
Risya dan Arga saling melepas pelukan dengan Arga yang memegang pipi Risya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Arga yang begitu mencemaskan istrinya itu.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa lama sekali datangnya," ucap Risya yang kembali memeluk Arga. Tidak tau apa yang terjadi Risya tampak sangat takut dan Arga hanya berusaha untuk menenangkannya.
"Risya!" tegur Vio yang sudah menghampiri Risya dan Arga. Risya dan Arga kembali saling melepas pelukan.
"Vio," sahut Risya.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Vio. Risya menggelengkan kepalanya.
"Aku bertemu Vio di jalan, dia menghampiriku dan mengatakan apa yang terjadi. Jika ada yang mengajakmu ke hotel mengatas namakan diriku. Dan kami langsung mencarimu," jelas Arga dengan singkat.
"Benar Risya. Karena aku mengingat pertemuan kita terakhir dan aku tidak mau terjadi sesuatu pada kamu. Makanya sama Arga langsung mencari kamu dan untung saja kami langsung bertemu kamu," tambah Vio.
"Makasih Vio kamu sudah membantu ku dan bawa Arga kemari," ucap Risya.
"Lalu siapa yang mengirimmu pesan itu?" tanya Arga.
Risya diam yang terlihat bingung yang tidak punya jawaban.
"Aku melihat Rachel di sini. Apa itu ada hubungannya ya. Apa aku bilang saja ya," batin Vio yang masih ragu untuk menyampaikan hal itu.
"Risya!" tegur Arga memegang punggung Risya.
"Arga sebaiknya kalian pulang saja. Kelihatan Risya tidak baik-baik aja. Dia terlihat bingung, kamu bawa pulang Risya saja dia harus tenang dulu," ucap Vio yang bisa melihat Risya memang tidak baik-baik saja.
"Baiklah kalau begitu," jawab Arga.
"Risya kita pulang ya," ucap Arga dengan lembut. Risya menganggukkan kepalanya dan menurut saja. Arga merangkul bahunya dan membawa Risya pergi dari tempat itu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa pada Risya dan Rachel dia ada di sini. Apa tujuannya dan dia juga tadi melihat Risya dan Arga. Apa maunya. Semoga saja Rachel juga tidak merencanakan hal yang buruk," batin Vio yang sebenarnya tidak tenang dan penuh dengan pemikiran.
Ya semua itu mengalir begitu saja dari ketulusan hatinya. Memang pada dasarnya Vio itu orang baik. Hanya saja dia selalu iri dengan kebahagiaan Risya yang hidupnya penuh dengan keberuntungan dan dirinya tidak.
Rasa irinya bertambah ketikan Risya pacaran dengan Samuel. Makanya Vio jadi ular jahat dan semakin lama mungkin Vio semakin sadar dan bahkan rasa khawatir pada Risya timbul begitu saja seiringnya berjalannya waktu.
Dan jika tidak ada dia tadi pasti Risya sudah entah kenapa-napa dan bisa dikatakan semua karena Vio yang langsung bergerak cepat dan Alhamdulillah bisa menemukan Risya.
*********
Malam hari sudah tiba dan sudah jam waktunya tidur juga. Risya dan Arga juga berada di dalam kamar di atas tempat tidur yang juga sedang beristirahat. Arga sudah tertidur dengan telentang dan Risya yang berbaring dengan gelisah di samping Arga.
Risya belum tidur dan bahkan terlihat sangat gelisah. Beberapa kali tubuhnya yang ke kiri, ke kanan, kekiri lagi, kanan lagi ya Risya tidak bisa tidur sampai tubuhnya sudah membelakangi Arga dan berusaha memejamkan matanya.
Namun tetap tidak bisa tertidur. Sampai pelukan di dapatkan dari belakang.
"Ada apa Risya kenapa belum tidur?" tanya Arga dengan suara seraknya yang memeluk Risya dengan erat.
"Aku belum mengantuk," jawab Risya.
"Kenapa?" tanya Arga yang mencium rambut Risya dan tiba-tiba Risya merasa risih dan bahkan seolah ingin menghindar. Arga juga mencium bagi Risya membuat Risya memejamkan matanya dan menggerakkan bahunya yang seolah menjauh dari Arga.
"Arga kalau kamu mau tidur, tidurlah," ucap Risya mengalihkan dan bergeser dari Arga. Arga bukannya tidur malah menelentangka tubuh Risya agar dia dapat melihat wajah Risya dengan jelas.
"Tadinya aku mengantuk. Tapi kamu mengganggu dan membuatku bangun. Jadi mana mungkin aku tidur lagi. Aku sudah tidak mengantuk," ucap Arga yang matanya dan mata Risya saling bertemu.
"Aku minta maaf sudah mengganggu mu," ucap Risya merasa bersalah.
"Kita sudah tidak bertemu selama 2 hari dan seharunya aku pergi 3 hari. Tapi aku sangat merindukanmu dan makanya aku ingin cepat-cepat pulang dan sekarang aku sudah ada di dekat kamu," ucap Arga dengan lembut yang terus membelai pipi Risya.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Arga.
"Iya aku merindukanmu," jawab Risya.
Arga tersenyum dan mencium kening Risya. Ternyata Arga juga ingin mencium bibir Risya. Namun tiba-tiba Risya memalingkan wajahnya kesamping yang seolah menolak ciuman Arga dan ahal itu membuat Arga heran.
Risya kembali meluruskan wajahnya dan bertatapan kembali dengan wajah Arga yang penuh tanya dengan penolakan Arga.
"Maaf Arga aku tadi hanya gugup," ucap Risya yang memberi alasan dan takut Arga marah.
"Kamu itu aneh Risya. Kamu seperti orang yang pertama kali saja melakukannya. Tapi itu sangat wajar jika kamu gugup. Karena kita baru bertemu kembali," ucap Arga yang tersenyum. Risya hanya tersenyum datar saja seperti ada yang di tutupinya dan wajahnya tidak bisa bohong. Jika dia tidak nyaman dengan Arga yang begitu dekat dengannya.
Dalam kegugupannya tiba-tiba saja Arga sudah mencium leher jenjangnya yang membuat Risya kaget dengan matanya yang terpejam dan memegang kuat seprai.
"Aku merindukan mu Risya!" bisik Arga di telinga Risya dan kembali menciumi leher Risya.
"Arga stop," ucap Risya yang tiba-tiba menahan dada bidang Arga dengan ke-2 tangannya.
"Ada apa kamu tidak ingin kita melakukannya?" tanya Arga heran.
"Aku_ aku, aku sedang tidak enak badan, lain kali saja, aku juga sudah mengantuk," ucap Risya dengan terbata-bata saat memberikan alasannya pada Arga dengan apa yang di rasakannya.
"Maaf Arga, tapi aku tidak bisa melakukannya," ucap Risya lagi. Jangan tanya wajah Arga dia pasti kecewa dengan penolakan Risya dengan alasan yang tidak masuk akal.
Tidak enak badan yang padahal Risya tidak apa-apa, mengantuk. Jelas-jelas Risya tidak bisa tidur.
"Ya sudah tidak apa-apa. Mungkin kamu juga lelah," ucap Arga yang tidak mempermasalahkan hal itu dan langsung kembali membaringkan diri di samping Risya dengan tergelatak memijat kepalanya dan Risya kembali memeringkan tubuhnya membelakangi Arga dan kembali berusaha untuk memejamkan matanya. Arga menoleh kesampingnya dan melihat Risya yang membelakanginya.
Sikap Risya yang aneh membuat Arga pasti bertanya-tanya. Tidak biasanya Risya risih kepadanya dan tadi memang jelas Arga merasakan Risya yang risih kepadanya Arga tidak tau alasan itu kenapa terjadi.
*********
Pagi-pagi sekali. Baik Risya dan Arga sama-sama siap-siap untuk kekantor seperti biasanya. Risya tidak banyak bicara dan hanya diam saja yang sedang memberi makeup di wajahnya.
Arga yang memakai sepatu menoleh ke arah Risya yang sama sekali tidak menegurnya sejak tadi. Tidak apa-apa memulai pertengkarana setiap hari yang mereka lakukan. Namun hari ini tidak ada sama sekali yang membuat Arga bingung.
Arga berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Risya di meja rias dengan membungkukkan tubuhnya memegang ke-2 bahu Risya.
"Kamu cantik sekali lagi ini," puji Arga yang melihat Risya di cermin. Risya hanya tersenyum datar yang lagi-lagi kelihatan tidak nyaman dengan Arga.
Dan saat Arga ingin mencium pipinya. Risya langsung menghindar dan langsung berdiri menjauh dari Arga.
"Kita sudah hampir telat, ayo kekantor!" ucap Risya mengambil tasnya dan Arga diam yang berdiri mengamati tingkah Risya.
"Kamu kenapa Risya?" tanya Arga dengan suara dinginnya yang membuat Risya yang tadi ingin keluar kamar jadi tidak jadi.
"Memang aku kenapa?" Risya balik bertanyalah.
"Kamu kelihatan menghindar apa ada yang salah?" tanya Arga.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Tidak ada yang salah, ayo kekantor," jawab Risya yang terlihat tenang dan langsung keluar dari kamar. Namun Arga masih penuh dengan pikiran yang bertanya-tanya apa yang terjadi kepada Risya sebenarnya.
Bersambung