Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 156


Ibu Suri semakin lama semakin menunjukkan peningkatan keadaan yang baik. Tabib istana mendapatkan lagi senyum mereka dan wajah tegang yang mereka selama beberapa hari akhirnya terhapus dari wajah tua mereka.


Ibu Suri juga sudah sadar di hari ketiga setelah perawatan. Dan orang yang pertama dicarinya adalah Lu Jing Yu karena di dalam alam bawah sadarnya, ia melihat bahwa Lu Jing Yu mengulurkan tangannya dan mengajaknya kembali dari dunia yang indah yang menahannya untuk kembali.


Lu Jing Yu dan keluarga kecilnya pun masih berada di istana untuk memudahkan perawatan bagi Ibu Suri. Lagipula sebagai seorang Putra Mahkota, Lu Jing Yu akan menempati halaman timur yang memang dipersiapkan untuk putra Mahkota. Saat ini halaman itu juga sudah siap setelah dipersiapkan berdasarkan referensi yang disukai Lu Jing Yu dan Pei Zhang Xi. Hanya menunggu penobatan maka halaman itu resmi akan menjadi milik Pei Zhang Xi.


Setelah kedatangan pangeran kecil, halaman ibu Suri yang biasanya sepi dan tenang kini mulai terlihat ramai. Kelucuan pangeran kecil telah menularkan kebahagiaan pada semua orang yang ada di dekatnya. Senyum dan tawa para pelayan mulai terdengar di saat mereka sedang mengerjakan pekerjaan mereka.


Pangeran kecil juga pintar dan tidak rewel. Dia hanya akan menangis sesekali saja saat ia lapar atau setelah buang air. Hal ini membuat semua orang sangat menyayanginya.


"Yang Mulia, bagaimana dengan yang aku minta selidiki?" Lu Jing Yu berkata setelah ia selesai memeriksa keadaan ibu Suri. Pei Zhang Xi kembali setelah menyelesaikan pekerjaannya untuk makan siang bersama dengan Lu Jing Yu.


"Sepertinya yang kamu curigai sebelumnya memang benar. Kondisi nenek tidak memburuk dengan tanpa alasan. Aku menemukan selembar surat yang memberitahu nenek mengenai Kematian Zhu Man Xie dan perselingkuhan Selir Yue. Dalam surat itu bahkan disebutkan bahwa Pei Yu Chen adalah bukan putra kandung ayah. Jika aku tidak melakukan pemeriksaan dengan teliti, aku mungkin tidak akan menemukan surat itu yang disembunyikan nenek di celah ranjangnya. Hal ini sudah diatur sebelumnya untuk mengacaukan kestabilan keadaan di istana."


"Shh... sunguh jahat. Siapa sebenarnya yang tidak berperasaan hingga menjadikan kesehatan seorang wanita tua hanya demi keuntungannya. Mendengarnya saja membuat ku sangat marah."


"Aku sudah bertanya pada bibi yang bertugas melayani nenek. Namun dia memastikan bahwa tidak ada yang menemui nenek dalam periode waktu ini. Lagipula ayah telah memberikan perintah bahwa tidak ada yang bisa dengan bebas mengunjungi nenek tanpa izin."


"Lalu siapa yang melakukannya? Itu harus nya hanya bisa menjadi orang yang sudah berada di halaman nenek selama ini."


"Kamu benar. Tapi aku tidak bisa menemukan cara untuk menemukan orang ini. Apakah kamu memiliki saran?"


"Emmmm,... Aku mungkin tidak bisa memastikannya. Namun..."


***


Sebuah paviliun yang terpisah dengan bangunan, utama seorang pria tampan bersandar di atas kursi rebah dengan dikelilingi wanita cantik berpakaian seksi. Dilihat dari bagaimana cara mereka melayani tamu mereka,sangat jelas bahwa mereka adalah para pekerja profesional di bidangnya. Tidak heran memang. Mereka semua adalah pemilik pelat hitam dari paviliun Chang He yang merupakan rumah bordil nomer satu di ibu kota kekaisaran Shao.


Dikatakan, untuk menyewa salah satu dari mereka membutuhkan seratus koin emas. Harga yang sebanding dengan gaji bulanan seorang pejabat dengan status tingkat dua. Jadi tentu saja untuk dapat mengumpulkan para wanita berpelat hitam dalam satu waktu bukan menjadi orang sembarangan. Bukan hanya masalah uang. Kekuasaan juga berpengaruh di sini.


"Yang Mulia, biarkan hamba melayani Anda malam ini." Seorang wanita berbaju hijau mengalungkan tangannya pada leher seorang pria yang dipanggilnya Yang Mulia.


"Tidak. Malam ini akulah yang akan melayani Yang Mulia. Aku lebih baik darimu bagaimanapun." Seorang wanita berbaju merah yang berada di belakang pria itu menundukkan kepalanya hanya untuk menciumi pria itu dari samping dengan penuh gairah.


"Kau tahu apa? Aku memiliki gerakan baru yang belum pernah ada. Dan yang Mulia sangat menyukainya terakhir kali. Bukankah aku benar Yang Mulia?" Wanita lain dengan baju berwarna merah muda yang menempel di sisi kanan pria itu menggesekkan bagian depan tubuhnya yang montok di lengan pria itu.


"Hahahaha. Tidak bisakah kalian melayani bersama-sama? ย Aku yakin kita semua akan bersenang-senang semalaman." Pria itu tertawa bahagia saat kedua tangannya memeluk empat wanita di pelukannya.


"Yang Mulia memang yang terbaik. ย Itu ide yang sangat bagus. Kami akan bersama-sama menyenangkan Yang Mulia."


"Yang Mulia, anda setiap hari berada di sini bermain-main ย bersama kami. Apakah permaisuri anda tidak marah?" Wanita berbaju berbaju merah bertanya dengan manja. Ia mengumpulkan dagunya di atas bahu pria itu.


"Aiya! Jangan membicarakan wanita membosankan itu. Jika latar belakangnya tidak bagus dan otaknya yang pintar. Aku bahkan malas melihat wajahnya itu."


"Yang Mulia. Anda jahat." Wanita berbaju hijau itu mengatakan hal mengasihani istri pria itu namun tubuhnya berkata lain. Bibirnya dengan mulus mulai menciumi leher pria itu saat tangan pria itu menyelinap di balik pakaiannya.


...****************...


Acara Penobatan Putra Mahkota suatu negara selalu menjadi acara besar di setiap kekaisaran. Setiap kekaisaran akan mengirimkan utusan dari kekaisaran mereka untuk mengikuti acara ini dan menjadi saksi. Selain itu, dengan cara inilah seorang Putra Mahkota akan diakui gelarnya oleh kekaisaran tetangga.


Untuk itulah undangan mulai disebarkan ke berbagai kekaisaran tetangga yang merupakan rekan kekaisaran Shao. Salah satu kekaisaran tetangga yang diundang dalam acara ini adalah kekaisaran Shixian.


Kekaisaran Shixian adalah sebuah Kekaisaran yang berada di sebelah barat kekaisaran Shao. Kekaisaran Shixian adalah kekaisaran yang sama besarnya dengan kekaisaran Shao. Kedua kekaisaran saling bersaing dalam segala hal untuk memperebutkan sebagai posisi pertama kekaisaran yang paling bersaing.


Sebagai kekaisaran yang setara dalam hal apapun membuat kedua kekaisaran saling menghindari gesekan antar keduanya untuk mengantisipasi terjadinya perang. Jika kedua kekaisaran ini sampai bertemu di Medan perang, tidak akan dapat dibayangkan dampak negatif yang akan terjadi.


Untuk menghadiri acara penobatan putra Mahkota kali ini, kekaisaran Shixian akan mengirim putra mahkota mereka, Xian Zi Xuan. Selain itu putri ke sembilan kekaisaran Shixian, Xian Mu Xuan juga akan ikut. Pangeran dan putri ini semuanya adalah putra dan putri favorit Kaisar yang sudah menjadi rahasia umum.


Dikabarkan jika Putra Mahkota Xian Zi Xuan adalah seorang pangeran yang tampan yang dapat disandingkan dengan Pei Zhang Xi. Sedangkan putri Xian Mu Xuan juga merupakan gadis yang sangat cantik.


"Kakak pertama, apakah kita sudah sampai?" Seorang gadis cantik membuka tirai jendela saat kereta kuda yang membawanya berhenti secara tiba-tiba. Suaranya yang jernih terdengar begitu menyenangkan. Gadis ini adalah Xian Mu Xuan, gadis yang sedang menjadi bahan pembicaraan di dua Kekaisaran.


"Kita akan menginap di penginapan malam ini dan akan memasuki istana keesokan harinya." Seorang pria tampan yang menunggang kuda menjawab dengan suara maskulin yang menggetarkan hati. Tentu saja pria tampan ini adalah putra Mahkota Xian Zi Xuan.


"Aku melihat." Gadis itu menutup kembali tirai keretanya dan bersiap untuk turun.


Tentu saja kedatangan dua orang berpengaruh ke dalam kekaisaran lainnya tidak sesederhana yang terlihat. Pangeran Xian Zi Xuan dan Putri Xian Mu Xuan sengaja datang lebih cepat adalah agar mereka dapat melihat bagaimana kekaisaran saingan mereka berkembang selama ini. Setelah mereka selesai dengan urusan mereka dan beristirahat sebentar, Pangeran Xian Zi Xuan pergi berbaur dengan masyarakat di ibukota.


*


*


~๐Ÿ€ Permaisuri Tidak Ingin Mati_156๐Ÿ€~


Terima kasih sudah mampir ๐Ÿ˜˜


Jangan lupa tinggalkan jejak ๐Ÿ‘ฃ like ๐Ÿ‘ komentar ๐Ÿ“ vote ๐ŸŒŸ