
Lu Jing Yu menyadari bahwa Pei Zhang Xi sedang menggodanya. Ia pun segera bangun namun ditahan di pinggangnya oleh Pei Zhang Xi.
"Yang Mulia, tolong lepaskan aku."
"Jawab dulu, apakah aku tampan? Apakah tubuhku bagus?" Pei Zhang Xi menatap wajah kemarahan Lu Jing Yu dengan senang.
"Aku akui Yang Mulia memang lumayan tampan. Dan tubuh Yang Mulia memang lumayan bagus. Tetapi aku pernah melihat seseorang yang lebih tampan dan memiliki otot ya gak lebih indah dari Yang Mulia." Lu Jing Yu berkata dengan ringan. Seperti itu memang benar-benar terjadi. Di dunia asalnya memang banyak pria tampan dan bertubuh bagus. Tetapi di dalam dua kehidupannya ini, Lu Jing Yu harus mengakui bahwa Pei Zhang Xi lah yang berada pada tingkat tertinggi.
Tapi, jika dipengaruhi hal itu pada Pei Zhang Xi saat ini, dia akan lebih diolok-olok oleh pria itu. Jadi dia hanya bisa menggertakkan giginya saat ia melawan kata hatinya.
Mendengar pengakuan dari Lu Jing Yu yang tampak nyata, Pei Zhang Xi mulai tenggelam. Ia berpikir keras siapa di dunia ini yang lebih tampan dari dirinya. Lalu saat ia mengingat jajaran saudara tirinya, mereka memang semuanya tampan. Kenapa ayah Kaisarnya mewariskan ketampanan pada lantaran lainnya juga?
"Yu...er..." Pei Zhang Xi ingin menanyakan pada Lu Jing Yu siapa yang lebih tampan darinya, tetapi saat ia asahan dari linglungnya, ia menyadari bahwa tangannya kosong.
Lu Jing Yu terkikik melihat ekspresi suram Pei Zhang Xi dan mengedipkan matanya sambil mengulurkan lidahnya mengejek.
"Lu...Jing...Yu...!" Pei Zhang Xi menekan semau kalimatnya. "Apa kamu senang sekarang?" Lanjut Pei Zhang Xi saat melihat Lu Jing Yu yang hanya terkikik mengejeknya.
"Yah. Aku cukup menikmatinya. Sekarang Yang Mulia tunggu di sini dulu. Aku akan melihat sampai di mana tabib Fang." Tanpa menunggu, Lu Jing Yu sudah melarikan diri dan keluar dari ruangan. Pei Zhang Xi meringis saat menegakkan tubuhnya yang kaku.
Tak lama kemudian tabib Lu Jing Yu kembali masuk bersama dengan tabib Fang yang terus menguap setiap langkahnya. Kemarin seharian ia meneliti racun baru yang berasal dari kerajaan Hua yang berada jauh dari kerajaan Shao. Sebagai seorang tabib yang sejak kecil terobsesi pada dunia medis, ia juga sangat tertarik pada dunia racun dan penawarnya. Ia tidak akan berhenti sebelum menemukan penawar racun tersebut. Dan baru pada hari lah ia menemukan penawaran racun dari Hua itu.
Jadi saat Xiao Bei mencarinya, ia masih tidur dengan nyenyak di kamarnya di kediaman Raja Rui. Ia segera memakai jubah luarnya dengan asal dan membawa kotak obatnya sebelum mengikuti Xiao Bei ke paviliun Huang Zuan, dia masih dalam keadaan setengah sadar.
Saat tabib Fang sampai di depan paviliun Huang Zuan, ia melihat Lu Jing Yu yang duduk di kursi batu. "Salam Permaisuri." Ucap Tabib Fang begitu ia sampai di depan Lu Jing Yu.
"Tidak perlu begitu formal. Punggung dan leher Yang Mulia sakit. Aku meminta tabib Fang untuk mengobatinya." Lu Jing Yu berbicara dengan santai. Membuat Tabib Fang mengeryit bingung. Bukankah hubungan mereka berdua semakin dekat selama beberapa hari terakhir, kenapa Permaisuri seperti tidak panik saat Yang Mulia sakit?
"Tentu Permaisuri, sudah menjadi tugas hamba untuk mengobati Yang Mulia."
"Heem. Mari masuk." Lu Jing Yu mengangguk sebelum ia berdiri dan meminta Tabib Fang untuk segera masuk ke dalam ruangan.
"Bukankah punggung dan leher Yang Mulia terluka? Kenapa malah tertidur terlentang? Seharusnya Yang Mulia tengkurap saja untuk sementara." Oceh Tabib Fang begitu ia masuk ke dalam ruangan dan mendapati Pei Zhang Xi yang merebahkan tubuhnya.
Mendengar suara Tabib Fang, Pei Zhang Xi perlahan membuka matanya yang lelah. "Aku tidak sakit. Punggungku hanya pegal."
"Pegal?"
"Meskipun begitu masih harus diperiksa. Yang Mulia membungkuk terlalu lama. Jangan sampai ada tulang dan sendi yang bergeser."
"Tidak perlu. Aku akan baikan setelah beristirahat. Lebih baik sekarang kamu temui Mo Han. Tadi Kasim Song memberikan ramuan dari putri raja Nan. Cepat periksa dan setelah memastikan bahwa itu baik untuk Yu'er, minta pelayan untuk segera menyiapkannya."
"Ramuan dari putri Raja Nan? Ramuan ini sangat sulit di dapat. Aku sudah lama ingin menelitinya. Aku akan segera pergi." Tabib Fang pergi senang cara cepat tidak seperti saat ia masuk. Jika saat ia masuk ia terus saja menguap, begitu ia mendengar mengenai Ramuan itu, rasa kantuknya menghilang seketika. Maka saat ia keluar dari ruangan, ia lebih cepat dari pada seseorang yang baru saja bertemu dengan hantu.
**
Chun Fei, Seorang gadis pelayan kediaman Rui sedang membantu koki memasak seperti biasanya. Ia sedang memasukkan makanan yang baru dimasak ke dalam mangkuk. Wajahnya tegang saat ia mengingat apa yang ada di balik lengan bajunya. Ia mulai bergerak dengan sangat hati-hati.
Satu minggu yang lalu saat ia dalam kebingungan setelah menerima surat dari keluarganya, seseorang datang menemuinya. Ia tidak melihat dengan jelas wajah orang itu karena wajahnya ditutupi oleh cadar. Tetapi ia tahu bahwa orang itu juga adalah seorang gadis dilihat dari fitur tubuh dan suaranya meski disamarkan.
Chun Fei tidak tahu bagaimana dia mengetahui bahwa ia sedang membutuhkan uang. Tetapi karena tawaran imbalan yang dia dapatkan sangat tinggi, ia pun menjadi tertarik. Namun saat mendengar bahwa orang itu memintanya untuk memasukkan serbuk obat ke dalam makanan atau minuman Permaisuri Rui, ia menjadi takut.
Meskipun ia hanyalah gadis pelayan, ia tahu betul. Bahwa apa yang akan diperbuatnya adalah untuk mencelakai Permaisuri Rui yang saat ini menjadi fokus di kediaman semenjak kehamilannya.
Karena itulah ia menolaknya. Tetapi saat mendengar jika ia menolak, orang itu mengancam bahwa seluruh keluarganya di kampung halamannya akan menerima konsekuensinya, seketika ia panik. Apalagi saat orang itu menyebutkan nama kampungnya bahkan seluruh nama keluarganya, iaengerti bahwa orang itu tidak main-main dengan ancamannya.
Tadi pagi saat ia keluar dari kediaman untuk berbelanja, orang itu menemuinya di gang sempit dan memberikan obat yang dikatakannya seminggu yang lalu. Chu Fei menerimanya dengan tangan gemetar.
"Jangan takut. Tidak akan ada yang tau selama tidak ada yang melihatnya. Bubuk ini akan segera menghilang begitu menyentuh sesuatu yang basah. Meskipun menggunakan jarum perak untuk memeriksanya, juga tidak akan terdeteksi karena obat ini bukanlah racun. Permaisuri juga tidak akan mati. Kamu pikirkan baik-baik. Jika kamu mau melakukannya, hidup keluargamu di kampung akan hidup sejahtera, tetapi jika kamu menolaknya, jangan lagi bermimpi untuk bertemu dengan mereka." Kata-kata orang itu sekali lagi menguatkan dirinya. Apalagi saat mengingat nasib keluarganya di kampung, ia tidak memiliki pilihan lain selain memberikan obat itu kepada Permaisuri Rui.
"Tolong maafkan aku karena aku tidak memiliki pilihan lain Permaisuri." Ucap Chun Fei sambil menuangkan bubuk ke dalam sup kurma merah yang selalu ada saat Lu Jing Yu makan.
~○○○~
♡Permaisuri Tidak Ingin Mati_60♡
*
*
*
Jangan lupa like, komentar, Vote, favorit dan share ya reader. .