
Aula yang luas malam ini terlihat meriah. Lentera dipasang di sisi kanan dan kiri jalan yang membelah taman istana yang ditumbuhi bunga musim panas. Dari dalam aula terdengar suara riuh beberapa orang yang sibuk berbincang-bincang. Sesekali suara tawa juga terdengar bergemuruh. Meja-meja di dalam terlihat sudah hampir penuh. Semua tamu undangan sudah hampir semuanya hadir.
Pei Zhang Xi dan Lu Jing Yu duduk di salah satu meja di barisan pertama. Pei Zhang Xi dengan sabar menyuapi Lu Jing Yu dengan makanan ringan yang disediakan di atas meja. Di sebelah kanannya, meja Raja Pei Zhong Min yang hanya diisi oleh Qin Sui Lan beserta dengan tiga selir Pei Zhong Min dan anak-anak mereka. Semua orang di meja itu melirik penuh kebencian pasangan muda yang bahagia di meja sebelah.
Berbeda dengan tatapan tidak suka dari sebelah kanan tatapan dari meja sebelah kiri memperhatikan pasangan ini dengan tatapan hangat. Di sampingnya adalah meja Raja Wei yang sesekali tersenyum melihat hubungan mereka. Yun Ying dan Pei Wu Shan menikah dengan dasar suka sama suka. Keduanya memang memiliki rasa sebelum mereka menikah. Keduanya mulai saling mencintai dalam diam sejak mereka sering bertemu di disampaikan forum Puisi yang diadakan oleh akademi kekaisaran. Keduanya memiliki minat yang sama dalam sastra terutama puisi. Di antara para pangeran, Pei Wu Shan adalah pangeran yang sangat terlihat tidak berniat untuk naik tahta.
Namun mengabaikan itu, suara para gadis dan para bangsawan sibuk membicarakan tentang Zhu Man Xie. Tentang kebaikan Permaisuri Xuan yang telah membantu para korban kekeringan dengan mendirikan tenda pembagian bubur untuk para rakyat miskin dengan menggunakan uangnya sendiri.
"Permaisuri Xuan memang sangat baik. Aku mendengar ia bahkan menjual perhiasannya untuk menyediakan Bubur bagi para pengungsi yang datang dari desa-desa di sekitar ibukota yang terdampar bencana kekeringan." Seorang gadis muda yang cantik berbisik-bisik di bagian belakang. Bukan hanya dia. Beberapa gadis juga membicarakan hal yang sama.
"Alangkah baiknya jika Raja Xuan naik tahta. Ratu seperti Permaisuri Xuan lah yang paling dibutuhkan kekaisaran ini. Dengan begitu ia akan dapat membantu Raja Xuan memerintah."
"Benar. Keduanya sangat baik dan memiliki kasih sayang. Jika pasangan seperti ini yang mewarisi tahta alangkah baiknya."
"Aku rasa Raja Xuan lah yang paling memenuhi syarat. Raja Yuan pergi ke perbatasan. Aku rasa alasannya tidak sesederhana yang tersebar. Pasti itu karena kesalahan yang dibuatnya."
"Aku juga merasa begitu. Sedangkan Raja Rui meskipun memiliki kualifikasi, ia sudah menyatakan bahwa ia tidak akan menerima Selir. Jika seperti itu bagaimana bisa keturunan keluarga kerajaan akan diteruskan?"
"Apalagi melihat Raja Rui yang memperlakukan permaisuri nya dengan manja. Jika mereka yang naik tahta, pada akhirnya nasib kekaisaran ini tidak akan bisa tenang. Raja Rui akan sibuk menyenangkan istrinya tanpa tahu menjalankan kewajibannya."
"Sebenarnya tidak ada masalah dengan Raja Rui. Permaisuri Rul lah yang tidak baik. Jika Raja Rui menikah lagi dan menurunkan posisi Permaisuri saat ini dan memberikannya pada istrinya yang baru, aku rasa gelar Kaisar masih bisa disandang olehnya." Beberapa orang yang diajak bicara menganggukkan kepalanya setuju. Di kepala mereka, mereka mulai mengingat gadis muda di keluarganya yang menonjol yang mungkin akan menggantikan posisi permaisuri Rui.
"Tapi menurutku yang lebih berpotensi dari Raja Rui tetap Raja Xuan. Raja Xuan adalah keturunan langsung Kaisar dia Ratu. Lagipula Raja Xuan juga merupakan cucu luar tuan Zhu. Permaisuri Xuan juga merupakan cucunya sendiri. Jika Raja Xuan. Ingin naik tahta aku tidak percaya Tuan Zhu tidak akan membantunya."
"Bukankah KEDIAMAN Raja Xuan juga bersedia mengangkat selir. Posisi istri kedua dan ketiga masih kosong. Jika Raja Xuan menjadi Putra Mahkota, ini adlaah kesempatan yang baik untuk memasukkan putriku untuk menjadi salah satu istrinya." Gumam seorang menteri yang duduk di dekat meja Pei Qin Yang yang mendebarkan pembicaraan para pejabat istana ini.
Pada akhirnya pemikiran para pejabat masih sama. Mereka akan tetap mendukung siapa saja yang nanti naik tahta asalkan mereka dapat mendapatkan untung darinya.
Zhu Man Xie yang samar-samar mendengar pembicaraan mereka mencibir di dalam hati. Mereka harus melihat siapa yang lebih berpotensi sekarang dan lihat apa yang akan mereka lakukan. Lalu ia menoleh dan melihat Pei Qin Yang yang sedang berbicara dengan para menteri. Ia berharap suami yang dinikahinya benar-benar menepati kata-katanya untuk berusaha mendapatkan posisi putra mahkota. Tapi mengenai mengangkat selir, ia memiliki pengaturannya sendiri.
Sedangkan Pei Zhang Xi yang meskipun terlihat sangat tenang saat ia terus menyuapi Lu Jing Yu, ia masih mendengar pembicaraan semua orang. Pei Zhang Xi menggertakkan giginya saat mendengar orang-orang mulai membanding-bandingkan gadis di keluarga mereka dengan Lu Jing Yu.
Perhatian Lu Jing Yu baru terlihat dari makanan di atas meja saat ia melihat bahwa ayahnya sudah sampai dia sedang berjalan ke arahnya dengan senyum tulus. Di belakangnya, tentu saja ada Lu Jing Yi dan Du Mei. Pasangan ibu dan anak ini tentu saja memainkan peran mereka dengan baik dengan menjadi ibu dan saudari yang perhatian. Mereka segera menunjukkan perhatiannya pada Lu Jing Yu. Mereka segera menghampiri Lu Jing Yu begitu mereka melihatnya.
"Yu'er ibu sangat merindukanmu. Beberapa kali ini udah Adikmu datang ke kediaman Rui untuk mengunjungimu tetapi bibi Wu selalu mengatakan bahwa kamu sedang istirahat. Ibu dan Adikmu sangat mencemaskan keadaanmu. Takutnya kandunganmu mengalami masalah lagi. Kamu baik-baik saja kan?" Du Mei menyentuh tangan Lu Jing Yu.
Du Mei sangat ahli dalam memainkan perannya. Wajahnya bahkan terlihat sangat khawatir dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Jika saat ini ia sedang berada di KEDIAMAN raja Rui, sudah dipastikan dia akan mencari baskom untuk muntah karna mual.
"Tidak apa-apa ibu. Aku hanya sering merasa lelah akhir-akhir ini. Jadi meminta bibi Wu untuk tidak menerima kunjungan."
"Tidak apa-apa. Yang terpenting saat ini ia udah sudah melihatmu baik-baik saja."
"Benar kak. Ibu sampai tidak berselera makan karena memikirkan kakak. Kakak hamil dan berada dipastikan Kediaman Raja Rui seorang diri. Kakak juga tidak memiliki pengalaman tentang hamil sebelumnya. Jadi ibu terus merasa khawatir."
Suara Du Mei tidak rendah karena wanita itu bahkan menguatkan suaranya. Beberapa orang yang ada dipastikan sekitar mereka mendengar dengan kelas perkataannya dan kembali merasa tidak puas pada Lu Jing Yu yang mereka anggap terlalu sombong.
Seorang wanita yang sedang hamil memang sering merasa lelah. Tetapi sampai menolak seorang ibu yang hendak mengunjunginya adalah perbuatan yang tercela. Tambah lagi poin negatif yang dikumpulkan Lu Jing Yu tanpa ia sadari.
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_106♡
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .