Permaisuri Tidak Ingin Mati

Permaisuri Tidak Ingin Mati
Bab 256. Kematian Ibu Suri


"Itu benar ibu. Putramu saling bertarung saat ini."


Bruk! Ibu Suri tidak bisa menerima berita ini dan jatuh pingsan di atas ranjangnya.


Mendengar suara keras dari kamar ibu Suri, pelayan tua yang menunggu di luar segera panik dan bertanya dengan cemas.


"Ibu Suri, apa apa? Apakah hamba bisa masuk?" Tanya pelayan tua dengan khawatir tepat di depan pintu.


Selir Qiao mendengar suara pelayan tua di luar dan panik. Namun ia telah mengunci pintu dari dalam sebelum ia menampakkan dirinya di depan ibu Suri. Dia melihat ibu Suri yang masih setengah sadar di atas ranjang dengan wajah pucat pasi menyeringai.


"Ibu, Beristirahat lah dengan tenang. Salahkan saja putramu yang tidak pernah bisa adil pada semua istrinya. Bahkan pada putranya, dia selalu menutup matanya dan hanya melihat putra yang dilahirkan oleh Selir Su. Bukankah kamu juga begitu ibu? Jadi nikmatilah pelayanan menantu ini." Selesai menyelesaikan kalimatnya, Selir Qiao mengulurkan tangannya dan mencekik ibu Suri.


"Apa yang terjadi di sini?" Lu Jing Yu yang baru saja sampai melihat bibi pelayan tua yang terlihat panik di depan kamar Ibu Suri dan terus memanggil ibu Suri tetapi tidak ada jawaban dari dalam.


Pelayan tua berbalik dan melihat Lu Jing Yu yang datang dan segera berlari mendekati Lu Jing Yu tanpa memperhatikan aturan-aturan yang selalu dipegangnya.


"Yang Mulia, hamba mendengar suara keras dari dalam. Tapi saat hamba bertanya, tidak ada jawaban dari dalam." Jawab pelayan tua itu dengan panik.


"Lalu kenapa tidak cepat masuk dan melihat? Bagaimana jik terjadi sesuatu pada nenek?"


"Hamba tidak berani Yang Mulia. Ibu Suri berpesan bahwa ia tidak ingin diganggu." Jawab Pelayan tua itu dengan gugup.


"Lalu apakah jika nenek jatuh dan tidak bisa berteriak, apa bibi juga masih akan diam di sini tanpa melakukan apapun karena tidak berani? Sudahlah. Biar aku saja masuk." Lu Jing Yu kehilangan kesabaran. Ia tidak habis pikir dengan pola pikir para pelayan di sini. Namun ia juga tidak bisa mengalahkan mereka begitu saja karena mereka hanya sangat menghormati dan mematuhi perintah majikan mereka.


"Maafkan hamba Yang Mulia. Hamba telah lalai menjaga ibu Suri."


Lu Jing Yu mengabaikan permintaan maaf pelayan tua itu dan melewatinya begitu saja saat ia hendak membuka pintu kamar ibu suri, namun pintu itu tidak bisa terbuka.


"Kenapa tidak bisa dibuka?" Gerutu Lu Jing Yu sambil berusaha membuka pintu, tetapi masih saja tidak berhasil.


"Yang Mulia, biar hamba mencoba." Chu Fei berkata sambil maju. Lu Jing Yu memberi jalan dengan bergeser sedikit. Namun setelah Chu Fei mencobanya, pintu itu juga masih tidak bisa terbuka.


"Yang Mulia, sepertinya pintu ini dikunci dari dalam." Chu Fei akhirnya memberikan kesimpulan.


"Apa!!" Lu Jing Yu dan pelayan tua berteriak kaget. Ibu Suri tidak pernah mengunci pintu dari dalam seperti ini sebelumnya. Semua pelayan yang melayani nya semua mengetahui hal ini dan mereka juga tidak kalah terkejut nya dengan Lu Jing Yu dan bibi pelayan tua.


"Quan Yuan cepat dobrak pintu ini." Lu Jing Yu adalah orang yang pertama kali sadar dan merespon dengan cepat. Ia segera menoleh dan memberi perintah pada Quan Yuan yang ada di belakangnya.


"Baik Yang Mulia." Quan Yuan menganggukkan kepala nya saat ia bergegas maju setelah Lu Jing Yu dan Chu Fei yang berada paling dekat dengan pintu kamar Ibu Suri menyingkir.


Pintu kamar Ibu Suri tidak mudah dibuka paksa. Tentu saja karena pintu itu terbuat dari kayu kualitas yang terbaik. Quan Yuan telah mengerahkan kekuatan nya namun masih belum berhasil membuk pintu itu.


Lu Jing Yu menatap dari samping dengan cemas. Ia segera menoleh dan memerintahkan Chu Fei untuk mencari bantuan. Dengan segera, Chu Fei menemukan beberapa penjaga yang berjaga di depan pintu dan membawanya masuk untuk membantu Quan Yuan.


Akhirnya, dengan tiga orang yang bersama-sama mendorong pintu dengan sekuat tenaga, pintu yabg Kokoh dan angkuh itu akhirnya berhasil dibuka paksa.


"Ha ha ha ha.... Karena dia akan membunuh putraku, aku sudah mengirim ibunya untuk menyambut putraku terlebih dahulu." Saat pintu terbuka, suara tawa gila Selir Qiao terdengar dari dalam. Lu Jing Yu dan yang lainnya tidak sempat menentukan sikap dan segera menerobos masuk.


Di atas ranjang, tubuh ibu suri terbaring dengan raut wajah yang terdistirsi. Matanya terbuka namun telah kehilangan cahayanya. Memar di lehernya begitu terlihat mencolok di antara kulitnya yang putih pucat. Seluruh wajahnya pucat pasi tanpa ada darah yang mewarnainya. Dalam sekali lihat, semua orang bahkan bisa memastikan apa yang terjadi pada ibu kandung Kaisar itu. Dia telah mati setelah dicekik oleh selir Qiao.


Pelakunya, Selir Qiao tertawa di depan nya. Tangannya di letakkan di depan dadanya dengan jelas. Ia menatap kedua tangan itu dengan kejam. Namun matanya yang terlihat gemetar jelas menunjukkan bahwa dia sendiri juga terkejut.


Selir Qiao baru sadar setelah melihat Ibu Suri dan pelayan tua sedang berjalan-jalan di taman. Melihat ibu Suri yang hidup dengan baik meski pun dia sudah tua, tiba-tiba saja rasa bencinya muncul di dalam hati kepada ibu mertuanya itu.


Entah muncul dari mana, ia ingin melampiaskan kebenciannya pada semua orang dan orang yang ada di depan matanya saat ini adalah Ibu Suri. Sungguh kebetulan. Saat dia mengingat apa yang mungkin terjadi pada putranya, ia menjadi sangat marah. Kaisar tidak akan mengampuni segala bentuk penghianat an meskipun itu adalah putranya sendiri.


Merenungi nasib putranya, ia memiliki ide yang gila yang tidak pernah terlintas di otak nya sebelumnya. Menurutnya, orang yang paling bersalah yang mendorongnya pasa kondisinya sekarang ini tidak lain dan tidak bukan adalah Kaisar Pei An Long, suaminya sendiri.


Jika Kaisar memperlakukan semua istirnya sama rata, jika Kaisar memperlakukan putranya tanpa pilih kasih, jika kaisar memberikan hak pada putranya sebagai pangeran pertama sebagai Putra Mahkota, semua ini tidak akan terjadi. Putranya tidak akan datang dengan ide untuk memberontak. Dan dia tidak akan menghadapi pilihan yang sulit antara cintanya pada sang suami atau cintanya terhadap putranya. Semua ini salah Kaisar.


Dan karena semua ini adalah salah Kaisar, dia, sebagai orang yang bersalah tidak bisa dibiarkan hidup bahagia saat dirinya dipaksa jatuh ke posisi paling rendah. Jika dirinya akan mati pada akhirnya, ia tidak akan mati sendirian dengan beban di dalam hatinya. Dengan keluhan yang ia simpan di dalam hati sampai ia mati menderita dalam kedinginan. Ia akan menarik Kaisar yang jahat itu ke dalam kegelapan bersamanya. Tidak apa jika dia tidak mati, asalkan bisa membuatnya tersiksa sepanjang hidupnya, itu sama artinya dengan membunuhnya.


Lu Jing Yu menerobos masuk melewati Selir Qiao dan segera memeriksa denyut nadi ibu Suri. Ibu Suri telah tiada dan tidak ada yang bisa ia lakukan untuk membantunya. Ia menutup mata Ibu Suri yang terbuka dengan tangannya sambil menggelengkan kepalanya saat ia mendesah menatap pelayan tua dan pelayan lainnya yang langsung menangis histeris.


Lu Jing Yu mengingat pelaku pembunuh Ibu suri dan berbalik. Menatap Selir Qiao dengan raut wajah yang campur aduk.


"Selir Qiao apa yang kamu lakukan pada nenek?" Lu Jing Yu menatap selir Qiao meminta penjelasan.


"Apa Yang Mulia Putri Mahkota kita ini buta atau bodoh? Aku membunuhnya tentu saja." Selir Qiao menurunkan tangannya saat menatap Lu Jing Yu dengan penuh kebencian. Semua ini juga karena wanita ini. Jika dia tidak membantu Pei Zhang Xi mendapatkan hati Rakyat dan memberikan poin tambahan padanya, Pei Zhang Xi tidak akan sepadan jika dibandingkan dengan putranya.


"Selir Qiao, kenapa kamu melakukan itu?"


"Kenapa? Tentu saja itu balasan yang sepadan." Jawab Selir Qiao acuh.


"Kamu gila Selir Qiao."


"Ya. Aku memang gila. Aku gila. Ha ha ha ha!" Selir Qiao sama sekali tidak merasa bersalah. Dia tertawa terbahak-bahak.


"Penjaga, tangkap selir Qiao sekarang. Dia telah membunuh ibu suri." Lu Jing Yu berteriak saat ia melirik Quan Yuan dan penjaga lain yang menunggu di samping.


Namun sayangnya, selir Qiao berada di dekat Lu Jing Yu dan dengan cepat meraih Lu Jing Yu dengan mudah. Mencabut hiasan rambut perak dari rambutnya dan mengarahkannya ke arah leher Lu Jing Yu yang halus. Dengan gerakan ringan, ujung hiasan itu menggores kulit leher dan darah segar berwarna merah cerah mengalir.


"Ish!" Lu Jing Yu meringis kesakitan. Semua orang panik melihat perkembangan yang tidak merek duga.


"Yang Mulia!"


*


*


*


🐣 Permaisuri Tidak Ingin Mati_256🐣


Terima Kasih sudah mampir😘


Mohon maaf jika menemukan banyak kesalahan baik dari segi pengetikan atau penggunaan bahasa. 🙏


Mohon dukungannya dengan cara Vote, Like, rate dan komentarnya 😉