
Wajah Zhu Man Xi terdistorsi saat ia memegang perutnya yang sakit. Pagi ini saat ia bangun tidur, tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan rasa sakit saat ia keguguran saat itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang saat ini ia rasakan. Rasa nyeri yang menusuk di perutnya akan terasa setiap beberapa saat berlalu. Awalnya hanya rasa nyeri yang ringan. Lalu secara bertahap rasa nyeri itu bertambah dari waktu ke waktu.
Para pelayan yang melayani di sisinya sibuk sejak pagi. Mereka sangat ketakutan melihat Zhu Man Xie yang tampak menyeramkan saat ia sakit. Apalagi saat rasa sakit itu datang, mereka yang akan menjadi sasaran amarahnya. Selain para pelayan, tabib pribadi di kediaman Raja Yuan juga sibuk. Mereka sudah meresepkan obat tetapi tidak ada perubahan sama sekali.
Namun bukan karena mereka yang tidak dapat memerikan obat yang sesuai untuk Zhu Man Xie, tetapi itu karena Zhu Man Xie memang tidak jatuh sakit secara alami melainkan akibat obat yang dikonsumsinya.
Dua hari yang lalu Pei Zhang Xi memanggil tabib Fang. Tabib kediaman Raja Rui itu sudah lama tertarik pada berbagai jenis racun dan obat. Ia akan meneliti dan menciptakan berapa dari mereka sendiri. Dan saat Pei Zhang Xi memintanya untuk memberikan racun yang dapat membuat masalah pada perut,Tabib Fang sangat senang. Itu karena Tabib muda itu baru saja menyelesaikan racun penelitiannya itu. Ia belum sempat mencobanya pada manusia dan sekarang Raja Rui menawarkan orang untuk menjadi kelinci percobaan.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Pei Zhang Xi menyerahkan obat yang berupa bubuk itu kepada Mo Han yang bertugas untuk memikirkan cara bagaimana membuat obat itu sampai bersentuhan dengan Zhu Man Xie karena obat itu sudah akan bereaksi meskipun hanya dengan sedikit sentuhan dengan bubuk tersebut.
Malam harinya, Mo Han menyelinap ke dalam kamar Zhu Man Xie dan menaburkan obat itu di atas ranjang Zhu Man xie dengan hati-hati. Jangan sampai obat itu malah mengenainya dan membuat masalah untuknya. Setelah ia memastikan jika ranjang itu hanya ditempati oleh Zhu Man Xie malam itu, Mo Han segera kembali ke kediaman Raja Rui untuk melapor bahwa tugasnya selesai.
Pei Qin Yang menerima laporan bahwa Zhu Man Xie sakit dan mengirim tabib untuknya. Namun ia tidak mengunjungi istri sahnya itu. Ia tahu bahwa kemungkinan penyakit aneh yang diderita oleh Zhu Man Xie bukanlah penyakit yang biasa. Ia sudah menduga jika seseorang pasti telah merencanakan hal ini dan ia sudah menebak dengan tepat siapa pelakunya.
"Salam kakak ke empat." Pei Qin Yang dengan wajah yang tanpa ekspresi menghampiri Pei Zhang Xi yang akan masuk ke dalam aula utama istana untuk menghadiri pengadilan pagi. Pei Zhang Xi mengernyitkan alisnya. Tidak biasanya adiknya itu memanggilnya secara normal.
"Apa ada hal yang ingin kamu bicarakan?"
"Hemp... aku minta maaf kak."
"Kenapa tiba-tiba meminta maaf? Apa yang terjadi?"
"Meskipun aku tahu istriku sangat keterlaluan, aku ingin meminta maaf atas namanya. Aku mohon kakak untuk sedikit berbelas kasihan."
Pei Zhang Xi sedikit terkejab namun hanya sebentar. "Sepertinya kamu sudah tahu. Kamu tidak marah?"
Pei Qin Yang sedikit tersenyum namun senyumnya terlihat pahit. "Tidak. Jika aku yang ada di posisi kakak, aku juga tidak akan diam. Tetapi bagaimanapun Xie'er masihlah istriku dan juga wanita yang pernah aku cintai. Melihatnya menderita aku juga masih itu merasakan sakitnya."
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan membunuhnya dengan mudah. Namun, apa yang dilakukannya sangat keterlaluan kali ini. Jika tidak diberi pelajaran yang sesuai, aku takut di masa depan ia masih akan memiliki keberanian untuk melakukannya lagi dan lagi. Kali ini dia telah membuat istriku sampai melahirkan dengan tidak normal bahkan harus membelah perutnya untuk mengeluarkan bayi kami. Jika bukan karena tekad istriku yang kuat, aku takut aku sudah akan kehilangan keduanya. Jadi aku akan membiarkannya merasakan sedikit rasa sakit yang harus dialami oleh istriku yang telah diakibatkan olehnya meskipun itu masih tidak sebanding bagiku."
"Aku mengerti. Terima kasih atas belas kasih kakak telah mengampuni nyawanya." Pei Qin Yang sedikit membungkukkan tubuhnya sebelum ia berbalik dan berjalan cepat masuk ke dalam aula.
"Tidak apa. Aku melihat jika Yang'er sudah mengetahui semuanya. Tetapi ia masih belum bisa melepaskan segalanya."
"Benar. Lagipula kita semua tahu bahwa raja Yuan sejak dulu menyukai Permaisuri Yuan. Mengetahui hal seperti ini mengenai istrinya pasti tidaklah mudah."
Pei Zhang Xi pulang dengan langkah gontai. Ia masih memikirkan wajah Pei Qin Yang yang seperti tanpa nyawa sepanjang sidang. Awalnya ia berpikir jika Pei Qin Yang pasti tidak rela melihat istrinya yag kesakitan. Tetapi setelah ia memperhatikan dengan seksama ia baru menyadari bahwa Pei Qin Yang yang tampak tidak bernyawa bukan karena tidak tega melihat istrinya yang kesulitan melainkan seperti orang yang tengah kecewa. Seperti seluruh dunia yang menghianatinya.
Hari ini Pei Zhang Xi pulang sedikit lebih awal. Ia segera masuk ke dalam kamar untuk menemui Lu Jing Yu yang masih belum juga sadar. Ia ingin segera membagikan beban pikirannya pada istrinya agar ia bisa merasa lebih baik.
"Yu'er, hari ini aku melihat Qin Yang Yang sangat kesepian." Pei Zhang Xi berkata sambil memeluk tubuh Lu Jing Yu.
"Aku dan Qin Yang sejak dulu berhubungan baik meskipun ibu kami tidak memiliki hubungan yang baik. Dibandingkan dengan saudaraku yang lain, Qin Yang lah yang paling dekat denganku. Melihatnya seperti itu aku ikut prihatin. Lagipula mengetahui sesuatu yang tidak terduga dari pasangannya adalah hal yang sulit diterima."
"Haah. .. kalau dipikir-pikir aku juga mengalami hal yang sama. Tetapi aku beruntung karena aku memiliki kamu yang memberikan kejutan yang menakjubkan. Itu semua karena kamu hingga aku merasakan hidupnya begitu indah." Pei Zhang Xi memandangi wajah Lu Jing Yu yang tenang.
"Kapan kamu akan bangun?" Pei Zhang Xi mengulurkan tangannya dan membelai pipi Lu Jing Yu.
"Lihatlah dalam beneran hari saja pipiku yang mengemaskan sudah sangat tipis." Pada bulan-bulan memasuki trisemester awal, makan Lu Jing Yu sudah tidak lagi mengalami masalah. Membuat pipinya yang terlihat sangat kurus berangsur terisi. Tetapi dalam satu minggu tidak sadarkan diri, pipi itu sudah terlihat cekung lagi meskipun Pei Zhang Xi dan pelayan tetap mencoba memasukkan makanan pada Lu Jing Yu.
"Dan hidungmu ini. Aku selalu suka memencetnya. Seperti ini." Pei Zhang Xi mencubit hidung Lu Jing Yu saat ia berbicara.
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_129♡
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. ..