu merasa nyaman.
Ibu Suri melukis dengan perasaan yang bahagia. Tentu saja, semua berita luar yang tidak baik selalu diblokir dan tidak diizinkan masuk ke dalam tempat tinggal Ibu Suri. Praktis, ibu Suri tidak pernah mendengar apapun mengenai perselisihan antara pangeran. Dia bahkan baru tahu jika Pei Zhong Min ditugaskan ke perbatasan setelah dua bulan keberangkatannya.
"Kemampuan melukis Ibu Suri tidak berkurang sedikitpun." Puji pelayan tua dengan tulus.
"Kamu memang selalu memiliki lidah yang manis. Jika kamu menikah di masa lalu, aku yakin mertuamu pasti akan selalu bahagia memiliki menantu berlidah madu seperti mu. Kenapa dulu kamu selalu menolak untuk menikah dan malah bersikeras menemaniku? Lihatlah kamu saat ini sudah tua. Tidak ada yang akan mau menikah denganmu. Sudah menyesal sekarang?" Ibu Suri meletakkan kuasnya saat ia telah selesai menyelesaikan lukisannya.
"Ibu Suri pasti bercanda. Sejak awal hamba mengikuti Ibu Suri, hamba selalu berjanji pada diri hamba sendiri untuk setia menemani Ibu Suri sampai kapanpun. Dapat menemani Ibu Suri di dalam hidup adalah anugerah terbesar untuk hamba. Mana mungkin merasa kecewa?" Pelayan tua itu berbicara dengan senyum di bibirnya saat ia mendekat untuk memberikan teh panas pada ibu Suri.
"Lihatlah dirimu ini. Sejak muda selalu saja keras kepala. Jika kamu mau meminta anugerah pernikahan padaku saat itu, juga bukannya aku tidak akan menyetujuinya. Dan mungkin sekarang ini kamu pasti sudah dengan tenang bermain bersam cucumu. Aku lihat Pria itu juga sangat mencintai mu, tapi kamu malah eih...."
"Masa lalu masih hanyalah masa lalu juga yang tidak akan bisa diulangi bagaimana pun. Namun meskipun jika waktu bisa diputar kembali ke masa itu, takutnya hamba juga tidak akan merubah pilihan ini."
"Hah....Memang gadis bodoh." Ibu Suri mendesah panjang. Namun ia juga masih tidak berdaya. Meskipun dia sangat ingin menyatukan pelayannya dengan pria yang baik dan mencintai nya, keputusan akhir masih berada di tangannya.
"Aku lelah. Antar aku kembali."
"Baik Ibu Suri." Pelayan tua itu segera melambaikan tangannya untuk memberi isyarat pada pelayan lainnya untuk membereskan lukisan Ibu Suri dan membawanya bersama mereka sedangkan dia membantu Ibu Suri berdiri dan memapahnya berjalan menuju ke kamarnya.
Sampai di kamar, Ibu Suri yang sudah lelah setelah sepanjang pagi tinggal di luar kamar segera berbaring di atas tempat tidur dan meminta semua orang keluar dari kamarnya karena ia ingin beristirahat dengan tenang.
"Apakah ibu masih bisa tidur dengan nyenyak di sini saat kedua putra ibu saling bertarung untuk tahta di kuar sana?" Ibu suri yang baru saja menutup matanya jelas mendengar setiap perkataan dari suara yang dikenalnya. Apalagi selir Qiao adalah selir yang masuk sejak awal bersama dengan Ratu Zhu. Ibu Suri membuka matanya dan berangsur duduk dengan wajahnya yang penuh keterkejutan.
Perkataan Selir Qiao jelas. Namun ibu Suri tidak akan mempercayainya begitu saja. Ia mengenal baik kedua putra yang dilahirkan dan dia besarkan dengan kedua tangannya sendiri. Pei An Long memang dibesarkan dengan segala macm bentuk keistimewaan karena dia memang dipersiapkan untuk menjadi Kaisar. Sedangkan Pei An Song yang sejak kecil memang sudah terlihat jika dia tidak menyukai hal-hal formal dan lebih menyukai kehidupan yang bebas dibesarkan seperti apa yang dia inginkan. Dan Pei An Song memilih untuk berlatih ilmu pedang dan beladiri.
Namun meskipun kedua putranya mendapatkan perlakuan yang berbeda di istana, ia dan paduka Kaisar tidak pernah membedakan kasih sayang di antara mereka berdua.
Pada saat keduanya dewasa pun, paduka Kaisar telah memanggil dan bertanya secara pribadi pada Pei An Song apakah dia ingin bersaing menjadi Kaisar dengan saudaranya, dia menjawab dengan jelas dsn tegas bahwa dia sama sekali tidak menginginkan nya. Dia lebih memilih kehidupan yang tenang tanpa banyak aturan yang akan mengaturnya di setiap langkahnya.
Jadi saat Ibu Suri mendengar jika saat ini kedua putranya tengah bertarung untuk memperebutkan tahta, tentu saja ia tidak akan percaya.
"Ibu tidak salah dengar. Aku memang mengatakan jika kedua putra ibu, Yang Mulia dan Raja Nan saat ini sednsg bersitegang untuk memperebutkan tahta." Jawab selir Qiao sambil berjalan mendekat dan berdiri di depan ranjang ibu Suri.
"Kamu pasti berbohong. Aku mengenal baik kedua putraku. Song'er tidak tertarik pada tahta sejak ia masih muda. Kenapa dia tiba-tiba ingin merebut tahta kakaknya sendiri?" Wajah Ibu Suri suram. Sesuatu yang membuat seorang ibu sangat sangat sedih adalah jika ia melihat anak-anak yang dia lahirkan bertengkar di depan matanya.
"Itulah ibu. Aku juga tidak mengerti kenapa raja Nan berubah."
"Tapi kenapa tidak ada yang memeneitahuku mengenai hal ini sebelumnya?" Ibu Suri masih menolak percaya.
"Itu karena semua orang takut hal ini mengganggu kesehatan ibu. Tapi ibu, saat ini keadaan sedang gawat. Raja Nan membawa pasukannya menerobos ke istana. Bahkan mengancam Yang Mulia dengan menggunakan pedang. Yang Mulia saat ini sedang terpojok." Selir Qiao memiliki wajah serius sejak awal ia datang. Dan saat ini bahkan air matanya mengalir di saat wajahnya tampak sangat ketakutan.
"Itu tidak mungkin." Ibu Suri menggelengkan kepalanya dengan terkejut hingga membuat dadanya terasa nyeri yang mencekat. Tangannya yang pucat memegang dadanya dengan erat.
"Ya ibu. Menantu ini tidak akan berani berbohong padamu. Sejak awal Menantu ini berpikir jika ibu lah yang dapat mengakhiri masalah ini. Asalkan ibu mau membujuk Raja Nan untuk menyerah, menantu ini yakin Raja Nan akan menurut. Namun semua orang melarang menantu ini untuk meminta bantuan pada ibu. Tapi hari ini saat menantu ini melihat dada Yang Mulia tertusuk pedang dan mengeluarkan banyak darah, menantu ini tidak bisa diam dan segera pergi diam-diam untuk menemui ibu."
"Ah! Itu tidak mungkin." Rasa nyeri di dadanya semakin menyiksa. Wajah ibu Suri pucat dengan keringat sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya yang pucat.
"Itu benar ibu. Putramu saling bertarung saat ini."
Bruk! Ibu Suri tidak bisa menerima berita ini dan jatuh pingsan di atas ranjangnya.
Mendengar suara keras dari kamar ibu Suri, pelayan tua yang menunggu di luar segera panik dan bertanya dengan cemas.
"Ibu Suri, apa apa? Apakah hamba bisa masuk?" Tanya pelayan tua dengan khawatir tepat di depan pintu.
Selir Qiao mendengar suara pelayan tua di luar dan panik. Namun ia telah mengunci pintu dari dalam sebelum ia menampakkan dirinya di depan ibu Suri. Dia melihat ibu Suri yang masih setengah sadar di atas ranjang dengan wajah pucat pasi menyeringai.
"Ibu, Beristirahat lah dengan tenang. Salahkan saja putramu yang tidak pernah bisa adil pada semua istrinya. Bahkan pada putranya, dia selalu menutup matanya dan hanya melihat putra yang dilahirkan oleh Selir Su. Bukankah kamu juga begitu ibu? Jadi nikmatilah pelayanan menantu ini." Selesai menyelesaikan kalimatnya, Selir Qiao mengulurkan tangannya dan mencekik ibu Suri.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_255🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉