Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 226


Setelah Pei Zhang Xi mengungkapkan pendapatnya, semua orang di dalam aula mulai memikirkannya. Mereka mulai berbisik dengan rekan satu tim mereka dan menimbang saran yang diajukan Pei Zhang Xi untuk mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi.


Kaisar Pei An Long sebagai orang yang bertugas untuk memutuskan segalanya, ia berpikir dengan keras untuk menemukan solusi yang paling sesuai saat ini. Ia merasa jika ia beruntung memiliki putra yang kompeten seperti Pei Zhang Xi dan semakin meyakinkan dirinya bahwa tidak salah telah memilihnya menjadi putra mahkota yang akan mewarisi tahtanya.


Dengan Pei Zhang Xi yang menjadi Kaisar di masa depan, ia yakin nasib kekaisaran akan semakin baik dan semakin baik lagi. Bisa saja ia memutuskan untuk langsung malaksanakan rencana Pei Zhang Xi, tetapi sebagai seorang Kaisar yang baik, ia masih harus menanyakan pendapat para Menterinya. Jika lebih dari lima puluh persen dari mereka yang setuju, maka rencana dapat segera dilaksanakan. Namun jika mereka tidak setuju, ia akan memiliki cara untuk memuat mereka setuju. Bagaimanapun ia adalah Kaisar yang dianggap sebagai utusan dari langit yang harus dipatuhi tanpa syarat. memiliki keistimewaan seperti itu akan sangat sayang jika tidak dapat digunakan untuk menunjukkan kekuasaannya.


"Solusi dari Yang Mulia Putra Mahkota tidak diragukan lagi adalah solusi terbaik. Saat ini solusi inilah yang paling tepat. Hamba setuju."


"Hamba juga setuju."


"Hamba setuju." satu persatu akhirnya setuju. kaisar Pei An Long tersenyum puas. Pei Zhang Xi telah membuktikan kemampuannya. Menunjukkan kemampuan tanpa menyinggung para menteri ini yang terkadang sangat cerewet. Memikirkan menghadapi mereka setiap hari membuatnya semakin tidak sabar untuk segera pensiun dan menyerahkan tahta pada Pei Zhang Xi sehingga ia bisa pergi ke gunung dengan para selirnya dan menikmati kehidupan yang damai di sana. Namun saat itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pei Zhang Xi maih sangat baru diangkat dan masih perlu digodok untuk menuduki tahta sehingga ia bisa berdiri dengan tegak dan kuat di sana.


Dengan segera sebuah tim dibentuk dengan diketuai langsung oleh Pei Zhang Xi. Bagaimanapun dialah yang memiliki usulan dan saat ini tepat untuknya menunjukkan kemampuan dan kelayakannya sebagai putra Mahkota yang dipilih.


***


Di saat Kaisar Pei An Long bersama dengan para menteri di aula sibuk membahas solusi untuk mengatasi banyaknya orang yang menghilang secara misterius, Ratu Zhu menghadapi masalah lain yang juga membuatnya merasa amarah setiap hari.


Hari ini pelayan memberithunya bahwa dua selir Kaisar bertengkar di kamar mereka. Sebenarnya pertengkaran seperti ini hampir setia hari terjadi dan dia akan berpura-pura tidak tahu atau hanya akan mengirim pelayan untuk menyampaika pesannya dan menghukum mreka yang terlibat dalam perselisihan dengan beberapa hukuman ringan. Tetapi kali ini pertengkaran cukup parah sehingga Ratu Zhu dengan enggan datang dan memeriksanya.


Saat tiba di tempat kejadian yang beada di sebuah gazebo di taman harem, Kedua selir itu sudah dipisahkan dan didudukkan dengan tenang di kursi batu di sana. Beberapa barang di sana berantakan dan belum sempat dibereskan. Sedangan Kedua selir yang biasanya tampak cantik dan anggun kali ini tampak lebih mirip seperti orang gila. Dengan rambut yang kusut seperti sarang ayam yang baru saja dihancurkan, pakaian indah yang mereka gunakan memiliki beberapa sobekan di beberapa bagian. Yang paling membuatnya mengangkat alisnya adalah saat ia melihat wajah kedua selir itu memiliki garis-garis merah di wajah mereka bekas cakaran yang parah. Ratu Zhu mulai berpikir jika luka di wajah mereka akan meninggalkan bekas luka dan merusak peampilan cantik mereka, kemungkinan besar mereka akan segera dipulangkan ke kediaman asal mereka karena mereka yang tidak layak melayani kaisar dengan wajah rusak mereka.


Ratu Zhu berjalan dengan cepat dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Berada di depan kedua selir yang segera berdiri saat menyadari bahwa Ratu Zhu telah tiba. Mereka sepertinya telah menyadari kesalahan dan saling menundukkan kepalanya. Mereka menyesal telah bertindak impulsif dan tidak sabaran. Namun menyesal saat ini juga tidak ada gunanya. Mereka tahu betul konsekuensi jika wajah mereka rusak. Jadi saat ini mereka berharap agar luka di wajah mereka hanyalah luka di permukaan yang akan hilang dengan perawatan selama beberapa waktu.


"Kami memberi hormat kepala Yang Mulia Ratu." Semua orang berdiri dan membungkukkan tubuh mereka dengan pantas.


"Katakan padaku apa yang terjadi di sini." Ratu Zhu berkata dengan malas. Memandang dua selir itu dengan malas. Ia ingin segera kembali dan mempersiapkan diri untuk memanjakan tubuhnya. Hari ini adalah awal bulan dan hanya dirinya lah yang berhak memiliki waktu Kaisar pada malam ini. Tidak ada yang boleh menghancurkan momennya.


"Ratu, kemarin Selir Yu tiba-tiba datang ke paviliun saya dan memprovokasi saya dengan sengaja. Saya sudah berusaha sabar menghadapinya. Tapi hari ini saya benar-benar tidak tahan lagi. Ketika saya sedang melukis pemandangan, dia datang dan menghancurkan lukisan yang baru saja saya buat. Itu buktinya ratu. Saya tidak berbohong." Seorang dari mereka dengan segera melapor dengan semangat. Dia menunjuk ke sebuah lukisan kaligrafi yang jatuh di tanah dengan noda tinta di atasnya. Dapat dilihat sebenarnya lukisan itu terlihat cukup bagus jika tidak ada noda hitam yang membercak di beberapa bagian. Sangat merusak pemandangan.


"Bukan seperti itu Ratu. Saya memang datang ke paviliun nya kemarin. Tapi itu hanya sebuah kunjungan biasa. Saya hanya ingin mencari teman ngobrol. Tidak memprovokasi seperti yang dikatakan selir Xiu. Dan lukisan itu juga bohong. Saya hanya berjalan-jalan di taman dan tidak sengaja melihat selir Xiu berada di sini dan menghampirinya untuk menyapa. Saya juga tidak tahu bagaimana lukisan itu terjatuh begitu saya sampai. Lalu dengan alasan bahwa saya telah merusak lukisannya, ia mulai menggila dan berteriak." Selir Yu membela diri.


"Itu bohong Ratu. Selir Xiu, katakan bahwa kamu memang sengaja membuang lukisan ku!" Selir Yu menatap Selir Xiu dengan marah.


"Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali. Bagaimana aku membuangnya? Lagipula tidak ada saksi di sekitar yang dapat membuktikan jika akulah yang merusak lukisanmu." Selir Xiu melipat tangannya menatap Sleir Yu dengan cibiran.


Melihat kedua wanita itu mulai berdebat lagi, Ratu Zhu memijit pelipisnya yang terasa berdenyut. Dia hanya ingin tenang hari ini apakah permintaan kecilnya begitu sulit diwujudkan?


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_226🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉