
Ke Mei Jia tidak menyangka jika keadaan akan dengan cepat berbalik menyerangnya. Wanita itu sangat ingin berteriak di depan semua orang dan memarahi mereka semua. Hei, dialah yang sekarang ini sedang menangis dengan menyedihkan. Tidak bisakah kalian merasa kasihan padanya?
"Itu tidak benar sama sekali. Tolong jangan menyebarkan berita buruk mengenai Selir Ke. Selir Ke jelas-jelas dipilih sendiri oleh Selir Yao untuk menjadi istri Raja Wei dengan harapan akan segera memberikan keturunan laki-laki untuk Raja Wei. Jadi tolong jangan membuat rumor yang dapat merusak nama baik selir Ke. Hari ini Raja Wei meminta selir Ke untuk menemaninya datang ke istana untuk menghadiri upacara pemakaman Ibu Suri juga bukan tanpa alasan." Pelayan Niang segera maju dan berbicara untuk Ke Mei Jia. Namun ia juga tidak bisa membiarkan nama Pei Wu Shan menjadi tercemar jika semua orang mengetahui jika Pei Wu Shan lebih memilih seorang selir daripada istri sahnya sendiri, jadi dia harus mengarahkan semua orang untuk mengalihkan perhatian semua orang.
"Oh jadi seperti itu. Dapat dipahami jika selir Yao mengirimkan selir pada raja Wei. Raja Wei memang masih belum memiliki seorang putra untuk meneruskan keluarga nya." Mendengar penjelasan pelayan Niang, semua orang dengan segera berubah haluan.
Keadaan kembali terkendali. Ke Mei Jia melirik pelayan Niang dengan ucapan terima kasih. Dia dengan cepat mendapatkan kembali kepercayaan dirinya. Dia kembali mengangkat wajahnya dengan bangga.
"Tadi kamu bilang jika Raja Wei tidak mungkin memilih selir Ke menemaninya tanpa alasan. Seorang bisakah kamu memberitahu pada kami, alasan apa itu sebenarnya?" Lu Jing Yu yang sejak tadi hanya diam tiba-tiba berbicara. Matanya menyipit menatap Pelayan Niang.
Untuk menjawab pertanyaan Lu Jing Yu, Bibi pelayan Niang tidak bisa menjawab dengan sembarangan. Selama ini Pei Wu Shan sudah beberapa kali kehilangan calon anaknya. Dan baru saja kehilangan calon putranya. Jika kabar ini tersebar, dia takut akan banyak rumor buruk yang akan tersebar. Bisa saja semua orang menilai jika Pei Wu Shan memiliki takdir yang buruk yang bisa berimbas pada orang di sekitarnya. Sebagai bawahan dari selir Yao, dia tidak mungkin membiarkan rumor buruk menimpa Pei Wu Shan begitu saja.
Bibi pelayan Niang meremas tangannya di samping tubuhnya. Ia menundukkan kepalanya saat ia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir. Namun ia masih tidak dapat menemukan jawaban yang mungkin bisa menyelamatkan nama baik Pei Wu Shan ketika ia mendengar Ke Mei Jia dengan lantang menjatuhkan bom yang menghancurkan segalanya.
"Tentu saja itu karena Permaisuri Wei baru saja kehilangan calon bayi laki-laki nya. Permaisuri Wei merasa sangat sedih saat ini dan tidak dapat menghadiri upacara pemakaman Ibu Suri. Jangan kan mengahdiri upacara pemakaman, Permaisuri Wei bahkan tidak dapat menghibur dirinya sendiri." Ke Mei Jia menjawab dengan lirih namun sangat jelas. Untuk menyempurnakan aktingnya sebagai seorang wanita baik hati yang lemah lembut, air matanya mengalir dengan sangat alami. Hidungnya yang sudah memerah bertambah merah lagi. Kantung matanya seperti penuh dengan air mata.
"Apa?!" Lu Jing Yu dan Pei Shi Liang sangat terkejut mendengar berita itu dan berteriak bersamaan.
Bukan hanya Lu Jing Yu dan Pei Shi Liang saja yang terkejut, orang-orang yang sedang berkumpul untuk menikmati pertunjukan itu juga sangat terkejut. Mereka tidak pernah mendengar kabar kehamilan Yun Ying, namun mereka sudah dikejutkan oleh berita kegugurannya. Bagaimana mungkin mereka tidak terkejut?
Tidak menghabiskan lebih banyak waktu untuk berurusan dengan Ke Mei Jia, Lu Jing Yu dan Pei Shi Liang segera berbalik dan pergi dengan cepat. Meninggalkan kerumunan yang mulai tersadar dan juga pergi satu persatu. Tidak ada lagi yang bisa mereka lihat. Namun kabar yang mereka dapatkan kali ini adalah kabar besar.
Para laki-laki di dalam ruang kerja Kaisar tidak mengetahui keributan yang terjadi setelah mereka meninggalkan tempat. Pei Wu Shan juga tidak tahu bahwa kabar mengenai keguguran yang baru saja dialami Yun Ying yang belum sempat ia laporkan sudah tersebar di dalam dan di luar istana.
Kaisar Pei An Long, Pei Wu Shan, Pei Zhang Xi dan beberapa orang penting lainnya sedang membahas masalah penting yang sangat mendesak. Tadi malam, seorang tentara dari perbatasan datang dan mengirimkan kabar bahwa mereka melihat banyak pasukan yang bergerak menuju perbatasan. Melihat dari seragam para tentara yang datang, mereka tidak berasal dari satu Kekaisaran saja.
Saat terakhir kali mereka terlihat, pasukan mereka terdiri dari lima ratus pasukan berkuda, dua puluh kereta dan ribuan pasukan yang mengikuti mereka dengan berjalan kaki. Dibandingkan dengan pasukan yang dibawa oleh Pei Zhong Min untuk menyerang ibukota pada saat pemberontakan, kemampuan pasukan ini jelas berada beberapa level lebih tinggi karena mereka adalah tentara asli yang telah berlatih dan mengikuti perang.
Pada saat ini, ruang kerja Kaisar telah disulap menjadi markas inti dimana siasat perang dipersiapkan.
Meja kayu Kaisar yang mewah yang biasanya berada di tengah ruangan saat ini telah digeser ke samping dan digantikan dengan meja kayu besar dengan miniatur wilayah kekaisaran Shao yang terlihat dengan jelas.
Di dalam sebuah pasukan, akan ada pembagian pasukan menjadi beberapa bagian menurut senjata dan tugas mereka. Pasukan berkuda dengan menggunakan pedang menggunakan patung kuda berwarna coklat sedangkan pasukan berkuda yang menggunakan panah menggunakan patung kuda berwarna biru tua.
Banyaknya patung dan besar kecilnya ukuran Patung yang Dipasang juga mewakili jumlah pasukan itu sendiri. Biasanya, setiap satu patung baik patung kuda maupun segitiga mewakili seribu pasukan untuk patung berukuran besar dan seratus pasukan yang diwakili oleh satu buah patung kecil. Aturan berlaku pada warna segitiga yang ada. Warna Coklat mewakili pedang, warna biru mewakili panah. Selain itu ada juga patung dengan warna hijau yang menandakan jika mereka adalah tabib.
Di atas tembok perbatasan yang angkuh, beberapa segitiga kecil ditempatkan di sana. Sedangkan di balik tembok perbatasan, beberapa segitiga besar berjajar dengan rapi. Mereka terlihat jika mereka akan langsung berlari ketika mendapatkan sebuah perintah ssja. Beberapa segitiga lainnya berada di beberapa tempat yang diberi nama di dalam miniatur yang merupakan banyaknya pasukan yang berada di bawah pengawasan seseorang.
"Pasukan musuh memiliki jumlah yang sangat besar. Takutnya bahkan jika kita mengerahkan semua pasukan yang ada di Kekaisaran, mereka masih tidak dapat mengimbangi tentara musuh." Jenderal Yuan berbicara setelah ia selesai menganalisis kedaan.
"Tapi menurutku kita tidak bisa mengerahkan semua pasukan ke sana atau istana akan kosong. Dengan istana kosong akan memberikan kesempatan emas untuk para pemberontak untuk beraksi." Pei Qin Yang memberikan pendapatnya.
"Hamba setuju dengan perkataan Raja Yuan. Ibukota tidak boleh kosong sama sekali. Keamanan ibukota harus kita prioritaskan terlebih dahulu."
"Namun bagaimana kita bisa mensiasati menang dengan hanya menggunakan pasukan kecil?" Jenderal Lie mengangguk kan kepalanya.
*
*
*
🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_275🐣
Terima Kasih sudah mampir😘
Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏
Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉