
Prok! prok! prok!
Suara tepuk tangan yang nyaring terdengar dan memecah pertengkaran antara sepasang suami istri itu sehingga membuat kedua orang itu menghentikan pertengkaran mereka. Mereka segera tersadar bahwa bukan hanya mereka yang ada di ruangan itu dan mereka sedang menjadi pusat perhatian. Dan yang paling penting adalah bahwa orang yang berada satu ruangan bersama mereka adalah Pei Zhang Xi, orang yang seharusnya paling tidak melihat pertengkaran mereka yang akan mengungkapkan kejahatan mereka.
"Adik... Ini tidak seperti apa yang kamu pikirkan." Pei Liu Wen segera sadar kembali dan kembali menyeruak ingin mendekati Pei Zhang Xi sebelum dihempaskan kembali olehnya.
"Ah! Adik. Kamu tidak percaya pada ku?" Wajah Pei Liu Wen terdistorsi.
"Aku sudah cukup mendengar dan melihat semuanya. Apa masih ada lagi yang harus aku dengarkan? Dan juga Raja Nan, meskipun aku adalah adikmu, tetapi Raja Nan harus ingat bahwa aku adalah Putra Mahkota dan sudah seharusnya raja Nan menghormatiku bagaimanapun."
"Ini... putra Mahkota, anda tahu bukan itu yang aku maksudkan."
"Lalu apa? Apa kah yang Raja Nan akan menjelaskan bagaimana hal baik yang dibicarakan tadi? Kita lupakan dulu mengenai niat Raja Nan yang memiliki ambisi menjadi Putra Mahkota dan menggantikanku. Sekarang tolong jelaskan bagaimana Raja Nan menyewa pembunuh bayaran untuk menculik putraku dan memerintahkan mereka untuk melenyapkannya?" Pei Zhang Xi menatap tajam Pei Liu Wen.
"Aku tidak. Aku tidak akan berani melakukannya. Aku berani bersumpah! Aku berani bersumpah tidak melakukannya."
"Kamu memang tidak memiliki keberanian untuk melakukan apapun itu. Kamu hanya mengandalkan istrimu yang delusi ingin menjadi seorang Ratu dengan kemampuannya. Apakah aku benar?"
"Yang Mulia. Ini bukan aku. Itu memang istriku itu. An Jia Yun. Dia yang memaksaku melakukan semuanya. Aku adalah saudaramu yang baik. Aku tidak akan pernah melakukan apapun yang melawanmu. Kamu harus percaya padaku."
"Hei! Kenapa jadi aku? Kita beruda tahu betul apa yang terjadi." An Jia Yun tidak terima hanya dia yang dijadikan kambing hitam sedangkan Pei Liu Wen akan bebas dan menikmati hidupnya dengan bebas setelah semua.
"Itu memang benar. Kamulah yang melakukan semuanya. Kamu merencanakan semuanya. Kamu juga yang telah menemukan para pembunuh bayaran itu untuk menculik bayi Putra Mahkota dan memerintahkannya untuk membunuhnya padahal aku tidak setuju. Semua kejahatan itu kamu yang telah melakukannya."
"Kamu! Dasar bodoh!" An Jia Yun begitu marah melihat Pei Liu Wen terpancing dan mengungkapkan kejahatan mereka dengan begitu mudahnya."
"Tuan Lin, apakah pernyataan mereka sudah dicatat?" Pei Zhang Xi tidak repot-repot mendengarkan pertengkaran kedua orang itu. Ia segera bertanya pada Tuan Lin yang merupakan petugas senior yang bertugas mencatat hasil interogasi.
"Ya Yang Mulia. Hamba telah menulis apa yang telah diakui oleh Raja Nan dan Permaisuri Nan."
"Bagus. Karena keduanya telah mengakui bersalah, Tuan Lin pasti sudah mengetahui apa yang akan dilakukan bukan?"
"Yang Mulia, Kamu tidak bisa melakukan ini padaku. Kita adalah saudara setelah apapun. Sebagai seorang Putra Mahkota kamu tidak bisa terlalu kejam pada saudara mu sendiri atau rumor di luar akan mengatakan jika kamu kejam dan tanpa ampun. Apa kamu tidak takut karma?" Wajah panik Pei Liu Wen terdistorsi. Ia tidak boleh dipenjarakan.
"Huh! Mungkin karena aku terlalu longgar atas kejahatan semua orang sebelumnya hingga membuat orang-orang seperti mu tidak memiliki rasa takut dan terus menerus membingkai keluargaku. Kali ini aku tidak akan melepaskan siapapun yang mencoba menyakiti mereka berapapun harga yang harus aku bayar. Lagipula, ada satu hal yang selalu ingin aku tanyakan pada kalian, orang-orang yang memiliki label 'saudara' yang melekat pada kalian tetapi kalian lah yang selaluenvari cara untuk menjatuhkan satu sama lain dan bahkan dengan kejam mengincar nyawa di antara kalian. Apakah sebuah tahta begitu menyilaukan mata hingga membuat kalian berbuat gila?" Pei Zhang Xi berhenti di tengah jalan dan bertanya tanpa berbalik.
"Huh! Dasar pria munafik! Bukankah kamu selalu mengatakan jika kamu tidak menginginkan menjadi Putra Mahkota sebelumnya dan berkata bahwa kamu tidak akan ikut dalam perebutan posisi? Tetapi sekarang justru kamulah yang menduduki tempat itu. Apa kamu tidak malu bahwa ternyata kamulah yang silau akan kekuasaan sekarang?"
"Heh! Bukan posisi ini yang aku tuju melainkan ini adalah salah satu caraku melindungi keluargaku. Aku sudah berkata dengan lantang untuk menjauhi perebutan kekuasaan tetapi tetap saja kalian masih mengincar ku dan orang-orang yang aku sayangi bagaimanapun aku menjauh dari kalian. Dengan menjadi Putra Mahkota setidaknya aku akan memiliki kekuasaan yang dapat aku gunakan untuk melindungi keluargaku, aku tidak keberatan untuk melanggar prinsip ku. Lagipula aku menduduki posisi ini murni dengan kemampuanmu bukan sesuatu yang curang. Lalu kenapa aku merasa malu?" Pei Zhang Xi menoleh dan berbicara dengan angkuh.
"Kamu! Kamu tidak pantas menjadi putra Mahkota. Aku akan mengatakan pada Ayah agar kamu diturunkan. Seseorang yang menjadi budak keluarganya tidak akan bisa memimpin suatu negara." Pei Liu Wen berteriak dengan keras.
"Mo Ting, bukankah kamu merasa dia terlalu berisik?"
"Hamba mengerti Yang Mulia." Mo Ting mengerti dan menganggukkan kepalanya sebelum ia melepas kaos kakinya dan menyumpalkannya di mulut Pei Liu Wen yang langsung membuat pria itu pingsan setelah mencium bau busuk yang tercium dari kaos kaki Mo Ting yang dipaksakan di mulutnya. Jika ia tidak pingsan, semua orang yakin dia akan muntah. Tapi mungkin nanti setelah ia bangun dari pingsannya, ia pasti akan segera muntah. Seperti An Jia Yun yang muntah tiada henti saat ini.
"Hamba telah melakukan perintah Anda Yang Mulia." Tanpa merasa ada yang salah dengan tindakannya, Mo Ting melapor dengan bangga.
"Kerja bagus. Namun lain kali kamu mungkin harus membawa kaos kaki cadangan saat kamu pergi." Pei Zhang Xi tidak tahu harus berkata apa. Lagipula perintahnya pada Mo Ting adalah untuk membungkam Pei Liu Wen yang dinilainya berisik, ia tidak peduli bagaimana pun caranya. Yang terpenting adalah cara itu sangat sangat efektif.
"Hehehe. Baik Yang Mulia. Hamba akan mengingatnya dengan baik." Mo Ting menggaruk belakang kepalanya.
*
*
~🍀 Permaisuri Tidak Ingin Mati_179🍀~
Terima kasih sudah mampir 😘
Jangan lupa tinggalkan jejak 👣 like 👍 komentar 📝 vote 🌟